
Tetapi saat dia mengingat perkataan sombong Fina tadi, wajahnya langsung suram. Dia merasa jijik sampai-sampai mau muntah. Bisa-bisanya dia bertemu dengan wanita seperti itu. Entah kemana perginya urat malu wanita itu, bertindak seolah-olah dunia selalu beredar hanya untuknya.
"Baru saja aku melihat sampah busuk di luar. Baunya sangat menyengat jadi aku minta tolong ke ibu agar sampahnya segera disingkirkan biar baunya enggak kemana-mana." Kata Arka samar, jelas berbohong.
Memang suasana hatinya sangat buruk pada awalnya. Tapi semua itu seolah sirna ketika melihat sikap manja istrinya yang lengket. Rasa-rasanya hati yang pahit dibanjiri segenggam madu, manis juga hangat yang sangat memuaskan jiwa.
Memiliki seorang istri memang sangat bermanfaat. Istri tidak hanya menjadi pendamping untuk beribadah tapi juga obat dan penawar untuk setiap luka. Arka untuk yang kesekian kalinya merasa sangat lega menjatuhkan pilihannya kepada Asri.
Bila itu Lisa ataupun Fina, hidupnya bukan tambah sehat tapi malah tambah sakit!
"Ah...maklum, mas. Kita sedang berada di desa. Apalagi kemarin ada acara besar makanya banyak sampai dimana-mana. Tapi setahuku semuanya langsung dibersihkan setelah selesai acara. Dan harusnya udah enggak ada sampah lagi hari ini, mas." Asri heran.
Dia anak desa dan mengenal baik kebiasaan di desa. Walaupun tidak maju dalam kebersihan tapi mereka masih tahu tidak baik membiarkan sampah berserakan, apalagi kalau sudah membuat acara besar, semua orang akan bergotong royong membersihkan tempat acara.
"Mungkin jumlahnya terlalu banyak sayang makanya enggak bisa langsung dibersihkan kemarin." Arka langsung membuat alasan yang asal-asalan.
__ADS_1
Asri tidak meragukan apa yang suaminya katakan. Dia juga berpikir mungkin saja kemarin terlalu banyak orang sehingga sampah ada dimana-mana dan tidak cukup waktu dibersihkan kemarin. Atau mungkin saja kemarin orang-orang terlalu capek makanya nggak sempat bersih-bersih. Asri tidak tahu karena dia tidak pernah melihat ke luar dari kemarin.
"Udah, udah, jangan terlalu dipikirin. Lagian itu cuma sampah kok, tidak memiliki arti apa-apa." Arka tidak mau melanjutkan topik pembicaraan ini lagi.
Alisnya berkerut jijik tidak senang.
Asri memperhatikan ekspresi buruk suaminya yang seolah sedang menahan muntahan dan berpikir bila suaminya benar-benar muak.
"Iya, mas. Kehidupan di desa memang tidak sebaik di kota, aku harap mas Arka bersabar untuk beberapa hari ke depan."
"Selama ada kamu, semuanya baik-baik saja." Kata Arka jujur.
Wajah Asri langsung memanas seiring rona merah mulai mengembang di pipinya.
"Mas Arka mulai lagi, deh. Um.." Asri memegang perutnya yang keroncongan.
__ADS_1
Dia lapar ingin makan sesuatu.
Arka merasa lucu. Tapi menyalahkan diri sendiri karena tidak menyiapkan sarapan untuk istrinya.
"Mau makan apa?" Tanyanya lembut, pura-pura tidak memperhatikan rasa malu di wajah istrinya yang manis.
Asri menghela nafas lega. Kemudian dia berpikir ingin makan apa hari ini.
"Mas, aku mau makan buah peach." Kata Asri dengan mulut berliur.
Membayangkannya saja sudah membuatnya ngiler.
Arka menahan nafas.
Di sini tidak ada toko buah, kalaupun ada itu cuma dagangan biasa dan tidak selengkap di supermarket. Masalahnya sekarang tempat ini tidak hanya tidak memiliki toko buah tapi juga tidak memiliki supermarket!
__ADS_1
Kemana dia pergi mencari buah ini?