Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 178


__ADS_3

Malam harinya Asri dibangunkan oleh rasa lapar di dalam perutnya. Tadinya dia sangat mengantuk dan langsung tidur setelah melaksanakan shalat tanpa sempat untuk memikirkan makanan. Namun sekarang perutnya tiba-tiba bergemuruh, memaksanya untuk tersadar dan segera mengisi perutnya yang sedang protes.


"Mas...mas Arka." Dia memanggil sang suami yang sedang terlelap di samping.


"Hem?" Arka adalah orang yang tidur ringan. Dia mudah dibangunkan dan memiliki tanggapan yang cepat.


"Aku lapar, mas." Ucapan Asri sembari mengusap perutnya yang datar dan baru-baru ini agak tegang karena suatu alasan yang tidak pasti.


Dia mengira itu bukan masalah besar. Malah dia pikir itu karena sebentar lagi dia akan menstruasi. Karena biasanya menjelang menstruasi, perut bagian bawahnya pasti akan keram dan nyeri.


"Kamu lapar ya, sayang?" Tanya Arka sembari mengusap kedua mata dan duduk di atas kasur.


Dia menyalakan ponsel di samping tempat tidur. Baru jam 1.38. Ini sudah dini hari dan waktu makan malam sudah lama berlalu.


"Iya, mas. Perut aku sakit." Arka tidak tahu apakah ini karena Asri baru bangun tidur atau masih mengantuk, karena nada suaranya tadi agak manja. Sangat sulit ditolak.

__ADS_1


"Sakitnya di mana? Kamu yakin perut kamu sakit karena lapar dan bukan karena ketidaknyamanan yang lain?" Arka bertanya khawatir.


Dia khawatir karena hari ini Asri lebih banyak tidur daripada bangun setelah sampai di sini. Bahkan saat dibangunkan untuk makan malam, Asri menolak makan dan lebih suka melanjutkan tidurnya. Arka khawatir, tapi tidak bisa memaksa Asri.


"Aku lapar, mas. Beneran lapar. Aku mau makan nasi...em, telur ceplok buatan mas Arka paling enak. Aku mau makan itu...mas Arka buatin, yah?" Nada manjanya semakin mendesak dan membuat hati Arka tergelitik.


Hanya saja..


"Ini sudah tengah malam, sayang. Aku nggak mungkin masak tengah malam, takutnya nanti aku bisa membangunkan semua orang di rumah. Kamu makan apa yang ada di dapur aja, ya? Ibu bilang kalau kamu mau makan, makanannya sudah ada di dapur dan hanya perlu di angetin aja." Arka mencoba menawar.


Asri cemberut. Dia merasa kalau Arka terlalu banyak membuat alasan. Padahal permintaannya kan sepele. Hanya diminta untuk membuatkan telur ceplok. Masaknya pun gampang. Tapi kenapa Arka menolak untuk mengabulkan permintaannya?


"Kalau begitu, aku tidak mau makan. Aku akan tidur!" Asri merebahkan dirinya kembali di atas kasur.


Dia menarik selimut dan akan menutupi kepala, tapi tangan besar Arka dari dulu menghentikan. Arka menghela nafas panjang coba bersabar dengan permintaan sang istri.

__ADS_1


Dia tidak mungkin membiarkan istrinya tidur dengan keadaan perut lapar. Apalagi kondisi sedang tidak fit.


"Okay, aku akan masakin kamu telur ceplok. Selain ini kamu butuh apa lagi?" Tanyanya dengan nada perhatian.


Asri merasa senang. Suasana hatinya yang tadi down kini perlahan naik.


"Enggak ada, mas. Cukup ini aja."


"Yakin?" Dia harap istrinya tidak meminta yang aneh-aneh lagi. Tapi ngomong-ngomong hatinya ikut senang melihat istrinya tersenyum kembali.


Asri mengangguk yakin.


"Aku temani ke dapur ya, mas. Aku bosan tiduran terus."


Arka geli mendengarnya. Memangnya siapa tadi yang ingin tidur kembali gara-gara ditolak?

__ADS_1


"Okay, ayo pergi."


__ADS_2