Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 96


__ADS_3

Dan kedua sahabatnya ini tidak diizinkan mendapatkan kado itu karena mereka tidak masuk dalam kualifikasi yang Allah berikan.


"Kado istimewa, hem, aku tebak ini adalah pengalaman pertama kalian setelah pernikahan?" Ustad Azam murni hanya asal menebak saja, dia berniat menjadikannya sebagai bahan bercandaan.


Namun, siapa sangka jika reaksi Arka justru sangat berlebihan. Arka menatap tidak percaya kepada Ustad Azam dengan mata menyipit, dia bertanya-tanya apakah Ustad Azam pernah mengintip aktivitas menggairahkannya dengan sang istri hari ini?


Tidak- tunggu-tunggu!


Arka yakin bila kedap suara setiap kamar sangat tinggi dan ia juga yakin bila sebelum menghukum istrinya, Arka terlebih dahulu mengunci pintu kamar mereka dan membuangnya ke sembarang tempat agar istrinya tidak bisa melarikan diri!


Nah,


"Kamu tahu darimana?" Tanya Arka dengan kecurigaan tingkat tinggi.


"Kamu serius ini baru pengalaman pertama?"


"Eh, Paman serius?"


Ustad Azam dan Ustad Vano kompak bertanya dengan kejutan yang tidak bisa disembunyikan di wajah mereka. 

__ADS_1


Tidak menyangka adalah kata pertama yang berdengung di dalam kepala mereka. Pasalnya setiap kali berkumpul bertiga seperti ini tanpa para istri, Arka selalu membual berbagai macam tentang kelebihan Asri. Entah itu masalah ranjang ataupun dapur, Arka selalu mengatakan bila istrinya adalah yang nomor satu- meskipun faktanya setiap suami akan meninggi-ninggikan istri di depan siapapun tidak terkecuali Ustad Vano dan Ustad Azam.


Mereka berdua tentu saja tidak ingin kalah.


"Ekhem, ini adalah pengalaman pertama kami selama menikah. Kalian seharusnya tahu jika yang Asri sukai adalah Kevin dan bukan diriku, sementara aku sendiri saat itu masih terjerat dengan Lisa sehingga kami memutuskan untuk saling mengenal dulu sebelum melangkah lebih jauh." Kata Arka menjelaskan situasinya kepada mereka.


Ini murni karena dia dan Asri ingin saling mengenal secara perlahan-lahan agar mereka tidak terjebak oleh masa lalu lagi.


"Sebenarnya ini sangat mengejutkan tapi aku lega mendengar bagaimana Paman menyikapi masalah ini." Kata Ustad Vano tidak mengejek keterlambatan Pamannya dalam urusan yang sangat penting.


Dia lega ketika mengetahui Arka sangat menghargai pernikahan ini maupun Asri. Bukannya kembali kepada cinta masa lalunya yang masih belum terlupakan, tapi ia malah memilih mempertahankan pernikahan ini. Tidak hanya mempertahankannya tapi Arka juga memberikan kesempatan untuk hati masing-masing mengambil nafas, membersihkan serpihan masa lalu dan mulai menyediakan tempat terbaik untuk cinta yang baru.


"Maka kecemasan istriku sia-sia terhadap pernikahan kalian." Ujar Ustad Azam ikut merasa lega.


Setelah mendengar kabar ini istrinya pasti sangat senang dan tidak resah lagi sehingga malam-malam mereka bisa dilalui dengan menyenangkan seperti waktu-waktu tertentu.


"Namun, jika ini adalah pengalaman pertama kalian lalu semua cerita-cerita yang kamu ceritakan selama ini hanyalah omong kosong belaka, kan? Selama ini kamu membohongi kami berdua." Ustad Azam mengingat setiap kata-kata pujian yang Arka lontarkan terhadap Asri, terdengar nyata tapi nyatanya itu semua hanyalah halusinasi saja.


"Ekhem, saat itu memang bohong tapi percayalah setelah hari ini aku berpikir bila istriku lebih dari itu." Kata Arka tidak mau menerima kekalahan.

__ADS_1


Ustad Azam menyeringai,"Istriku jauh lebih baik, dia sangat tangguh menghadapi ku!"


Mereka berdua berdebat, berusaha menempatkan istri masing-masing di tempat yang terdepan. Namun berbeda dengan Ustad Vano, malam ini ia tidak seaktif ketika mereka bertiga berkumpul. Setiap detik yang Ustad Vano lalui diisi dengan zikir-zikir tulus di dalam hatinya seraya melangitkan sebuah harapan, harapan yang telah mengisi doa-doa dalam sujud di sepertiga malamnya.


Dia tidak pernah menyerah dan dia mempercayai bahwa Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang berserah diri ataupun berdoa kepada-Nya.


Janji Allah itu pasti, entah di dunia maupun di akhirat dan setiap hamba yang beriman tidak akan pernah meragukannya.


...🍃🍃🍃...


Sementara itu di dalam dapur Ai, Asri, dan Mega sedang berkumpul di atas meja dapur. Mereka telah membagi tugas masing-masing agar makan malam bisa segera disajikan untuk para suami di luar.


"Asri kenapa jalan mu hari ini agak aneh? Apa yang sedang terjadi? Apa Paman melakukan tindak kekerasan kepadamu?" Mega adalah orang pertama yang menyadari bila cara berjalan Asri agak aneh- sementara Ai tidak sempat melihatnya karena ia datang terlambat.


Begitu masuk ke dalam dapur ia telah mendapati kedua sahabatnya telah mulai memasak.


"Tidak...tidak, Mas Arka tidak pernah melakukan kekerasan kepadaku." Alih-alih berwarna pucat, wajah Asri malah mengembangkan rona merah di kedua pipinya.


Tentu saja ini mengundang keheranan untuk Ai dan Mega, mereka berdua mulai menerka-nerka apa yang terjadi antara Asri dan Arka selama di dalam kamar tadi.

__ADS_1


"Jika ia tidak melakukan kekerasan lalu kenapa cara berjalan mu aneh dan lagi, kenapa saat sholat magrib kamu tidak turun ke bawah untuk sholat berjamaah bersama?" Mega terus saja mengintrogasi Asri agar ia mau mengaku.


__ADS_2