Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 183


__ADS_3

Fina menatap kosong Arka. Dia sangat terkejut dengan pertanyaan lugas Arka.


Tersenyum sinis,"Aku bersedia menikahi Asri karena dari awal sudah tertarik kepadanya. Tapi jika posisi itu digantikan kamu, maka aku lebih memilih menonton saja. Ngomong-ngomong awasi mulut mu mulai sekarang dan jangan pernah berpikir mengganggu istriku. Jika kamu sampai berulah lagi maka jangan salahkan aku membuat hidupmu lebih sulit dari apa yang kamu bayangkan." Setelah mengatakan itu, dia mengangguk sopan kepada Ibu dan berjalan melewati mereka berdua masuk ke dalam dapur untuk mengambil air.


Setelah mengambil air, dia kembali ke kamarnya tanpa mengatakan sepatah katapun kepada mereka berdua. Sikapnya yang dingin dan acuh tak acuh telah menjelaskan semuanya bahwa Arka sangat marah sekarang.


Melihat kepergian menantu emasnya, Ibu menatap Fina tajam dan langsung pergi tanpa berbicara.


Wajah Fina sangat pucat sekarang. Tubuhnya lemas memikirkan apa yang dikatakan Arka tadi. Baru saja Arka mengancamnya tepat di depan ibu. Ini merupakan sebuah tamparan wajah untuk Fina. Dia malu, sungguh sangat malu sampai-sampai dia tidak tahu harus menyembunyikan wajahnya dimana.


"Apa yang baru saja terjadi?" Fina menyentuh jantungnya yang berdebar kencang merasa takut.


Selain takut dia juga merasa patah hati sebab kata-kata Arka sangat kejam dan tidak memberikan belas kasih sedikitpun. Mau bagaimana lagi, Arka sudah berada di titik rasa muak nya melihat Fina. Di keluarga istrinya, ada Fina yang membuatnya muak dan di kota, ada Lisa yang membuatnya merasa mual.


Ini sangat menjengkelkan. Padahal Arka hanya ingin menghabiskan waktu santai bersama istrinya. Tapi mengapa begitu sulit?

__ADS_1


"Keterlaluan!" Merasa malu, dia langsung pergi ke kamarnya untuk bersembunyi.


Tak lama kemudian pintu kamar dibuka. Doni masuk ke dalam kamar dengan sikap santai tanpa memperdulikan ekspresi suram istrinya.


"Ngapain kamu masuk ke dalam?" Fina tidak senang.


Doni menatapnya aneh.


"Ini adalah kamarku, jadi terserah aku mau masuk atau enggak." Katanya tidak habis pikir.


"Oh, kamu ingin mengusirku?" Tanyanya tak masuk akal.


Doni menatapnya heran seolah sedang melihat badut atraksi.


"Jangan membuat masalah. Aku tidak pernah mengusir kamu walaupun aku sangat ingin. Tapi jika kamu mau pergi dari rumah ini maka silakan, aku tidak akan keberatan. Toh, itulah yang kamu inginkan. Tapi sebelum itu apakah kamu yakin Bapak dan Ibu masih menerima kamu?" Kata-kata Doni langsung menusuk tepat ditempat terlemah Fina.

__ADS_1


Tentu saja Bapak dan Ibu tidak akan pernah mau menerimanya lagi. Mau kabur tapi kabur kemana?


Dia tak punya uang dan tempat tinggal, hidupnya akan sengsara jika dia nekat kabur.


"Omong kosong apa yang kamu bicarakan?! Dari awal pernikahan ini harusnya tidak terjadi! Aku tidak sudi menikah dengan kamu, laki-laki miskin!" Kata Fina terbawa emosi.


Bercita-cita nikah dengan orang kaya raya di kota malah terjebak di desa dengan sepupunya yang miskin!


Fina merasa bahwa dia sangat sial!


Doni tiba-tiba tertawa mendengarnya.


"Kamu kira aku juga sudi? Daripada menikah dengan mu yang tidak normal aku lebih baik menikah dengan Asri jika diberi pilihan. Dia lebih baik dan memiliki akhlak yang baik, sedangkan kamu? Percuma sekolah jauh-jauh kalau ujung-ujungnya kehilangan otak! Sungguh, kalau bukan perintah orang tua, aku tidak akan mau menambah masalah ke dalam hidupku, apalagi kamu adalah sumber masalah!" Balas Doni membuat Fina semakin malu.


Fina rasanya semakin gila mendengar suaminya membandingkan dia dengan kakaknya, Asri!

__ADS_1


Dia sangat kesal dan marah hingga membuatnya mulai menangis sedih. Tak ada yang benar-benar menginginkannya, bahkan suaminya pun tidak menginginkannya!


__ADS_2