Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
46. Asing


__ADS_3

Pukul 3 dini hari, Ai, Mega, maupun Asri tidak keluar dari kamar tamu untuk melaksanakan sholat malam berjamaah. Mungkin bagi Mega tidak masalah untuk keluar karena ia sedang berhalangan, tapi tidak untuk Ai dan Asri. Mereka tidak sedang berhalangan namun kenapa tidak kunjung keluar dari kamar tamu?


Ini tidak mungkin bukan jika mereka berdua lebih memilih sholat di dalam kamar tamu?


Ustad Vano dan Arka kewalahan, mereka sudah berjalan mondar-mandir di depan kamar tamu sambil sesekali berbicara dengan volume agak tinggi. Berharap bila Ai dan Asri mendengar apa yang mereka bicarakan.


Akan tetapi hasilnya nihil, Ai dan Asri turun keluar ataupun memberikan respon apa-apa dari dalam. Mengalah, mereka tidak bisa bertindak kekanak-kanakan lagi karena takut waktu sholat malam terbuang banyak.


Tok


Tok


Tok


"Ai?" Panggil Ustad Vano lembut.


Tidak menunggu lama, pintu kamar akhirnya dibuka oleh wajah cantik Ai yang telah basah oleh air wudhu dan menggunakan mukena putih.


"Iya, Mas?" Ai bertanya sopan, mata persik nya merendah untuk menghindari mata almond milik suaminya.


"Aku pikir kamu dan Asri belum bangun." Kata Ustad Vano sembari tersenyum tipis di wajahnya.


Ai tersenyum tipis,"Kami sudah bangun, Mas, dan baru menyelesaikan sholat malam di dalam."

__ADS_1


Mereka sudah bangun dari satu jam yang lalu dan segera membersihkan diri di dalam kamar mandi sebelum melaksanakan sholat malam secara terpisah. Ai dan Asri tidak berencana sholat di luar sekalipun mereka mendengar suara di luar, yah suara-suara Ustad Vano dan Arka yang berbicara dengan volume agak keras.


Mereka sengaja tidak keluar karena di dalam hati mereka memiliki alasan masing-masing.


"Eh, kamu dan Asri sudah sholat malam?" Suara terkejut Arka muncul dari samping.


Arka sedari tadi berdiri di sisi tembok, mendengarkan percakapan Ai dan keponakannya dengan diam membisu sambil berharap mereka segera melaksanakan sholat malam.


Tapi harapannya segera hancur ketika mendengar jawaban Ai tadi. Jujur, ia tidak terima bila Asri telah melakukan sholat malam tanpa dirinya.


Jelas, Arka masih belum mencintai Asri namun ia bersungguh-sungguh saat mengatakan bila pernikahan ini digunakan sebagai ajang untuk melupakan masa lalu dan memulai lembaran baru. Dia sungguh serius, dia sudah berusaha bersikap selayaknya seorang suami di saat Asri tidak pernah luntur memberikannya pelayanan terbaik sebagai istri yang baik.


"Alhamdulillah, kami baru saja menyelesaikan sholat malam, Paman." Jawab Ai sopan.


"Lalu kenapa kamu tidak keluar untuk sholat-"


"Jangan menunda waktu lalu, kita harus segera sholat malam agar bisa meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur'an." Suara suram Ustad Azam menarik perhatian Ustad Vano dan Arka.


Mereka awalnya tidak mau pergi dan ingin terus mengintegrasi Ai, akan tetapi sepertinya mereka tidak bisa melakukan sekarang karena Ustad Azam terus saja mendesak pergi.


Mengalah, mereka akhirnya pergi melaksanakan sholat malam bertiga saja di dalam musholla pribadi. Melaksanakan kegiatan rutin para penghuni surga itu dengan hati merendah yang sarat akan rasa penghambaan. Segala pikiran rumit di hati masing-masing di samping kan terlebih dahulu, mengutamakan rasa syukur di hati sembari berdoa Allah ridho mempererat hubungan mereka dengan istri masing-masing. Mereka tidak mau memiliki sebuah pertikaian dengan istri masing-masing, mereka ingin hidup damai seperti hari-hari sebelumnya. Membuat mereka tertawa dan tersenyum tanpa perlu bersedih lagi.


2 jam kemudian, sholat subuh telah usai dilaksanakan. Mereka bertiga segera keluar dari masjid secara bahu membahu. Tidak jarang, keberadaan mereka bertiga seringkali disoroti oleh para tetangga yang telah bangun pagi-pagi untuk sekedar olahraga atau mulai bersih-bersih.

__ADS_1


Mereka berdecak kagum melihat betapa tampannya Ustad Vano, Ustad Azam, dan Arka. Namun sayang sekali, para laki-laki tampan ini telah memiliki istri.


"Assalamualaikum?" Arka adalah orang pertama yang membuka pintu.


"Waalaikumussalam, Mas Arka." Asri menyambut salam suaminya dengan sikap ceria seperti hari-hari biasanya.


Entah apa yang istrinya bicarakan semalam dengan Ai dan Mega sehingga membuat sikap istrinya kembali ceria seperti semula.


"Kamu sudah sholat subuh?" Tanya Arka dengan suasana hati menghangat kembali.


Ia sungguh takjub karena dalam waktu yang sangat singkat Allah langsung mengabulkan doanya.


"Alhamdulillah sudah, Mas." Jawab Asri sambil mengambil sajadah dan peci dari Arka.


"Aku dan yang lain juga sudah menyiapkan sarapan untuk kalian, menu nya masih seperti yang kemarin, gak apa-apa'kan, Mas?" Asri bertanya lembut, menatap wajah tampan suaminya dengan senyum lebar dan tekad yang kuat.


Di dalam hati ia terus menegaskan bahwa Arka adalah miliknya terlepas dari perasaan yang masih belum menumbuhkan- ah, sepertinya.. sepertinya...


Asri tidak bisa memikirkannya lagi!


"Gak apa-apa, kamu bisa belajar memasak secara perlahan." Katanya tidak mempermasalahkannya.


Canggung, Arka membawa tangannya untuk menyentuh pinggang ramping Asri, meraihnya dalam satu gerakan sembari bertindak tenang- hanya Allah yang tahu betapa berdegup kencang hatinya saat ini.

__ADS_1


"Mas gak mau ke ruang makan dulu?" Tanya Asri dengan kedua pipi yang telah memerah terang.


__ADS_2