
Melihat ini dia menjadi gelisah dan panik. Kedua tangannya mulai berkeringat dingin menahan takut.
"Masalah ini akan kita bicarakan dengan keluarga di rumah jadi untuk saat ini kita simpan dulu." Artinya Paman Sahid juga memiliki ide untuk membawa Ai pulang ke rumah.
"Tunggu... tunggu, ini hanya salah paham-"
"Salah paham?" Potong Bibi Sifa dingin,"Apa kamu pikir telingaku tuli, hah? Kemana rasa angkuh kalian saat membicarakan putri kami tadi? Seakan-akan kami akan diam saja tanpa berbuat apa-apa melihat kalian merusak rumah tangga putri kami. Ingat, masalah ini tidak akan berakhir begitu saja. Kami tidak akan tinggal diam melihat upaya kalian menyakiti putri kami. Ayo, Mas. Aku tidak ingin berlama-lama dengan orang-orang bermuka dua ini." Katanya seraya menarik tangan Paman Sahid pergi menjauh dari mereka bertiga.
Jauh di dalam hatinya Bibi Sifa tahu bahwa tidak mudah untuk membawa Ai pulang ke rumah karena keponakan yang sudah dia anggap sebagai putri sendiri itu kini telah menikah dan memiliki suami.
Dia tidak mungkin ikut campur di dalam pernikahan Ai dan Ustad Vano jadi sangat kecil kemungkinan bisa membawa Ai pulang. Tapi masalah ini sekarang tidak penting karena dia sudah sangat puas melihat ekspresi panik Bibi Mei dan kedua putrinya.
Hem, memangnya siapa yang meminta mereka untuk menggertak Ai.
Bibi Sifa dan Paman Sahid lalu datang menghampiri Ayah Ali yang sedang berbincang-bincang dengan Ustad Vano juga yang lainnya. Membicarakan bisnis dan apapun yang berkaitan dengan pengalaman istri masing-masing saat sedang hamil. Raut wajah mereka semua memiliki penampilan geli dan penuh nostalgia, terutama wajah Ayah Ali yang tidak pernah lepas dari wajah cantik Bunda Safira. Sekalipun dia sedang berbicara dengan orang lain, wajahnya yang tampan dan matang seringkali mengintip wajah istrinya itu. Mengamati suasana hangat yang terjadi di antara istri dan putrinya yang sedang hamil.
"Habislah kita... habislah.." Gumam Bibi Mei ketakutan saat melihat Ayah Ali dan Bibi Sifa kini sedang berbicara.
Bibi Mei tidak berani menebak apa yang sedang mereka bicarakan dan dia pun tidak berani bertanya. Akan tetapi melihat reaksi Ayah Ali saat ini seolah menjadi jawaban yang Bibi Mei ingin hindari.
Wajah penuh kasih sayang Ayah Ali perlahan menjadi serius. Dengan kepala tertunduk dia mendengar setiap kata yang adiknya katakan. Lalu, beberapa detik kemudian sorot mata dingin Ayah Ali melirik mereka bertiga, singkat tapi cukup berdampak besar untuk Bibi Mei dan kedua putrinya.
"Ma, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Riani panik.
__ADS_1
Kini Riani menyadari bila masalah ini menjadi sangat serius.
Bibi Mei memarahinya,"Ini semua gara-gara kebodohan kamu! Bukankah Mama sudah memperingati kamu tadi agar jangan bicara kepada wanita itu tapi kamu tidak mau mendengarkan! Lihat sekarang, tidak hanya berurusan dengan keluarga mereka tapi kita juga akan berurusan dengan semua orang di rumah!"
Bibi Mei sangat takut dengan kemarahan semua orang di rumah belum lagi campur tangan dari pihak keluarga Ayah Ali.
Tangan Riani gemetaran karena panik. Di dalam kepalanya saat ini muncul alarm keras agar dia segera melarikan diri namun untuk alasan panik ini kedua kakinya terasa sangat lemas seolah kehilangan tenaga dan tidak mampu digerakkan. Dia sangat ketakutan.
"Aku...aku tidak tahu.." Bisiknya gelisah.
Riani melirik Rani di sampingnya, wajah Kakaknya itu terlihat sangat masam dan serius.
"Kak Rani..." Rengek nya tidak tenang.
"Kamu selalu saja ceroboh. Sekarang masalah ini menjadi serius dan bila Kak Vano tahu, dia pasti akan membenciku." Timpal Rani dingin sarat akan kemarahan.
Riani cemberut tampak sangat menyedihkan. Kedua mata yang selalu menatap rendah orang di bawah kini memerah dengan riak-riak tipis di dalamnya.
"Aku salah....aku tidak tahu masalahnya akan seserius ini." Bisiknya menyesal.
Jika waktu bisa diputar kembali dia akan memilih untuk menjaga mulutnya di sini dan menghindari Bibi Sifa. Tapi sayang sekali, harapan hanyalah harapan karena faktanya tidak akan ada waktu yang bisa diputar kembali.
"Sudahlah, sebelum terlambat lebih baik kita memperbaikinya." Lirih Bibi Mei membuat keputusan.
__ADS_1
"Memperbaikinya?" Tanya Rani penuh harapan begitu pula Riani.
"Ya. Ayo kita temui Ai."
🍃🍃🍃
Ai, Mega, Asri, dan Bunda Safira sedang asik berbincang-bincang dengan anggota keluarga yang lain. Suara riuh dari tawa orang-orang di sini terdengar begitu hidup dan menyenangkan. Sesekali mereka akan menggoda para bumil dengan candaan yang membuat wajah mereka memerah dan sesekali pula mereka akan menggoda Asri karena belum juga menyusul kedua sahabatnya.
Momentum hari ini sangat langka dan berkesan untuk mereka bertiga karena biasanya semua orang terlalu sibuk untuk sekedar berkumpul.
"Kak Safira." Dari jauh Bibi Sifa berjalan dengan Paman Sahid dan Ayah Ali.
Penampilan mereka yang berkelas tapi tidak glamor sangat mencuri pandangan semua orang. Mereka adalah pengusaha sukses yang sangat sulit untuk ditemui dan hari ini banyak orang yang merasa beruntung untuk bertemu secara langsung.
Terutama untuk Ayah Ali sendiri. Usianya masih 30 tahunan, usia yang sangat matang dan mapan untuk didekati. Membuat beberapa wanita menatap cemburu sekaligus iri kepada Bunda Safira, istri sah dari sang CEO sukses yang telah lama mencuri perhatian banyak wanita.
Melihat Ayah Ali dan Paman Sahid, kepala mereka kerap kali berandai-andai untuk menggantikan posisi Bunda Safira dan Bibi Sifa sebagai seorang istri.
"Perhatikan langkahmu, istriku. Jangan berlarian." Paman Sahid meraih pinggang Bibi Sifa untuk memperlambat langkahnya.
Bibi Sifa merasa malu, wajahnya yang cantik tanpa sadar menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya, bahkan kakinya yang semula bergerak cepat kini melambat mengikuti langkah suaminya.
"Maafkan aku, Mas." Bisik Bibi Sifa kepada Paman Sahid.
__ADS_1