Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 157


__ADS_3

Tangan kirinya mencubit pipi lembut istrinya yang mulai gembil karena dirawat dengan baik akhir-akhir ini.


"Kamu adalah pertolongan Allah untukku, istriku. Bila kita tidak bertemu maka aku akan selamanya terjebak dalam dunia tanpa arah." Kenang Arka tidak menyembunyikan isi hatinya.


Sejak hatinya berdetak untuk Asri maka sejak itulah Arka mengakui bahwa Allah datangkan Asri ke dalam hidupnya, datangkan seorang gadis yang mengenal agama jauh lebih baik dari dirinya namun tidak pernah memandang rendah dirinya. Bukannya meremehkan, namun gadis itu justru mengulurkan tangannya, membantunya menemukan jalan dan membimbingnya ke jalan yang Allah ridhoi.


"Dulu aku pernah menertawakan Vano karena terlalu fanatik dalam cinta monyetnya kepada Ai. Demi mendapatkan restu Om Ali, Vano dengan keputusan ceroboh pergi ke pondok pesantren, tempat yang belum pernah aku datangi dan tak akan pernah aku datangi dalam hidup ini-- itulah yang aku pikirkan saat itu. Tapi sekarang aku mengerti. Dengan cinta Allah mengingatkan hamba-Nya akan kecemburuan-Nya dan dengan cinta pula Allah datangkan cahaya ke dalam hati hamba-Nya. Selama cinta itu didasari oleh kebaikan untuk mengejar ridho Allah di akhirat kelak, maka Allah tak akan pernah mengecewakan hamba-Nya sebab janji Allah itu pasti. Dan perasaan ini kurasakan kepadamu. Walaupun aku masih belajar dan terkadang lupa, tapi hatiku selalu merasakan sebuah sentuhan manis, kedamaian, dan sensasi lembut seakan-akan Allah sedang memelukku. Berbisik bahwa aku akhirnya kembali kepadanya. Aku merasa sangat berdosa setiap kali mengingat betapa bodohnya aku dulu melupakan semua kebaikan, Rahmat, dan kasih sayang Allah kepadaku selama ini. Aku sungguh sombong dan mengganggap bahwa segala sesuatu yang kudapatkan saat itu adalah jerih payahku sendiri, aku sungguh bodoh, Asri. Padahal semua itu adalah ujian sekaligus hukuman Allah kepadaku. Aku lupa kepada-Nya, maka Allah pun menghukum ku agar semakin lalai, tapi untungnya... untungnya Allah tidak meninggalkan ku pergi. Untungnya Allah masih bersamaku, memberikan ku kesempatan agar kembali ke jalan-Nya. Jika tidak maka aku tidak tahu betapa hancurnya aku tanpa pertolongan Allah di dunia ini dan di akhirat kelak, istriku. Aku sangat takut membayangkannya.." Bisik Arka menyuarakan rasa syukur sekaligus ketakutannya selama ini.


Entah apa yang akan terjadi bila dia terus terjebak dalam kebanggaannya sendiri. Dia... sungguh tidak bisa membayangkannya.


"Jangan menangis, Mas..." Namun dia sendiri juga menangis.


Hatinya perih mendengarkan ketakutan suaminya.


"Aku... tidak menangis tapi kamu lah yang menangis." Bantah Arka tapi tidak bisa mengendalikan air mata yang keluar dari matanya.


Asri tersenyum tipis, dia menjangkau wajah suaminya, mengusap air mata hangat yang mengalir dari sudut mata suaminya. Arka tidak pernah menangis, selama mereka bersama, Asri lebih banyak melihat Arka tertawa dan ceria. Dia pikir laki-laki ini akan sulit menangis tapi siapa sangka dia akan melihatnya hari ini.


"Baiklah, aku yang menangis sedangkan mas Arka tidak." Asri tidak bersikeras lagi.

__ADS_1


Dia mengerti bila suaminya mungkin malu.


"Mau minum air?" Tawar Arka sambil mengulurkan gelas di tangan kanannya.


Asri melihat air putih itu, mengangguk malu, dia lalu menjangkaunya dengan hati-hati. Kemudian di bawah tatapan terang suaminya, dia mulai menyesap air putih itu tepat di posisi suaminya minum barusan.


Ini adalah sunnah yang dulunya dilakukan oleh Aisyah Ra ketika sedang makan bersama Rasulullah Saw. Dan Rasulullah Saw pun pernah melakukan sunnah ini kepada Aisyah Ra saat makan bersama dulu. Sekarang Asri dengan hati-hati mengamalkannya karena berharap Allah akan meridhoi pernikahannya dengan Arka hingga ke Jannah kelak.


Ini adalah doa yang juga diharapkan oleh suaminya setiap saat.


"Bismillahirrahmanirrahim..." Dengan izin Allah dia mulai menyesap air minum itu.


Asri juga mengamalkan apa yang dia jelaskan sebelumnya mengenai minum dengan cara Rasullullah Saw. Pertama-tama dia membaca basmalah, menyesap sekali dan mengucapkan hamdalah. Lalu dia menyesap lagi setelah mengucapkan basmalah dan mengakhirinya dengan hamdalah. Dan untuk yang ketiga kalinya dia membaca basmalah sebelum menyesap air di gelas dan mengucapkan hamdalah setelah itu.


"Sudah selesai?" Tanya Arka kepada Asri.


Asri melihat air gelas yang tersisa sedikit. Dia hanya perlu menyesap tinggal sekali lagi untuk menghabiskan. Tapi sebelum dia bisa menjawab, Arka telah lebih dulu mengambil gelas itu dari tangan Asri.


"Aku yang akan menghabiskannya." Ucapnya tanpa perlu menunggu persetujuan sang istri.

__ADS_1


Asri tidak bisa berkata-kata lagi. Wajahnya langsung menjadi panas ketika melihat suaminya menyesap di tempat yang sama dengan miliknya, secara tidak sadar mereka telah berciuman- eh, seharusnya mereka sudah berciuman semenjak Asri pertama kali menyesap bekas Arka di gelas.


"Alhamdulillah." Kata Arka bergumam, tapi ekspresi tiba-tiba menjadi rumit,"Aneh, airnya kok lebih manis yah." Kemudian matanya beralih menatap wajah merah istrinya,"Kamu tadi nambahin gula, yah?" Tanya Arka kepada istrinya.


Asri menjadi semakin malu. Dia langsung menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Arka agar wajahnya yang merah terang tidak bisa dilihat oleh Arka.


Melihat tingkah malu-malu istrinya, Arka tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Tawanya begitu renyah di dalam pendengaran sang istri, seolah-olah sang suami sedang memberikan doktrin-doktrin manis yang bisa membuatnya langsung melambung tinggi.


"Kenapa sembunyi di dada ku? Suka ya pengen pegang-"


"Mas Arka, ih!" Potong Asri malu.


Yang sekali lagi mengundang tawa renyah suaminya. Meskipun Asri malu karena digoda terus oleh suaminya, tapi Asri senang karena Arka bisa tertawa. Daripada menangis seperti tadi, dia lebih suka Arka kembali ke dirinya yang jail dan menyebalkan.


"Mas Arka, aku mau ngomong sesuatu sama mas." Kata Asri sambil menjauh dari dada bidang Arka.


Dia menatap Arka ragu-ragu.


"Mau ngomong apa?" Arka beralih mengelus rambut panjang Asri.

__ADS_1


"Ini... Bapak sama Ibu bilang besok kita akan pergi balik kampung untuk menjenguk adikku. Adikku sudah menikah dengan seorang guru ngaji di kampung sebelah jadi mereka ingin kita pergi untuk bersilaturahmi. Apa mas Arka punya waktu besok untuk pergi ke sana? Kalau enggak maka aku bisa pergi sendiri ke sana bersama yang lainnya." Tanya Asri hati-hati.


Fina sudah menikah beberapa waktu yang lalu dan dia tidak bisa datang karena bapak sendiri yang meminta. Bapak ingin Fina menjadi orang yang serius dan tidak melenceng dari pernikahannya. Jadi karena itulah dia dan Arka tidak diundang. Tapi sekarang Fina sudah sah menikah sehingga mereka tidak punya ketakutan seperti sebelumnya. Maka dari itu bapak meminta mereka ikut pergi menjenguk Fina.


__ADS_2