
Canggung, kakinya bergerak kaku menyamping, memberikan ruang untuk sang suami masuk ke dalam kamar.
Sang suami menatap wajah tertunduk sang istri, tidak ada sambutan hangat ataupun sentuhan lembut di atas punggung tangannya seperti waktu-waktu sebelumnya.
Istrinya tidak melakukan itu semua.
Sang suami tersenyum kecil, mengambil nafas panjang, ia lalu masuk ke dalam kamar yang sudah 5 hari ditempati oleh istrinya.
"Bagaimana keadaan mu di sini?" Dia bertanya dengan nada lembut yang sama sambil mengedarkan pandangannya menatap sekeliling kamar ini.
Tidak ada yang istimewa, kamar ini sama seperti kamar-kamar di rumah yang tidak berpenghuni dan sunyi.
"Alhamdulillah, Mas. Aku baik-baik saja, lalu bagaimana dengan Mas Vano sendiri?" Dia balik bertanya pada sang suami- Ustad Vano.
Ustad Vano menoleh ke belakang, melihat istrinya yang kini tengah menyiapkan air minum putih dan camilan di atas meja.
Istrinya selalu tahu bila ia lebih suka minum air putih daripada minum kopi ataupun minum teh. Dia bukannya tidak suka pada kopi ataupun teh, hanya saja menurutnya lebih baik minum air putih daripada minum kopi ataupun minum teh.
Kebiasaan ini sudah ada sejak ia masih kecil, mungkin karena tertular pola hidup sehat kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai dokter di rumah sakit.
"Apakah kamu masih bertanya?" Bukannya menjawab, Ustad Vano balik melemparkan pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban.
Ai menundukkan kepalanya, menyusun makanan di atas meja dan segelas air putih untuk sang suami.
"Duduk, Mas."
Ustad Vano segera mendudukkan dirinya di sofa, berhadapan langsung dengan sang istri yang kini tengah memandang langit gelap tidak berbintang di luar sana.
__ADS_1
Malam ini langit mendung dan udara jauh lebih lembab daripada malam-malam sebelumnya. Mungkin itu karena sebentar lagi akan turun hujan sehingga mempengaruhi suhu di sekitar.
"Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Mas Vano." Lama terdiam Ai akhirnya berbicara.
Ia mengalihkan pandangannya dari jendela balkon, menatap sang suami yang kini tengah menatapnya.
Ketika bertemu pandang dengan mata suaminya, Ai tiba-tiba merasakan hatinya seolah diremas-remas. Rasanya sesak di dada tatkala memikirkan bahwa setelah malam ini mereka tidak akan pernah bisa bertemu ataupun memiliki hubungan apa-apa lagi.
"Aku juga ingin membicarakan sesuatu dengan mu."
Ai tersenyum kecil menahan sesak. Ia menyentuh cincin pernikahannya dengan Ustad Vano, menyentuhnya dengan perasaan tidak rela sekaligus rindu.
"Aku...sudah memikirkannya beberapa hari ini." Ai memulai pembicaraan.
Kedua matanya membentuk riak-riak tipis, berpaling menatap cincin pernikahan di jari-jari manisnya dengan perasaan nostalgia.
Namun, kenyataan memang tidak seindah apa yang ia bayangkan. Ia tidak bisa memaksakan khayalan panjangnya kepada semua orang termasuk kepada suaminya sendiri karena- karena ia faktanya tidak bisa memberikan kebahagian.
"Mas Vano," Ia memanggil lembut, mencoba sekuat tenaga untuk menahan suara isak tangisnya.
"Ayo kita bercerai."
Dor
Suara petir di luar sana seakan-akan mewakili apa yang dirasakan Ustad Vano saat ini. Ia terdiam, mulutnya diam membisu tidak tahu harus mengucapkan apa karena untuk sejenak, kata-kata singkat nan ringan itu tiba-tiba sangat sulit dicerna oleh kepalanya.
"Aku..." Ai meremas dada datarnya menahan sakit.
__ADS_1
"Aku tidak mau memaksa Mas Vano terikat dengan diriku selama seumur hidup. Aku tahu bahwa Mas Vano tidak bahagia bersama diriku, aku tahu...bila pernikahan ini telah menyiksa Mas Vano. Jadi...aku pikir sebelum semuanya terlambat, sebelum kita melangkah terlalu jauh, sebelum Mas Vano menyesali semuanya...menyesali waktu-waktu yang terbuang karena dihabiskan bersamaku, lebih baik kita segera mengakhiri semuanya, Mas. Aku akan membebaskan Mas Vano dariku. Bercerai dari diri yang tidak sempurna ini dan pergi menghalalkan gadis yang sempurna." Mengigit bibirnya kesakitan, ia tidak tidak pernah mengangkat kepalanya untuk melihat bagaimana reaksi Ustad Vano sekarang.
Dia hanya menunduk, menundukkan kepalanya menatap karpet permadani hijau yang kini sedang ia pijaki.
Sunyi, hanya suara deras hujan di luar sana yang mewarnai keterdiaman mereka. Tidak ada suara ataupun gerakan dari mereka berdua yang bisa menarik perhatian masing-masing.
"Mas," Ai mengusap wajah basahnya yang tidak bisa berhenti menangis.
Air hangat nan bening itu terus saja meluap dari kelopak matanya, membuat wajah Ai basah sekuat apapun Ai mencoba untuk mengelapnya.
"Mari kita bercerai, Mas." Ai meminta lagi.
Namun Ustad Vano seolah tuli, ia seperti tidak mendengar apa yang Ai katakan dan tidak mau pula memberikan respon.
Lama terdiam, Ustad Vano belum juga memberikan responnya. Tidak punya pilihan, Ai lalu mengangkat kepalanya untuk memastikan bahwa Ustad Vano-
Deg
Jantung Ai berdegup kencang ketika melihat tatapan dingin Ustad Vano kini tengah fokus menatapnya. Dia ragu harus melakukan apa, di samping itu juga Ai cukup ketakutan melihat sorot mata tajam nan dingin Ustad Vano yang tidak biasanya.
"Apa kamu sudah selesai berbicara?" Tanya Ustad Vano akhirnya berbicara.
Tiada kelembutan di dalam nada suaranya melainkan rasa dingin yang sarat akan ketidakberdayaan.
"Apa kamu sudah mengatakan semua yang ingin kamu katakan?" Belum sempat Ai menjawab pertanyaan pertama, Ustad Vano melemparkan lagi sebuah pertanyaan kepada Ai.
Membuat Ai tanpa sadar mengecilkan lehernya ketakutan. Karena jujur, dia tidak pernah melihat Ustad Vano semarah ini.
__ADS_1