
"Baiklah, tunggu saja suami kamu pulang. Tapi jika kamu tidak tahan, keluarlah mengambil makanan di dapur. Jangan menahan diri di sini." Pesan Ibu tidak mendesaknya lagi.
Asri tersenyum lembut,"Aku mengerti, Bu."
Ibu lalu keluar sambil membawa makanan yang belum disentuh oleh Asri. Bapak heran melihatnya dan bertanya kepada Ibu. Setelah dijelaskan secara singkat oleh Ibu, Bapak terdiam dan tidak memberikan komentar apa pun.
Setelah Ibu pergi dia mencoba tidur kembali tapi tidak bisa. Berulangkali dia menyesuaikan posisinya di atas kasur senyaman mungkin agar dia bisa tidur kembali, tapi sangat sulit. Frustasi, dia akhirnya tidak mau tidur lagi dan duduk di kasur melihat-lihat kemasan roti yang suaminya bawa kemarin.
Ada Rosa coklat, strawberry, duren, pisang, jeruk, pokoknya ada banyak rasa menarik yang tersebar cantik di atas kasur. Normalnya dia akan memakannya. Tidak cukup satu bungkus, padahal ukurannya lumayan besar. Dua atau tiga bungkus baru mengenyangkan perutnya. Tapi hari ini kemanapun matanya memandang dia sama sekali tidak tertarik. Bukannya tidak tertarik tapi lebih tepatnya tidak ada yang benar-benar menarik perhatiannya.
Dia bertanya-tanya apakah lidahnya sudah jenuh dengan makanan ini?
"Tidak ada yang menarik. Ahhh...ya Allah, aku kangen sama mas Arka. Kapan mas Arka pulang?" Gisel menggeliat bosan di kasur.
__ADS_1
Dia mengambil ponselnya melihat pesan terakhir suaminya. Katanya sebentar lagi sampai tapi sudah setengah jam berlalu sejak pesan datang, kenapa Asri masih belum melihat bayangannya?
Asri mungkin lupa atau karena terlalu merindu dia tidak menyadari kalau jarak kampung ke kota itu sangat jauh. Butuh 1 atau jam perjalanan. Belum balik ke kampung yang menghabiskan banyak waktu.
"Bosen di sini terus. Aku mau keluar ajalah. Mas Arka bilang aku boleh keluar asalkan jangan keluar rumah. Lagian Ibu sama bapak di sini jadi aku enggak bisa keluar jauh-jauh." Asri bangun dari kasur.
Mengambil jilbab yang lebih panjang dan terasa sejuk untuk cuaca panas di sini, dia memakainya di depan cermin sambil memperbaiki posisi jilbabnya.
"Mungkin ini cuma perasaan ku aja." Dia mengulurkan tangannya mencubit pipinya sendiri.
Berlemak.
"Eh, iya?" Dicubit masih belum meyakinkan, dia menarik-narik pipinya beberapa kali.
__ADS_1
"Ya Allah, berat badan aku pasti naik ini." Mana dia belum sempat nimbang di rumah sebelum ke sini.
Sebelumnya dia enggak suka nimbang berat badan karena berat badannya selalu mentok di situ aja. Cuma melihat Ai dan Mega rajin nimbang berat badan, dia jadi ikut-ikutan walaupun tidak ikut hamil.
Tapi melihat lemak di pipinya sekarang dia merasa agak tidak terduga. Ternyata menambahkan berat badan tidak sesulit itu.
"Wah, kalau Ai sama Mega tahu mereka pasti tertawa karena aku akhirnya bisa menaikkan berat badan setelah sekian lama berjuang!" Kini tangannya sudah beralih menyentuh daging di pinggangnya.
Dulu pinggangnya tidak memiliki daging yang tebal tapi saat ini ketika ditarik pinggangnya jauh lebih padat dan tentu sangat kenyal ditarik, rasanya sungguh nyaman.
"Pulang ke rumah nanti aku harus menimbang berat badanku untuk mengetahui kemajuan pastinya. Jangan sampai kebablasan sampai-sampai kelebihan berat badan, naudzubillah, aku enggak itu terjadi. Bisa-bisa mas Arka ilfil lagi sama aku." Katanya sembari menepuk pinggangnya merasa sangat puas.
Untunglah dia segera menyadarinya hari ini!
__ADS_1