
Gadis itu menggelengkan kepalanya tidak terima,"Aku begini...aku begini karena Kak Vano!" Teriak gadis itu tidak terima.
Gadis itu bertindak impulsif dan kedua orang tuanya terlambat untuk menghentikan ucapannya. Mereka jelas tahu bila Ustad Vano tidak ada sangkut pautnya dalam masalah ini tapi putri mereka lah yang bersikeras. Sekarang setelah tuduhan ini terlontar dari mulut gadis itu, mereka tahu bila Ustad Vano tidak akan punya alasan lagi untuk mengasihani gadis itu. Bukannya menjadi jernih, air yang sudah bercampur lumpur kian keruh karena lumpur yang putrinya lemparkan lagi.
"Oh," Ustad Vano tidak terkejut dengan tuduhan asal-asalan gadis itu.
Bahkan dia tidak mengangkat kelopak matanya untuk melihat seperti apa rupa gadis itu, dia tidak tertarik dan juga tidak memiliki keinginan untuk melihatnya sebab matanya mungkin akan ternodai.
Sia-sia rasanya membuang waktunya untuk gadis itu.
"Aku bahkan tidak pernah melihat ataupun mengenalmu." Implikasinya sangat jelas dan siapapun yang mendengarnya tidak akan bodoh untuk tidak mengerti apa maksud dari perkataan Ustad Vano.
Gadis itu tersedak isak tangisnya sendiri. Dia sangat malu tapi apa yang harus dia lakukan? Satu sisi dia sudah lama menyukai Ustad Vano dan tidak ingin melepaskannya, tapi di sisi lain dia harus masuk penjara karena perasaan ini. Dia tidak mau masuk penjara tapi dia juga tidak mau melupakan Ustad Vano.
Dia tidak mau.
__ADS_1
"Dengarlah ini baik-baik." Ustad Vano tidak menunggunya untuk berbicara dan langsung berbicara lebih dulu.
Sambil meremas lembut pinggang sintal milik istrinya dia mengatakan apa yang ingin dia katakan kepada gadis itu. Nada suaranya serius tidak dilebih-lebihkan atau di kurang-kurangi, yang menandakan betapa seriusnya masalah ini untuk dirinya.
"Aku tidak pernah mempermasalahkan siapapun yang mengusikku dalam batas tertentu karena menurutku apa yang mereka lakukan tidak berarti apa-apa untukku. Tapi ceritanya akan berbeda bila mereka berani mengusik kedamaian istri dan putriku. Bagiku, istri dan putriku adalah harta yang berharga yang paling penting di dunia ini setelah ridho Allah. Siapapun itu, selama mereka berani menyakiti istri dan anak-anak ku, maka yakinlah aku tidak akan segan-segan membuat mereka merasakan penyesalan. Sama seperti kamu. Istri dan anak ku tidak mengenalmu, mereka tidak tahu tentang kamu ataupun pernah berbicara dengan kamu. Kalian tidak saling mengenal tapi kamu berani menyakiti mereka. Coba pikirkan lah sebelum bertindak, apa kamu pikir aku akan diam saja melihat kekasih dan anakku disakiti oleh mu? Tidak, tentu saja aku tidak akan tinggal diam. Tidak perduli wanita ataupun laki-laki, mereka harus merasakan ganjarannya. Masalah ini adalah keputusan final dariku. Semua berkas-berkas sudah dikirim ke pengadilan oleh kuasa hukum keluargaku jadi tidak ada yang perlu kita bicarakan di sini. Lain kali kita akan bertemu di ruang sidang nanti. Aku harap kamu mulai merenungi semua kesalahan mu agar hatimu lebih lapang saat mendapatkan vonis hukuman."
Dari awal berbicara hingga akhir, Ustad Vano tidak pernah mengalihkan perhatiannya dari sang istri. Bahkan sekalipun berbicara seperti ini terlihat tidak sopan, Ustad Vano tidak terlalu memikirkannya karena dia telah menghormati kedua orang tua gadis itu dengan baik dan itu berlaku sama untuk gadis itu.
Jangan dengarkan nada suara dan gaya bicaranya yang dingin karena ketika gadis itu ataupun orang tuanya berbicara, Ustad Vano dengan patuh menyimak tanpa menyela ucapan mereka yang menunjukkan bahwa mereka dihargai dengan baik oleh Ustad Vano.
"Tapi-"
Membiarkan gadis itu berbicara sama saja memperkeruh masalah karena dia tidak bisa membantu apa-apa.
"Pak Vano...apa putri kami benar-benar harus menyerahkan masa depannya?" Tanya Ayah sedih.
__ADS_1
Ustad Vano menjawab dengan ringan,"Itu adalah Kesalahannya dan sudah menjadi kewajibannya untuk mempertanggungjawabkan nya."
Ayah menghela nafas berat. Dia melirik wajah lelah istrinya sebelum beralih menatap wajah sembab putrinya. Sudah berakhir. Putrinya hanya bisa melewati semua ini dengan lapang dada. Sama seperti yang Ustad Vano katakan, ini adalah kesalahan putrinya maka dia harus berani mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri.
"Terima kasih karena telah meluangkan waktu Pak Vano dan Nyonya muda. Aku harap Pak Vano dan Nyonya muda memaafkan kesalahan putri kami. Setelah kasus ini...dia pasti akan berubah menjadi orang yang lebih dewasa dan bijaksana lagi." Ucap Ayah seraya bangun dari duduknya.
Ustad Vano menganggukkan kepalanya sopan sebagai jawaban.
"Ayah..." Gadis itu tidak menyangka Ayah akan menyerah begitu saja.
"Ayo pulang, kita harus segera mempersiapkan apa yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan kasus ini." Kata Ayah dengan berat hati.
Gadis itu menggelengkan kepalanya menolak untuk pergi. Tapi Ayah dan Bunda sudah lelah menghadapi sikap keras kepalanya. Jadi mereka langsung menyeret gadis itu pergi. Menulikan kedua pendengaran mereka untuk tangisan histeris putri mereka.
Hancur, semuanya sudah hancur. Dia harus berhenti kuliah, melupakan semua mimpi-mimpinya karena hei, memangnya siapa yang mau menerima pekerja mantan narapidana?
__ADS_1
Jawabannya ada, tapi sangat sulit. Belum lagi dia harus menghadapi segala macam cemoohan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Menghakimi hidupnya sebagai gadis tidak becus yang kegatelan ingin merebut suami orang.
Sungguh kotor.