
"Jadi kamu memutuskan pertunangan mu dengan Sasa karena gadis ini?" Mata almond nya melirik gadis desa yang masih menggunakan baju pengantin robek dan make up luntur.
Gadis desa itu sedari tadi hanya menunduk, ia tidak pernah mengangkat kepalanya menatap mereka semua sejak memasuki rumah ini. Ia pikir itu karena gadis ini pemalu, tapi pikirannya segera berubah ketika mengetahui keponakannya mengenal gadis desa ini.
Tidak menutup kemungkinan juga bila gadis desa ini mengenal keponakannya. Hah, maka hasil akhirnya akan sangat menarik nantinya, sebab, ia bisa melihat jika keponakannya tertarik pada gadis desa ini.
"Benar, Paman Arka. Sebelum memutuskan pertunangan ini aku telah melakukan sholat malam terlebih dahulu untuk meminta petunjuk dan setelah jelas, aku segera membicarakannya dengan Mama dan Papa untuk membuat keputusan. Alhamdulillah, mereka mengerti keputusanku dan tidak memaksaku untuk melanjutkan perjodohan ini." Ujar laki-laki itu menjelaskan dengan wajah yang serius.
Dia adalah Kevin, laki-laki tampan dan bersarung yang rela jauh-jauh datang dari pondok pesantren ke desa untuk membatalkannya pernikahan Asri, gadis desa yang kini sedang duduk tertunduk di atas sofa depan pakaian pengantin robeknya.
"Jadi, kamu ingin menikahi gadis ini?" Tanya Arka tenang.
Kevin melirik Asri di seberang sana yang masih tertunduk, lalu beralih menatap Arka yang kini sedang menatapnya.
"Bismillah, aku ingin menikahinya, Paman." Kata Kevin membenarkan di depan Arka dan Asri.
Besar harapannya bisa bersanding dengan Asri, gadis desa yang telah berhasil menyentuh hatinya melalui ketulusan hatinya.
Arka mengangguk ringan. Ia tidak langsung merespon pengakuan keponakannya ini.
Sedikit lelah karena perjalanan jauh dari desa kota, ia menyandarkan punggung tegaknya di sandaran sofa seraya mengamati sikap diam Asri singkat.
"Maaf Kevin, aku tidak bisa mengizinkan mu menikahi gadis ini." Tolak Arka sambil memijat keningnya.
Penolakan Arka ini jelas saja membuat Kevin kecewa dan terkejut. Pasalnya, Arka selalu mengabulkan keinginannya jika ia menginginkan sesuatu dan tidak pernah mengatakan tidak. Namun, yang mengejutkan tiba-tiba hari ini ia menolak. Menolak permintaannya untuk bisa menghalalkan Asri.
Apakah itu karena Asri adalah orang miskin? Batinnya bertanya-tanya.
"Tapi kenapa Paman? Aku..aku ingin menikah dengannya." Kevin bertanya heran.
Ya, ini juga yang ingin Asri tanyakan.
Tidak, jangan salah paham. Ini bukan karena Asri ingin menikah dengan Kevin, ini sungguh bukan karena itu. Ia malah sedih mendengar pertunangan Kevin dan Sasa batal karena dirinya.
Dan ini...alasannya bertanya-tanya adalah karena murni ia ingin tahu bagaimana pendapat Arka tentang dirinya yang berasal dari desa. Apakah Arka masih mau menikahinya yang berasal dari desa dan miskin pula.
Apakah Arka tidak mau menikahi?
Sejujurnya ini berita bagus, tapi kenapa... Asri merasa kecewa?
"Kevin, hatimu mudah berpaling." Ucap Arka singkat.
"Apa?" Kevin jelas belum mengerti.
"Mungkin hari ini kamu memutuskan Sasa karena bertemu dengan gadis yang lebih baik, tapi di masa depan nanti tidak menutup kemungkinan kamu akan memutuskan gadis ini karena bertemu gadis yang lebih baik lagi. Dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi." Perjelas Arka membuat Kevin kesulitan berkata-kata.
"Demi Allah, Paman. Aku sungguh sangat serius kali ini!" Kevin bersumpah atas nama Allah untuk meyakinkan Arka.
__ADS_1
Arka menghela nafas panjang.
"Maaf, tapi keputusanku sudah final." Arka menolak dengan tegas.
Kevin langsung berdiri dari duduknya. Ia menatap Arka dengan tatapan tidak percaya. Mulutnya beberapa kali terbuka ingin mengatakan sesuatu tapi pada akhirnya dia tidak mengatakan apa-apa.
"Asri," Kini Kevin beralih pada Asri.
Dia tahu Asri juga ingin menikah dengannya karena ia mendengar dengan kedua telinganya sendiri di dalam masjid saat itu bagaimana pengakuan tulus Asri kepadanya.
"Menikahlah denganku." Pinta Kevin kepada Asri.
Arka memutar bola matanya malas. Ia benar-benar tidak tahan melihat tingkah kekanak-kanakan Kevin.
Sejujurnya, ia juga tidak masalah bila Asri mau menerima ajakan Kevin, karena sekali lagi mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Ia hanya ingin menyelamatkan Asri dan keluarganya dari pernikahan paksa itu saja. Toh, bila terjadi sesuatu dikemudian hari itu ada resiko Asri karena bersedia menikah dengan Kevin. Sementara ia hanyalah penolong dan tidak bisa ikut campur dalam urusan rumah tangga keponakannya.
"Maaf, aku tidak bisa menerimanya." Penolakan langsung Asri membuat Kevin dan bahkan Arka terkejut.
Ia pikir Asri bersedia menikah dengan Kevin.
"Kenapa... apa karena bantuan Paman ku hari ini? Masalah itu kamu tidak perlu memikirkannya karena aku akan segera membayar-"
"Bukan karena itu." Potong Asri gugup.
Ia meremat kedua tangannya gelisah dengan kepala yang masih setia menunduk. Ah, selain karena tidak berani melihat Arka dan Kevin, ia juga sangat malu dengan penampilannya hari ini.
Kenapa mereka tidak memberikannya waktu untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum berbicara!
"Itu... karena Tu-Tuan Arka berjanji untuk menikahi ku."
Arka,"...." Aku pikir kamu sebelumnya sangat enggan?
"Bagaimana mungkin... jelas-jelas kamu menyukai-"
"Tolong jangan libatkan aku dalam kehidupan Kakak lagi. Aku tidak ingin kehidupan baru ku bersama Tu- ah, Mas Arka... menjadi terganggu." Potong Asri sembari berdoa di dalam hatinya agar Arka tidak melemparinya kursi kayu.
Dia benar-benar lancang memanggil Arka dengan sebutan intim!
Melihat 'calon istrinya' menjadi sangat canggung di depan keponakannya, Arka kemudian mengambil alih pembicaraan.
"Benar, Kevin. Kami akan menikah besok sore jadi pastikan untuk datang dan mulai melupakan 'calon istriku' yang beberapa jam lagi akan sah menjadi istriku." Kata Arka santai.
Asri,"...." Besok sore! Bukankah ini terlalu cepat?
Mereka... mereka belum saling mengenal satu sama lain!
Asri panik. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi gagal karena ia tidak ingin semakin membuat Kevin terlalu berharap kepadanya.
__ADS_1
Biarlah seperti ini, mungkin dengan begini ia bisa melupakan Kevin dan ekhem... memulai kehidupan baru dengan Arka!
Ahh..
Dari semua kemungkinan, dia tidak pernah menyangka jika calon suaminya berasal dari golongan keluarga konglomerat dan lebih konyolnya lagi, calon suaminya adalah Paman dari laki-laki yang ia sukai!
"Paman, katakan jika ini semua bohong?" Kevin meminta lemah.
Ia harap Pamannya tiba-tiba memberikannya sebuah kejutan bahwa pembicaraan ini adalah sebuah kebohongan.
Namun, kenyataan tidak sesuai dengan apa yang Kevin harapkan.
Arka menegakkan duduknya,"Tidak, Kevin. Ini semua memang benar adanya. Aku dan gadis ini akan segera menikah."
Kevin harus menelan kenyataan pahit untuk yang kesekian kalinya. Ia mengangguk lemah, mengusap wajahnya pelan untuk menenangkan pikirannya yang sudah kacau semenjak mengetahui Asri akan menikah dengan anak saudagar Romlah.
"Jika Paman menikah dengan Asri, lalu bagaimana dengan Kak Lisa?"
Asri tertegun,"Siapa Lisa?" Gumamnya tidak tenang.
Disinggung masalah pribadi, wajah Arka langsung mengeras. Ia menatap Kevin sarat akan peringatan,"Jangan pernah menyebut nama ini di masa depan nanti. Masa lalu tidak ada hubungannya dengan masa sekarang. Lagipula, mengungkit masalah pribadi ku tidak akan membuat calon istriku berpaling kepadamu," Berpaling melihat Asri yang masih betah tertunduk.
"Bukankah begitu, sayang?" Panggilnya mesra.
Asri meneguk ludahnya gelisah.
"Ah...i-iya, Mas."
Asri tidak tenang. Sejak pertama kali bertemu dengannya, ia tahu bila Arka adalah orang yang tidak mudah ditebak. Mulai dari latarbelakang keluarga dan masa lalunya, Asri takut akan mendapatkan banyak batu sandungan di masa depan nanti.
Tapi apa yang harus ia lakukan?
Ia tidak bisa mundur dari pernikahan ini dan di samping itu juga, Arka telah banyak membantunya.
Tapi hei, jujurlah ini lebih baik daripada harus menikah dengan anak saudagar Romlah yang terkenal suka mabuk-mabukan dan membuat masalah di desanya.
Kevin melihat jika ia sudah tidak punya peluang lagi. Menyerah, ia mengucapkan beberapa kata ucapan selamat kepada Pamannya sebelum pergi dari rumah ini bersama luka di hatinya.
Hem...padahal ia baru saja melebarkan sayap tapi harus patah sebelum ia bisa menggunakannya terbang.
Sekarang hanya mereka berdua di sini. Suasana canggung yang tercipta karena Kevin tadi kini semakin canggung saja rasanya setelah Kevin pergi.
Diam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Asri semakin gelisah di tempat karena Arka belum juga mengatakan sesuatu. Pikirnya, Arka akan memarahi atau memberikan perhitungan kepadanya karena telah begitu lancang memanggilnya intim.
"Apakah kamu masih perawan?" Tanya Arka frontal.
Asri terkejut dan sontak menatap Arka dengan kedua mata membola,"Apa...apa..." Asri kesulitan melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
Bersambung...