Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 127


__ADS_3

"Lho kok nyebelin?" Tanya Arka penasaran.


Asri memutar bola matanya malas,"Gimana gak nyebelin coba baru ketemu aja udah ditanyain masih... perawan atau tidak. Kan aku kesel dan malu jawab." Nada suaranya tiba-tiba merendah saat menyebut kata 'perawan', pasalnya ini adalah rahasia dia dan suaminya.


Arka tersenyum simpul.


"Tapi setelah itu kamu nanya aku udah sunat atau-"


"Mas Arka, ih! Suaranya dikecilin! Kalau di dengar sama orang lain gimana?" Potong Asri panik.


Arka lantas tertawa kecil. Dia memeluk Asri gemas tanpa memperdulikan tatapan cemburu beberapa orang. Suara tawanya yang rendah bergema di dalam pendengaran Asri. Dia sangat malu dan wajahnya kembali panas!


"Hari itu kamu lucu banget. Aku baru pertama kali bertemu dengan orang selucu dan sepolos kamu, jadi sekali-kali dijahili kayaknya enggak apa-apa.." Akunya mengakui.


Aneh, bukan?


Dia tidak pernah menyangka suatu hari akan dipertemukan dengan seorang gadis desa dalam tragedi pernikahan paksa yang agak menggelikan karena masalah utang piutang. Dan yang lebih mengherankan lagi jika dia tanpa pikir panjang menikahi gadis desa asing itu tanpa perlu menunggu persetujuan pihak keluarganya.

__ADS_1


Dia melakukannya dengan impulsif tapi hasilnya?


Dia semakin dekat dengan Allah, lebih banyak meluangkan waktu mengobrol dengan Allah, dan hatinya juga menjadi damai. Perlahan namun pasti hatinya yang kosong ditumbuhi benih baru yang hadir tanpa dipaksakan melainkan karena ketidaksengajaan.


"Paman Arka?"


Suasana manis mereka tiba-tiba diinterupsi oleh kehadiran Riani. Gadis yang tiba-tiba menghilang dan tidak tahu menahu tentang hukumannya ternyata berkeliaran mencari Arka.


Arka tidak melepaskan Asri dari pelukannya dan hanya melirik Riani tanpa niat mengucapkan apapun.


"Aku..." Katanya ragu sambil melirik Asri yang ada di dalam pelukan Arka.


Arka adalah Pamannya yang paling tajir jadi dia tidak bisa kehilangan Paman Arka karena uang belanja di rumah menurutnya tidak cukup.


Adapun Asri...


Kamu akan menyesal ketika waktunya tiba. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan kepadamu gadis desa yang tidak tahu diri! Batin Riani menyimpan dendam.

__ADS_1


"Bukankah sebelumnya aku pernah mengatakan jika maaf mu tidak berguna? Dan lihat tampilan palsu ini, orang bodoh mana yang akan mempercayai sandiwara mu?" Cibir Arka tidak tersentuh dengan permintaan maaf palsunya.


Bagaimana mungkin dia tidak tahu gelagat orang seperti ini?


Dia sudah memiliki banyak pengalaman menghadapi orang-orang seperti ini.


"Aku...aku serius dan aku tidak bersandiwara!" Kata Riani menampik.


Arka tersenyum miring,"Pergilah sebelum aku benar-benar muak melihatmu. Kau tahu bukan apa yang akan terjadi jika aku marah?" Ucap Arka dengan nada mengancam.


Riani tahu tapi dia tidak rela mundur. Akan tetapi dia juga tidak tahan dengan tatapan dingin Pamannya yang membuat kulit punggungnya terasa dingin menggigil.


Tapi tidak ada salahnya menyerah, karena menyerah sekarang bukan berarti dia akan benar-benar menyerah di masa depan.


"Baiklah, aku akan pergi dan tidak mengganggu Paman lagi. Tapi niatku tulus ingin meminta maaf kepada Paman dan Bibi Asri. Aku akan terus menemui kalian sampai kalian mau membuka pintu maaf." Dia berusaha menyusun kata-katanya setulus mungkin.


Arka mencibir,"Seolah-olah kamu punya kesempatan saja."

__ADS_1


Arka mengatakan sesuatu yang aneh tapi Riani tidak berniat bertanya karena Arka pasti menolak untuk menjawabnya.


"Kalau begitu Paman, Bibi, aku harus pergi."


__ADS_2