Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 173


__ADS_3

Untungnya Bapak segera datang menyambut mereka berdua dan membawanya masuk ke dalam rumah karena Arka mengatakan kepada Bapak bahwa istrinya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Bapak langsung khawatir mendengar bila putrinya sedang tidak enak badan jadi tanpa menunggu waktu lagi dia membawa Asri ke dalam kamar yang akan mereka berdua tempati selama menginap di sini.


Mereka berdua tidak tahu bahwa kepergian mereka telah membuat banyak orang merasa tidak puas. Bahkan kalaupun tahu Arka dan Asri juga tidak peduli karena itu bukan urusan mereka jika mereka marah atau cemburu.


"Luar biasa. Selain kaya raya suami Asri juga tampan. Bapak Arman pasti bangga memiliki menantu kaya raya dari kota dan membantu mereka memiliki rumah di sana. Memangnya menantu mana lagi yang sebaik menantu Bapak Arman. Dia kaya tapi tidak meninggalkan keluarga Asri." Seseorang berdecak kagum melihat betapa beruntungnya Asri. Beberapa bulan yang lalu banyak desa yang digemborkan oleh pernikahan tiba-tiba Asri dengan laki-laki kaya raya dari kota. Sekarang setelah melihat seperti apa rupa laki-laki ini, cerita ini pasti akan dihidupkan kembali dan menjadi buah bibir di banyak desa.


"Bu, Asri baru saja menghina aku." Santi bergegas memeluk lengan Ibunya sedih.

__ADS_1


Masih terdengar jelas di dalam kepalanya apa yang baru saja dikatakan oleh Asri dan suaminya. Dia malu karena diabaikan oleh Arka, namun dia tidak bisa menerimanya. Karena dia selalu beranggapan bahwa Asri lah yang memulai topik itu duluan hingga membuat Arka melepaskan kata-kata kasar itu. Akan tetapi jauh di dalam hatinya dia menyadari betul bahwa dia sangat cemburu. Cemburu karena mereka berasal dari desa yang sama tapi kenapa Asri lebih beruntung. Beruntung memiliki suami yang tampan juga kaya raya dan dermawan terhadap keluarganya.


"Dia sangat sombong. Mentang-mentang nikah sama orang kaya, kita dicuekin. Huh, pernikahannya pasti tidak akan bertahan lama. Memangnya orang kota sudi menghabiskan waktunya bersama dengan gadis desa yang putus sekolah?" Ibunya menghina dengan sinis, berharap bila pernikahan Asri tidak berjalan lancar atau bahkan lebih bagus lagi bila hancur. Dengan begitu Asri tidak akan menegakkan dadanya saat bertemu dengan mereka.


"Ibu dan anak benar-benar, yah, kenapa tidak suka melihat kebahagiaan orang lain? Tidak hanya tidak suka tapi mereka juga berani mendoakan hal-hal buruk terjadi kepada orang tersebut. Aku tidak tahu kemana otaknya diletakkan?" Salah satu penduduk desa yang mendengar percakapan pasangan Ibu dan anak itu berceloteh. Dia sengaja bersuara lantang dan menarik banyak perhatian warga, agar mereka berdua dipermalukan.


Ibu dan Santi mendapatkan tatapan tidak ramah dari banyak orang. Terutama untuk Santi sendiri yang memiliki rasa egois yang tinggi. Dia malu ditatap oleh banyak orang dan takut bila citra baiknya menjadi buruk, oleh karena itu dia membujuk Ibunya untuk pulang karena percuma saja terus tinggal di sini di saat banyak orang yang menatap mereka dengan tatapan permusuhan.

__ADS_1


"Betapa beraninya kalian mendoakan hal-hal buruk terhadap pernikahan keponakan kami! Memangnya kami tidak tahu apa yang ada di pikiran kalian tadi saat mendekati Asri dan suaminya? Sungguh memalukan. Seumur-umur aku hidup di dunia ini aku tidak pernah bertemu dengan orang yang lebih memalukan dari kalian berdua. Setelah gagal merayu suami Asri, sekarang kalian perlu membicarakan hal-hal buruk tentangnya seolah keponakan kami telah melakukan dosa besar! Sangat hina. Pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi ke tempat ini. Kami tidak akan menerima orang jahat seperti kalian. Dan bila suatu hari kamu mendengar tentang hal-hal buruk mengenai pernikahan keponakan kami, maka kami akan membawa masalah ini ke kantor polisi dan menuntut kalian atas tuduhan pencemaran nama baik." Paman Asri langsung muncul dari keramaian setelah mendapatkan laporan dari putranya. Dia sangat marah mengetahui bila Santi dan Ibunya memiliki tujuan najis terhadap suami Asri. Sebagai seorang Paman mana mungkin dia membiarkan hal buruk itu terjadi kepada keponakannya. Maka dari itu dia langsung membuat keputusan untuk mengusir mereka berdua dari tempat acara agar tidak membuat masalah apa-apa lagi.


"Memangnya apa-"


"Ibu, berhenti. Ayo pulang."


Ibunya terlihat tidak terima dan ingin mengatakan sesuatu tapi Santi buru-buru memegang tangannya. Dia lalu menarik tangan Ibunya untuk segera pergi dari tempat acara agar tidak mempermalukan diri sendiri lagi lebih lama. Melihat kegelisahan putrinya, dengan enggan n mereka berdua pergi dari tempat acara. Meninggalkan banyak suara-suara di belakang yang mencemooh mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2