
Pukul 03.30 dini hari, ai dibangunkan oleh sebuah usapan lembut di wajahnya. Dia mengernyit tertahan, kelopak mata persis itu mulai bergetar ringan menandakan bahwa dia akan segera bangun. Begitu kelopak matanya terangkat, samar, hal pertama yang dia lihat adalah sosok tampan suaminya yang kini tengah tersenyum lembut kepadanya.
"Bangun?" Tanya ustadz Vano dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Ai tersenyum malu. Kepalanya bergerak miring menenggelamkan setengah wajahnya ke dalam bantal. Walaupun mereka sudah menikah beberapa bulan lamanya, rasa malu itu masih melekat di dalam diri Ai.
"Jangan malu." Ustad Vano terkekeh geli melihat tingkah laku istrinya yang pemalu.
"Enggak mas..." Wajah Ai memerah hanya mendengar suara tawa kecil suaminya saja.
Padahal mereka sudah melakukan banyak hal yang lebih intim dari ini, namun tetap saja membuatnya malu. Entahlah, mungkin ini adalah reaksi hatinya yang selalu mendambakan sosok laki-laki kuat dan tampan yang kini tengah menatapnya.
"Masih mengantuk?" Ustad Vano berusaha melembutkan suaranya dan di saat yang sama jari-jari panjang tangan kanannya enggan melepaskan pipi gembil Ai.
Ai awalnya masih mengantuk, tapi sudah berkurang ketika melihat wajah tersenyum suaminya. Ugh, Allah tahu betapa bersyukurnya dia mendapatkan sosok laki-laki yang selalu memperlakukannya dengan tulus juga lembut. Menjaganya dengan hati-hati selalu memperlakukan benda rapuh.
"Sedikit mengantuk, mas." Ai mengangkat tangan kecilnya mengusap kedua matanya yang masih belum beradaptasi dengan cahaya lampu di kamar.
__ADS_1
Hati sang suami melembut melihatnya seperti ini. Ini adalah bulan-bulan yang berat untuk kehamilan Ai. Mama sudah berulang kali menekankan untuk menjaga Ai dan jangan membebaninya melakukan sesuatu yang berat. Jadi ustad Vano berusaha mendengarkan pendapat Ai bila ingin melakukan sesuatu.
"Jika kamu masih mengantuk, lanjutkan saja tidurmu. Aku tidak akan mengganggu tidurmu lagi." Suaranya lirih mengandung kelembutan yang manis.
"Oh... Sekarang jam berapa, mas?"
Ustad Vano melirik jam weker yang ada di atas nakas samping tempat tidur. Satu setengah jam lagi akan memasuki waktu shubuh.
"Baru jam 03.30. Aku ingin ngajakin kamu shalat tahajud tadi, tapi karena kamu masih mengantuk jadi lebih baik aku shalat sendiri saja." Ada satu kegiatan yang sangat dipentingkan oleh Ustad Vano setelah menikah.
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada di dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di malam hari. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. (QS.Adz Dzariyat: 15-18)
Lalu, Imam Al Hasan Al Bashri juga mengatakan sesuatu mengenai ayat ini, “Mereka bersengaja melaksanakan qiyamul lail (sholat tahajud), di malam hari, dan mereka hanya tidur sedikit saja. Mereka menghidupkan malam hingga sahur (menjelang subuh). Mereka pun banyak beristighfar di waktu sahur.”
Memang belum tentu mereka menjadi salah satu penghuni surga karena itu adalah kehendak Allah subhanahu wa ta'ala, akan tetapi sebagai hamba yang mencoba dan berusaha untuk tetap berjalan di jalan yang Allah ridhoi, Ustad Vano berharap bahwa setiap ibadah yang dia lakukan bersama istrinya di sepertiga malam diperhatikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Ini adalah seni merayu, merayu agar Sang Maha Pencipta meridhoi setiap langkah yang dilakukan bersama istrinya. Jujur saja, setiap kali dia berdoa dalam sujudnya, tak pernah Dia melupakan sosok istri yang telah mendiami isi hatinya selama bertahun-tahun lamanya. Dia ingin membawa istrinya ke tempat yang belum pernah dilihat oleh siapapun di dunia ini, ke tempat yang memiliki keindahan dan sungguh sulit digambarkan oleh kata-kata.
__ADS_1
Dia mengharapkan yang terbaik untuk istrinya, bersama istrinya, dan hanya ingin dengan istrinya. Benar, dia terlalu terobsesi dengan istrinya. Namun obsesi ini seberusaha mungkin tidak akan membuat Allah cemburu melainkan Allah senang melihat rumah tangganya.
"Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan bahwa sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah melaksanakan shalat malam. Dan beruntunglah bagi seluruh kaum muslimin yang terjaga di saat orang-orang jatuh terlelap, sebab mereka dapat berbicara langsung dengan Sang Maha Kuasa dan doa mereka langsung mengetuk pintu langit. Wahai suamiku, bagaimana mungkin aku melepaskan kesempatan yang sangat penting ini? Beribadah bersamamu di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala adalah kenikmatan yang hanya bisa kudapatkan di dunia ini. Aku ingin menunjukkan betapa bersyukurnya aku menikah dengan mu, mas. Dan aku juga ingin mengatakan banyak hal kepada Allah subhanahu wa ta'ala tentang kehidupan rumah tangga kita. Meskipun ceritanya selalu diulang-ulang tapi aku yakin Allah tidak mungkin bosan mendengarnya. Dan aku juga yakin Dia senang melihat kita datang menemuinya bersama-sama. Jadi jangan tinggalkan aku, mas. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini untuk menyenangkan Allah subhanahu wa ta'ala." Sembari mengatakan itu Ai lalu bangun dari acara rebahannya.
Pipinya bersinar terang, terpantul indah di bawah cahaya lampu kamar mereka. Untuk hal ibadah Ai memang selalu keras kepala dan inilah yang disyukuri oleh sang suami.
"Masya Allah, istriku yang sholehah Semoga Allah meridhoi atas semua kebaikan dan ibadah yang kamu lakukan bersamaku di dunia ini. Aku bangga memilikimu, istriku." Ustad Vano mengelus pipi Ai sambil berbicara dan perlahan mengecup puncak kepala Ai lama.
Hangat, di tengah udara dingin malam yang datang menerpa hingga membuat orang-orang tergoda untuk mengeratkan selimut masing-masing, ada sepasang suami istri yang bersemangat untuk mendirikan shalat malam.
Mereka memang pasangan muda, masih kekurangan banyak ilmu dan jauh dari kata alim sholeh. Tapi semangat mereka untuk memperbaiki diri tidak pernah dibatasi oleh usia muda mereka, setiap hari selalu ada harapan yang ingin mereka kejar dan harapan itu tidak pernah ada putus-putusnya.
"Ayo kita turun untuk mengambil air wudhu. Setelah shalat malam nanti aku ingin menceritakan kisah Maryam kepada anak kita. Apakah kamu mau, istriku?"
Ai mengangguk malu-malu. Tentu saja dia mau.
"Kita baca sama-sama ya, mas?"
__ADS_1