Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 160


__ADS_3

Selalu jawaban yang sama. Mereka hanya bisa menduga-duga sembari meminimalkan kegiatan Mega selama mengandung. Mega dan Ai sama-sama sedang mengandung tapi memiliki kondisi yang berbeda. Tubuh Ai sejak kecil lemah dan kurang sehat, tapi Qadrullah, selama hamil dia baik-baik saja dan malah bisa disebut anteng-anteng saja. Makanannya tidak terganggu, jarang mual, dan tidak terlalu sering mengalami kram. Situasinya sungguh berbanding terbalik dengan kondisi Mega. Sejak kecil dia sehat dan tidak memiliki keluhan kesehatan yang serius seperti Ai. Dengan tubuh yang sehat normalnya masa kehamilannya dilalui dengan baik. Tapi ternyata Mega tidak baik-baik saja. Pola makanannya menjadi terganggu, sangat sering mual apalagi bila mencium bau yang menyengat, badannya pasti langsung bereaksi kuat.


Ini membuat ustad Azam khawatir dan bertengkar dengan egonya. Ego di dalam dirinya ingin selalu mendampingi sang istri dan melepaskan semua pekerjaan, sebab Mega adalah belahan jiwanya. Tapi tuntutan kewajibannya sebagai seorang suami dan pekerja, dia tidak bisa bertindak egois. Dia harus mencari nafkah dan memenuhi kewajibannya di kantor agar kelak hisabnya diringankan oleh Allah SWT.


"Jangan terlalu banyak berpikir, mas." Tangan Mega terulur menyentuh alis hitam suaminya. Mengelusnya ringan untuk mengendurkan alis ustad Azam yang sempat menegang.


Ustad Azam kemudian mengambil tangan istrinya dari wajahnya, memegang tangan putih dan ramping itu hati-hati sebelum mengecupnya penuh cinta.

__ADS_1


"Tunggu mas pulang, yah? Setelah mas pulang nanti kita akan pergi ke dokter kandungan sama-sama untuk mengecek pertumbuhan bayi kita berdua." Bisik ustad Azam lemah.


Mega mengangguk mengerti kekhawatiran suaminya. Tersenyum lembut, dia mengarahkan tangan suaminya untuk menyentuh permukaan perutnya yang sudah membuncit. Sentuhannya begitu lembut, menghangatkan perut buncit itu yang masih belum menunjukkan getaran kehidupan. Masih beberapa bulan lagi untuk ustad Azam bisa mendengarkan bayinya, merasakan tendangan antusias bayinya di dalam rahim sang istri.


"Jangan bekerja lagi. Sebaiknya kita tidur sekarang agar perut kamu bisa lebih nyaman."


"Sisanya biar aku saja yang membereskannya, kamu tidak usah khawatir."

__ADS_1


Mega tersenyum tak berdaya,"Terima kasih, mas. Tapi mas Azam harus menemani ku tidur malam ini dan tidak boleh beranjak dari kasur sampai aku tidur."


"Tentu saja. Aku tidak akan pergi sebelum kamu tidur." Janji ustad Azam tanpa ragu.


Karena ini demi kebaikannya maka Mega tidak keras kepala lagi. Dia membiarkan ustad Azam membaringkannya di atas kasur, membantunya menggunakan selimut hangat dan mematikan lampu kamar mereka. Tidak lama kemudian suara merdu ustad Azam mengalun lembut di dalam kamar mereka. Ustad Azam membaca surat Al-Mulk sebagai pengantar tidur untuk istrinya dan beralih membaca surat Al-Imron untuk istri dan bayi yang ada di dalam kandungan istrinya. Setelah membaca Al-Imron, Ustad Azam lanjut membaca surat Maryam untuk sang bayi, berdoa semoga anaknya lahir dalam keadaan selamat dan tumbuh menjadi anak yang berbakti serta mencintai sang pencipta semesta, Allah SWT.


Tak terasa rasa kantuk mulai melandanya. Kelopak mata ustad Azam perlahan turun ke bawah bersama dengan kesadarannya yang mulai menipis. Bersama dengan surat Maryam yang belum selesai dia bacakan, ustad Azam akhirnya jatuh tertidur menyusul sang istri ke dunia mimpi.

__ADS_1


Semua pekerjaan yang ditinggalkan sang istri awalnya ingin dia selesaikan setelah sang istri tertidur. Tapi sebelum dia bisa menunaikannya, kenyamanan tinggal bersama sang istri telah mengalihkan perhatiannya hingga dia akhirnya jatuh tertidur.


__ADS_2