
Mata bulatnya berkedip melihat banyak sekali orang datang ke rumahnya. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang belum pernah dia lihat sebelumnya dan terkesan memiliki sikap acuh tak acuh terhadap dirinya. Sedangkan sisa yang lain adalah orang yang beberapa kali dia lihat sejak menjadi bagian dari keluarga ini.
Ada Kakek Ali, Nenek Safira, Nenek Sifa, Kakek Ali, Nenek Annisa, Kakek Gio dan ada banyak dari mereka yang datang ke sini. Daripada mendekati tamu yang lain dia lebih suka mendekati keluarga dari Umi Ai. Ah iya, dia memang lebih akrab dengan keluarga dari Umi Ai tapi tidak dengan keluarga Abi Vano.
Dia memang masih kecil, bahkan terkesan polos dan tidak mengerti apa-apa mengingat usianya yang baru saja memasuki 5 tahun. Tapi trauma masa lalu, kehidupan yang tragis, dan pengalaman hidup yang tidak menyenangkan adalah guru terbaik di dalam hidupnya. Dia mengetahui- ah, bukan hanya sekedar mengetahui tapi dia juga mengerti jika keluarga dari Abi Vano terkesan tidak bersahabat dengannya. Dia tahu mereka tidak mau menerima dan mengakui keberadaannya untuk alasan yang sangat mudah ditebak.
Dia memang masih kecil tapi karena pengalaman hidupnya yang kejam, dia terbiasa tumbuh menjadi gadis kecil yang memiliki pikiran matang. Istilahnya, dia dewasa sebelum waktunya.
"Alsi udah bangun, yah?" Usapan ringan di atas kepalanya membangunkan Alsi dari lamunan yang panjang.
Dia menoleh ke atas dan melihat wajah tampan Kakek Arka yang kini tengah menatapnya dengan pandangan lembut.
"Iya, Kek. Alsi baru saja bangun." Katanya dengan suara anak kecil.
Tadi siang Umi Ai meminta dia untuk tidur siang karena istirahat siang bagus untuk kesehatannya. Dan dia sangat terkejut saat bangun dari tidurnya dia melihat ada banyak sekali orang di dalam rumah.
Ini tidak biasa untuk Alsi yang lebih suka menyendiri.
"Jangan panggil Kakek, Nak. Aku masih muda jadi panggil saja Paman Arka." Mulut Arka berkedut tidak tahan saat mendengar panggilan polos Alsi.
Alsi menatapnya bingung,"Tapi Abi bilang Kakek Arka adalah Pamannya jadi Alsi tidak bisa memanggil-"
"Cek, Vano ini." Arka tidak puas, dia lalu menundukkan kepalanya ingin berbicara serius dengan Alsi.
Karena bagaimanapun juga pendidikan sangat penting untuk anak seusia Alsi agar tidak tumbuh membangkang seperti keponakannya itu.
"Paman Arka masih sangat muda jadi tidak pantas dipanggil Kakek. Nanti kalau orang-orang dengar Alsi panggil Kakek, Bibi Asri pasti ditertawakan oleh banyak orang dan dia pasti sangat sedih. Alsi sayang kan sama Bibi Asri dan gak mau dia jadi sedih?"
Ditertawakan,
Kata ini sangat sensitif di dalam hati Alsi. Bagaimana tidak? Hidup berkelana tanpa tujuan telah berkali-kali direndahkan oleh orang lain.
Rasanya sakit jadi dia dengan cepat mengubah panggilannya kepada Arka.
"Alsi sayang sama Bibi Asri." Kata Alsi sedih, tampak polos.
Hati Arka melembut,"Maka panggil Paman Arka mulai dari sekarang."
Alsi mengangguk patuh kepada Arka. Setelah urusan panggilan di selesaikan, Arka membawa Alsi menuju pusat dari acara kumpul-kumpul tersebut. Di ruang tengah sang bintang acara, Aishi Humaira dan Bunda Safira duduk bersama ditemani oleh Mega maupun Asri.
Mereka tertawa, wajah mereka berseri-seri karena kegembiraan yang menggema di dalam hati masing-masing. Pemandangan ini meninggalkan kesan hangat di dalam hati Arka yang telah lama mendambakan kedamaian.
"Assalamu'alaikum?" Dia mengucapkan salam sopan untuk menarik perhatian mereka.
"Waalaikumussalam." Semua menjawab serempak.
__ADS_1
Kecuali Asri yang lebih intim,"Waalaikumussalam, Mas Arka." Katanya.
Arka mengulum senyum, menjaga ekspresinya sedingin mungkin agar terlihat bermartabat.
"Alsi, pergilah temui Umi kamu." Bisik Arka seraya mendorong punggung Alsi.
Alsi mengangguk ringan, berjalan dengan kepala tertunduk mendekati Ai. Tangan kecilnya yang berkeringat segera diraih oleh Ai dan Ustad Vano yang entah sejak kapan sudah muncul di samping Ai.
"Abi pikir kamu masih tertidur. Kenapa, Nak? Apa suara orang-orang mengganggu tidur kamu?" Bisik Ustad Vano lembut.
Dia membawa putrinya duduk di tengah-tengah antara dia dan Ai.
"Betul, sayang? Kamu bangun karena suara ribut di sini?" Ai jelas tidak menginginkan hasil ini.
Alsi menggelengkan kepalanya malu,"Alsi ingin bertemu Abi dan Umi." Katanya singkat seraya menempel di lengan Ustad Vano.
Dia ingin menempeli Ai tapi dia ingat jika Ai sedang hamil sekarang. Ada dedek bayi di dalam perut Ai sehingga dia tidak boleh diganggu atau direpotkan agar dedek bayi bisa tumbuh dengan baik.
"Umi, apa aku boleh menyentuh dedek bayi?" Tanya Alsi berharap.
Ai tersenyum malu-malu saat melihat suaminya juga sedang memperhatikannya.
"Boleh, tapi dedek bayi masih kecil dan Alsi untuk sekarang tidak bisa merasakannya." Kata Ai dengan pipi memerah.
"Jika Alsi mau sentuh saja perut Umi. Elus perut Umi dengan hati-hati agar dedek bayi merasa nyaman di dalam sana." Bisik Ustad Vano sambil mengarahkan tangan Alsi menyentuh permukaan perut Ai yang sudah mulai menggembung.
Menunduk ke perut Ai,"Dedek bayi, halo? Apa kamu mendengar ku?"
Sapaan lembut Alsi membuat Ustad Vano dan Ai tidak bisa untuk tidak tersenyum. Di dalam hati mereka lega karena Alsi bukanlah tipe anak yang cerewet. Alsi mau menerima kedatangan adik yang mana itu adalah kabar baik mengingat selama ini Alsi cukup penyendiri.
"Ekhem, itu..." Suara berat Arka menarik perhatian yang lain.
"Ada apa, Mas?" Tanya Asri.
Arka mengusap lehernya canggung,"Keluarga Mama ingin berbicara dengan mu."
Asri langsung mengerti. Senyum sumringah segera terbentuk di wajahnya, dengan kepala tertunduk dia bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Arka. Jujur dia takut bercampur gugup karena pengalaman pahit saat berbicara dengan Riani masih segar di dalam ingatannya.
Takutnya masih ada karakter Riani yang lain di dalam keluarga suaminya.
"Jangan gugup, kali ini aku tidak akan membiarkan siapapun merendahkan kamu." Bisik Arka saat menggapai tangan Asri.
Asri tertegun, dia sontak mengangkat kepalanya menatap Arka.
"Mas?"
__ADS_1
Arka tersenyum lembut,"Karena merendahkan mu sama artinya dengan merendahkan ku pula."
Hati Asri menghangat.
"Terima kasih, Mas."
"Ya Allah, mau sampai kapan kalian pamer kemesraan di sini? Ugh, mataku jadi sakit melihatnya." Ucap Bibi Sifa dengan nada bercanda yang langsung disambut gelak tawa semua orang.
Asri malu, dia langsung menundukkan kepalanya dan bersembunyi di punggung suaminya.
"Mau bagaimana lagi, kami adalah pengantin baru yang sedang dimabuk asmara." Timpal Arka santai.
Tangan kirinya sudah beralih melingkari pinggang ramping Asri.
Bibi Sifa dan Bunda Safira geli mendengarnya.
"Arka, sudah lama. Selamat atas pernikahan mu." Paman Sahid maju ke depan, menjabat tangan Arka akrab sambil menganggukkan kepalanya.
Arka tersenyum,"Yah, sudah lama. Terima kasih. Aku ucapkan juga selamat atas kelahiran anak keempat mu."
Sahid mengangguk ringan,"Aku sudah menerima hadiahnya. Sangat cantik, putri kami pasti akan menyukainya."
"Benar, Arka. Hadiahnya sangat cantik. Aku yakin hadiahnya pasti dipilih oleh istri mu." Bibi Sifa sangat antusias membahas hadiah yang Arka kirimkan kepada putrinya yang baru lahir.
Arka tersenyum lembut, dia tidak menampik bahwa hadiah itu adalah ide Asri.
"Baiklah, kami tidak akan mengganggu kamu lagi. Luangkan waktumu untuk bertemu dengan yang lain."
Arka mengangguk santai dan berpamitan kepada yang lain setelah itu baru membawa istrinya bertemu dengan pihak keluarga Mamanya.
Begitu Arka dan Asri pergi, Bibi Sifa dan Paman Sahid segera menyapa Ai serta Ustad Vano yang sedang duduk menemaninya sementara Ayah Ali sendiri membisikkan sesuatu kepada Bunda Safira.
"Apakah Mas Ali tidak berbohong?" Bisik Bunda Safira dengan ekspresi kaget di wajahnya.
Ayah Ali menganggukkan kepalanya serius.
"Aku pikir kita perlu membicarakannya dengan Vano."
Diam, Bunda Safira tidak langsung menjawab tapi sorot matanya tidak lagi selembut sebelumnya.
"Tunggu dulu, Mas. Mereka ingin bermain jadi mengapa kita tidak mengikutinya?"
Bersambung...
Marhaban ya Ramadhan, Alhamdulillah akhirnya masuk bulan suci Ramadhan 💚
__ADS_1
Maaf baru update hari ini karena kemarin saya kurang enak badan. Hari ini satu chapter dulu yah, terima kasih 🍃