Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
35. Dia Rani


__ADS_3

Sholat subuh telah dilaksanakan. Ai, Mega, dan Asri segera pergi ke dapur untuk mulai memasak sarapan. Masakan yang mereka buat terbilang sangat sederhana. Mereka hanya memasak nasi goreng dengan bumbu instan dan sedikit tambahan bumbu buatan sendiri sehingga rasanya tidak terlalu monoton. Selain itu, mereka juga menggoreng telur mata sapi sebagai pelengkap sarapan, beberapa gelas jus buatan Ai yang juga mulai rutin diminum oleh kedua sahabatnya.


Mereka tidak terlalu menghabiskan banyak waktu di dalam dapur karena yang bekerja pun lebih dari satu orang. Seperti, Asri bertugas membuat nasi goreng karena ia lebih pandai memasak- untuk saat ini, lalu Mega yang mengambil alih urusan menggoreng telur mata sapi, dan Ai satu-satunya orang yang memiliki resep membuat jus sendirian.


Pukul setengah tujuh sarapan sudah siap di atas meja. Mereka kemudian memanggil suami masing-masing untuk segera turun ke bawah sarapan, menyampingkan dulu urusan kantor karena yang terpenting sekarang adalah mengisi tenaga.


Namun, hari ini Ai dan Asri tidak ikut sarapan karena mereka sedang berpuasa.


"Lho, kalian kok gak bilang-bilang hari ini puasa?" Ustad Vano heran baru mendengar istrinya berpuasa hari ini.


Jika ia tahu istrinya berpuasa, maka ia juga akan ikut berpuasa. Namun sayangnya dia sudah terlanjur minum air putih beberapa detik yang lalu sehingga ia tidak bisa mengikuti istrinya melakukan puasa sunah.


"Maafkan Ai, Mas. Hari ini tiba-tiba Ai ingin puasa saja, jadi setelah sholat subuh tadi Ai segera meneguhkan dan tidak sempat memberitahu Mas Vano." Ai tidak berbohong.


Memang benar moodnya bermasalah tapi itu tidak sampai membuatnya harus mogok makan. Dia hanya merasa nafsu makannya hari ini tidak ada, bahkan ada keinginan untuk memalingkan wajahnya bila berhadapan dengan dapur.


Jika saja ia tidak memikirkan suaminya, maka Ai lebih suka untuk tidak masuk ke dalam dapur.


Ustad Vano menghela nafas panjang, ia bukannya tidak terima istrinya berpuasa, bukan seperti itu. Malah ini bagus untuk berpuasa tapi ia pikir waktunya tidak tepat karena wajah Ai agak pucat hari ini.


"Jangan ulangi lagi lain kali karena kamu...membuatku khawatir." Gumam Ustad Vano diakhir kalimat.


Dia mengkhawatirkan kesehatan istrinya, ia tidak mau kesehatan Ai bermasalah karena Papanya sendiri yang menegaskan bila Ai memiliki tubuh yang lemah. Dia mudah sakit bila melakukan banyak aktivitas, apalagi sampai tidak makan seharian.


"Nah kamu, kenapa kamu tiba-tiba ingin berpuasa? Bukankah tadi kamu bilang sedang datang bulan?" Kini giliran Arka yang mengintrogasi istrinya.


Asri tersenyum malu,"Aku tidak bilang 'sedang' datang bulan, Mas." Bisik Asri di samping.


"Tapi aku bilang biasanya ini terjadi saat aku akan datang bulan." Bisik Asri lagi mengoreksi.


Arka mengernyit, ia ingin mengatakan sesuatu namun suara panggilan masuk di ponsel menggagalkannya.


Dia segera mengambil ponsel di dalam saku, melihat id penelpon, ia lalu berdiri meninggalkan meja makan untuk menjawab telpon.


Asri menatap kepergian suaminya, ia tidak mengatakan apa-apa tapi sorot matanya jelas menunjukkan kekecewaan. Lisa, ia melihat dengan jelas id penelpon adalah Lisa. Wanita yang akan menggantikan posisinya sebentar lagi.

__ADS_1


Tidak apa-apa pikir Asri, toh, keluarganya sudah bahagia dan tidak terlilit hutang lagi. Ia pikir bukan masalah menjadi janda di usia yang semuda ini karena ia yakin, Allah pasti telah menyiapkan rencana terbaik untuk hidupnya.


Sakit memang, tapi ini adalah bagian dari proses. Ia tidak bisa merasakan manisnya kebahagiaan sebelum merasakan sakitnya kekecewaan.


Sementara itu, pasangan yang selalu diam mengamati interaksi kedua pasangan mulai berbisik.


"Kamu gak puasa?" Tanya Ustad Azam heran.


Pasalnya Mega selalu mengikuti apa yang dilakukan oleh Ai dan Asri, mereka kompak ingat.


Mega cemberut,"Aku kan lagi halangan, Mas, mana bisa puasa."


Dia ingin tapi tamu bulanannya sedang datang.


Ustad Azam cengengesan,"Oh iya, aku lupa hehehe..." Dia lupa semalam mereka libur 'ibadah' karena ada tamu bulanan yang datang bertamu.


Mega menggelengkan kepalanya tidak berdaya, menyuap nasi goreng ke dalam mulut, kedua matanya menatap bingung perubahan sikap kedua sahabatnya pagi ini.


Pasti ada sesuatu yang terjadi. Batin Mega menebak.


Malam harinya Ai diberitahu oleh Ustad Vano untuk tidak menyiapkan makan malam karena mereka sudah membeli makan malam di perjalanan pulang. Cukup mengherankan memang, karena ini adalah pertama kalinya Ustad Vano membawa makanan dari luar. Padahal biasanya Ustad Vano dan yang lain akan memakan masakan apa adanya yang dibuat oleh istri mereka bertiga.


Ai langsung memberitahu kedua sahabatnya agar tidak memasak melainkan hanya menyiapkan piring dan alat makan di atas meja.


Ting nong~


Suara bel pintu rumah berdering. Ai heran siapa yang datang berkunjung malam-malam seperti ini karena itu jelas tidak mungkin suaminya. Karena jika suaminya mau, ia bisa saja langsung masuk tanpa mengetuk atau membunyikan bel rumah.


"Aku akan membuka pintu." Ucap Ai seraya membawa kakinya ke depan.


Cklack


Ia membuka pintu rumah dan menemukan seorang gadis cantik pemalu dengan dress selutut longgar.


Meskipun tidak menggunakan pakaian tertutup sepenuhnya, namun gadis ini memiliki pakaian yang longgar dan tidak terlalu terbuka.

__ADS_1


"Maaf, kamu..." Ai tidak pernah melihat gadis ini sebelumnya.


Tapi entah kenapa ia merasa jika wajah gadis ini memiliki kemiripan dengan Bibi Mei?


Apa ini hanya perasaan saja atau gadis di depannya ini memang putri Bibi Mei?


Tapi Ai ingat gadis yang memanggilnya di dapur itulah putri Bibi Mei- yang mungkin ingin dinikahkan dengan Ustad Vano.


"Oh, assalamualaikum?" Dia memberikan salam dengan sopan, senyuman lembut nan malu-malu di wajahnya bagaikan bunga mawar merah yang baru merekah diterpa sinar mentari.


Itu membawa rasa keindahan dan perasaan hangat.


"Waalaikumussalam." Jawabnya sembari balas tersenyum sopan.


"Aku Rani, sepupu Kak Vano. Aku dan adikku diundang datang ke sini oleh Kak Vano untuk makan malam. Kamu... apakah kamu istrinya?" Tanyanya hati-hati.


Ai tertegun, tangan kanannya meremas kuat pegangan pintu masuk. Dihadapan Rani, ia merasa begitu lemah. Rani adalah gadis yang cantik, ia pemalu pula tanpa memiliki rasa arogansi seperti Bibi Mei, membuat Ai berpikir bahwa 'yah, tidak heran kenapa Bibi Mei ingin menikahkannya dengan Ustad Vano'.


"Dia adalah istri Kak Vano, Kak. Namanya Aishi tapi dipanggil Ai," Gadis yang pernah memanggil Ai di dapur kemarin akhirnya muncul.


Ia tersenyum lebar menyapa Ai,"Malam Kak Ai, apakah Kak Ai masih mengingatku?"


"Aku masih mengingat mu, tapi aku tidak mengetahui namamu."


Gadis itu lalu memperkenalkan dirinya,"Kak Ai harus ingat mulai sekarang, namaku adalah Riani, dan ini Kakak ku, namanya Rani. Dia tidak bisa bertemu dengan Kak Ai kemarin karena dia saat itu masih ada di Malaysia. Tapi pagi ini Kak Rani pulang dan langsung dihubungi oleh Kak Vano, ia bilang kami diundang untuk makan malam bersama kalian untuk merayakan kepulangan Kak Rani. Oh ya, Kak Vano dan Paman Arka juga bilang telah menyiapkan hadiah untuk Kak Rani malam ini. Apakah Kak Ai sudah tahu kabar ini?" Riani bertanya dengan semangat- sengaja mengangkat-ngangkat nama Rani dihadapan Ai untuk menunjukkan bahwa posisi Rani cukup penting untuk Ustad Vano.


Ai sekarang mengerti mengapa tiba-tiba suaminya meminta untuk tidak memasak malam ini. Ternyata karena malam ini Rani dan Riani akan datang bertamu malam ini, sejujurnya ini tidak menjadi masalah karena Rani dan Riani adalah sepupu suaminya.


Akan tetapi hatinya merasa tidak nyaman, dia tidak nyaman karena gadis yang ingin dinikahkan dengan suaminya ada di sini, datang bertamu ke rumah.


"Mas Vano sudah menelpon ku tadi-"


"Ai, dengan siapa kamu berbicara?" Mega dan Asri memutuskan untuk menyusul Ai ke depan setelah menunggu lama di ruang makan.


Ai menggeser tubuhnya ke samping, memberikan jalan Mega dan Asri untuk melihat tamu mereka.

__ADS_1


"Kamu," Asri langsung tertuju pada Riani, gadis sombong yang telah merendahkannya di dapur kemarin.


__ADS_2