Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 188


__ADS_3

Asri langsung berdiri dan membuka pintu kamar.


"Masuk, Bu. Aku sendirian di sini, suamiku lagi keluar." Katanya sambil mempersilakan Ibunya masuk ke dalam kamar.


Ibu tersenyum. Dia datang sambil membawa nampan makanan untuk Asri sarapan.


Awalnya Asri sangat tertarik dengan makanan yang Ibu bawa. Tetapi saat Ibu berjalan melewatinya, tiba-tiba perutnya bergejolak tidak nyaman ketika hidungnya mencium bau masakan di nampan.


Ada penolakan samar di dalam dirinya. Dia tak mau makan. Nafsu makannya tadi langsung menghilang.


Bingung. Asri menyentuh hidungnya heran. Apakah dia masuk angin?


Mungkin yang dikatakan suaminya tadi benar. Dia membutuhkan seorang dokter untuk merawatnya.


"Kamu belum sarapan, Asri. Arka berpesan sebelum pergi tadi minta Ibu bawain makanan buat kamu. Kebetulan ada makanan kesukaan kamu di dapur jadi Ibu langsung angetin sebelum bawa ke sini." Kata Ibu sambil tersenyum.

__ADS_1


Dia membuka tudung saji sebelum Asri bisa mencegahnya. Wangi masakan itu langsung menusuk hidungnya hingga menimbulkan gejolak penolakan keras di dalam perutnya. Rasanya mual saja tapi tidak bisa muntah. Perasaan ini sangat menyiksa. Kurang lebih rasanya sama saat orang berpergian jauh menggunakan mobil dan mengalami mabuk perjalanan. Mau muntah tapi enggak bisa, padahal mual.


"Bu, makanannya di singkirin dulu." Kata Asri buru-buru membuka jendela kamar agar angin masuk.


Ibu merasa heran. Biasanya Asri akan langsung ngiler melihat makanan ini. Tapi mungkin karena sudah terbiasa dengan makanan kota membuat Asri berhenti menyukai makanan desa. Bisa jadi, Ibu berpikir gitu.


"Kamu enggak mau makan ini?" Ibu menyayangkannya.


Dia menutup kembali nampan. Udara di dalam kamar tidak terlalu berat untuk Asri. Akhirnya dia bisa bernafas lega.


Ibu melirik bungkusan roti di atas meja. Dia menebak bila roti ini dibeli di kota karena roti jenis ini punya toko khusus dengan harga yang tidak terjangkau untuk orang-orang di desa. Memikirkannya membuat Ibu teringat dengan kehidupan keluarga ini beberapa bulan yang lalu. Saat itu mereka masih menganggap roti makanan yang berharga dan cukup mahal. Kalau enggak panen ya enggak bisa beli roti. Bisa kalau beli roti murah tapi agak sulit untuk roti yang ada di dalam toko-toko, dengan harga begitu Ibu lebih suka beli beras daripada roti. Roti cuma sedikit dan tidak dimakan lama. Tapi beras banyak dan bisa dimakan lama. Bukankah beras lebih bermanfaat daripada roti?


"Seperti biasa Arka selalu perhatian sama kamu. Enggak heran orang-orang di sini iri sama kamu. Nak, Ibu harap hubungan kalian berdua terus seperti ini sampai tua nanti." Ibu sangat bersyukur putrinya mendapatkan laki-laki yang sangat luar biasa lagi pengertian.


Di zaman sekarang sulit menemukan laki-laki yang tulus seperti Arka. Mampu mencintai putrinya tanpa melihat latar belakang keluarga mereka yang buruk. Ibu terharu.

__ADS_1


"Insya Allah, Allah pasti melindungi pernikahan kami, Bu. Ini semua berkat doa Ibu dan Bapak makanya aku bisa bertemu dengan mas Arka." Wajah Asri memanas.


Ibu menggelengkan kepalanya.


"Jodoh kamu sudah diatur sama Allah." Kata Ibu membantah.


Asri setuju.


"Tentu saja semua sudah diatur sama Allah. Tapi di dalamnya juga ada doa Ibu dan Bapak yang selalu menginginkan terbaik untuk Asri."


Ibu tersenyum hangat. Putrinya yang satu ini selalu tahu membuat hatinya menghangat.


"Nak, sudah beberapa bulan kamu menikah dengan Arka. Apakah masih belum ada kabar?" Tanya Ibu hati-hati.


Dia merindukan seorang cucu. Rumah selalu sepi sekarang. Ibu berharap ada cucu di tengah-tengah mereka yang bisa membuat rumah kembali ramai dan lebih hidup.

__ADS_1


__ADS_2