Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 107


__ADS_3

Entah apa yang Asri dan Paman Arka bicarakan, aku dan yang lainnya tidak tahu menahu soal itu. Aku dan Mega terutama, Asri tidak pernah mengatakan apapun kepada kami berdua, alhasil kami hanya bisa menebak-nebak lewat senyum sumringah Asri yang tidak pernah pudar semenjak masuk ke dalam ruang makan bersama Paman Arka.


Sekilas saja aku tahu bila sahabatku tersebut pasti dalam suasana hati yang baik, Masya Allah. Aku ikut senang melihatnya.


Aneh memang, kisah persahabatan kami ini sudah seperti film India saja. Dipertemukan di pondok pesantren, melalui hari-hari di pondok pesantren dengan merangkai sebuah kisah konyol yang memalukan juga anehnya menyenangkan, berbagi rahasia hati dan pada akhirnya kami berakhir menikah dengan laki-laki impian masing-masing kecuali Asri, dia Allah pertemukan dengan laki-laki yang baik, Alhamdulillah.


Setelah berpisah beberapa hari kemudian kami bertemu lagi di rumah ini, rumah Paman Arka, Paman dari suamiku sekaligus suami dari sahabatku, Asri. Kami akhirnya bertemu kembali dan hidup bersama di rumah ini dengan suami masing-masing, hari-hari yang kami jalani di pondok pesantren rasanya terulang kembali di sini. Namun bedanya, jika di pondok pesantren kami hanya menyimpan rasa dan merindu dalam bibir tertutup rapat serta pandangan tertunduk dalam saling menghormati, maka sekarang kami tidak lagi menyimpan rindu maupun rasa dalam keterdiaman, kami tidak lagi menundukkan pandangan untuk saling menghormati, kami bisa mengangkat kepala dengan rasa malu yang manis untuk berbagi kerinduan bersama suami tercinta.


Ya Allah, aku tahu setiap orang yang membaca kisah kami bertiga pasti akan berpikir bahwa ini berlebihan, berkesan mustahil juga hanya ada di dalam film India. Tapi sungguh inilah yang terjadi, Allah selaku pemilik skenario merangkainya dengan mudah, mempertemukan kami semua dalam kebersamaan dan harapan mendapatkan ridho Allah, tidak ada yang lebih daripada persahabatan kami dan tidak ada yang lebih indah dari harapan bahwa kami semua dapat berkumpul di surga-Nya Allah.


"Aishi Humaira," Sebuah pelukan hangat melingkupi diriku.


Aku langsung tertarik dari lamunan nostalgia ku dan baru menyadari tangan kuat Mas Vano telah melingkari perutku. Geli rasanya ketika merasakan usapan lembut dari tangan besar Mas Vano.

__ADS_1


Sejak tadi pagi ia tidak pernah berhenti tersenyum sambil menatapku. Tentu saja itu karena kabar baik yang telah kami dapatkan tadi pagi bahwa aku sedang hamil, mengandung darah daging Mas Vano, anak yang awalnya kami pikirkan tidak akan pernah di antara kami.


Masya Allah, sungguh besar kuasa Allah, Dia hilangkan keraguan dan ketakutan kami dengan menghadirkan anak ini diantara kami berdua.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Mas Vano di samping telingaku, kepalanya kini tengah bertumpu di atas pundak kanan ku.


Kepala Mas Vano memang berat tapi ini bukan berarti tidak nyaman untukku. Justru rasanya menyenangkan, aku bersyukur kami bisa sedekat ini dan aku berharap Allah menjaga kedekatan kami ini hingga Allah ridho kami tetap bersama di surga-Nya nanti.


"Aku sedang memikirkan masa-masa di pondok, Mas. Masa-masa dimana aku dan kedua sahabatku sering membuat masalah konyol." Aku tidak bisa menahan senyum ku ketika memikirkan masa-masa itu.


"Dan karena kesalahan itu aku dan Azam memiliki kesempatan u yang menghukum kalian."


Pipi ku menjadi panas,"Mas Vano sangat ketat, aku dan kedua sahabatku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa karena pengawasan kalian berdua."

__ADS_1


Tapi jujur aku suka diawasi olehnya.


"Kami melakukannya agar bisa dekat dengan kalian, menjaga kalian dari anak santri laki-laki yang bukan mahram. Saat itu kami menyadari jika kalian sering mengintip stan santri laki-laki sehingga kami memutuskan untuk memberikan kalian hukuman-"


"Ekhem," Itu adalah suara Paman Arka.


Aku lantas buru-buru melepaskan tangan Mas Vano dan menoleh ke belakang sambil mencoba menghilangkan rasa malu, ketika melihat ke belakang aku rasanya menjadi lebih malu karena semua orang lagi-lagi berkumpul menonton momen kebersamaan ku dengan Mas Vano.


"Ai, waktunya bersantai." Suara jenaka Asri menyelamatkan ku dari situasi canggung.


Langsung saja aku pergi menemui mereka tanpa mengatakan apapun kepada Mas Vano.


Ah, ini adalah berita yang sangat penting. Di rumah ini aku dan Mega sedang hamil sehingga kami tidak diizinkan untuk melakukan apapun kecuali lebih banyak bersantai juga beristirahat. Aturan ini juga berlaku untuk Asri karena Paman Arka bilang mereka sedang menjalankan program hamil- aku tidak tahu ini benar atau tidak namu yang pasti rasanya menyenangkan bersama kedua sahabatku.

__ADS_1


"Ai dan Ustad Vano sangat senang bermesraan di rumah, ugh.. kalian sangat romantis!" Dumel Mega setelah kami akhirnya duduk di atas karpet yang kami gelar.


__ADS_2