Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
32. Diposisi Yang Sama


__ADS_3

Asri menggelengkan kepalanya tidak berdaya,"Siapa yang sok alim? Lantas apakah aku harus mengatakan jika kamu adalah orang yang sok tinggi saat kamu merendahkan ku sebelumnya?" Asri bertanya balik, membuat gadis itu terbakar amarah.


Kesal, gadis itu berhenti membersihkan piring lagi. Ia berdiri di samping Asri dengan sikap bersedekap dada, memperhatikan Asri yang terlihat tidak bereaksi dan masih mencuci piring.


"Baiklah, kamu bisa berbicara sesuka hati kamu saat ini. Kamu bisa menikmati kekayaan Paman ku saat ini tapi kamu harus tahu jika semua ini tidak akan bertahan lama karena Kak Lisa beberapa hari lagi pulang. Jika Kak Lisa pulang maka Paman tidak akan segan-segan menyingkirkan kamu dari rumahnya, menceraikan kamu dan membiarkan Kak Lisa menempati posisi yang kamu tinggali!" Karena terbakar amarah, gadis itu melepaskan begitu banyak informasi yang cukup memakan waktu lama dicerna oleh Asri.


Informasi ini terlalu mendadak untuknya.


"Lisa..." Mungkinkah gadis yang Arka cintai dan belum bisa dilupakan sampai sekarang adalah Lisa?. Batinnya merasakan perasaan tidak nyaman.


Mungkin masih belum ada cinta diantara mereka berdua namun, tetap saja Arka adalah suaminya.


"Apakah kamu tahu siapa Kak Lisa? Kak Lisa adalah cinta pertama Paman Arka. Dia adalah satu-satunya wanita yang pernah dipacari Paman Arka. Hubungan mereka pun telah terjalin selama bertahun-tahun. Perasaan mereka tidak bisa dihapuskan sekalipun mereka telah berpisah, dan aku yakin saat Kak Lisa kembali nanti Paman Arka tidak akan sungkan membuang kamu pergi. Hah, lagipula dibandingkan dengan Kak Lisa, dia jauh berlipat-lipat lebih cantik, kaya, dan berpendidikan tinggi daripada kamu. Kamu harus mempersiapkan diri untuk hari itu-"


"Aku sudah selesai." Potong Asri seraya mengelap kedua tangannya dengan kain lap.

__ADS_1


Dia hanya mengelapnya beberapa detik saja, lalu menaruh lap itu kembali di atas meja sebelum keluar dari dapur menjauhi gadis itu.


Begitu diluar Asri kebingungan akan melangkah kemana karena rumah ini sangat luas. Namun, dia akhirnya tertolong ketika mendengar suara gelak tawa dari ruang tengah. Ia ingat sebelumnya bila sang suami dan yang lainnya sedang mengobrol di ruang tengah. Tanpa membuang waktu ia lalu pergi ke ruang tengah namun...namun langkahnya tertahan ketika mendengar percakapan mereka.


"Dia juga menghubungiku beberapa hari yang lalu jika sebentar lagi dia akan pulang. Nah, Arka, apa yang harus kamu lakukan sekarang? Kamu sudah menikah dengan gadis desa itu tapi kini Lisa akan segera pulang. Tentu saja dia pasti akan mempertanyakan hubungan kalian setelah pulang nanti. Yah, walaupun sejujurnya tidak masalah untukmu menikah dengan Lisa dan kami pikir ini adalah langkah yang baik karena Lisa telah memenuhi kriteria keluarga kita."


Lalu yang lain menyahut,"Benar, Arka. Jika kamu menikah dengan Lisa maka akan kamu kemanakan gadis desa itu? Apakah kamu akan menceraikannya di usia pernikahan yang baru berumur beberapa hari ini?"


Cerai?


Asri tidak bisa memikirkannya lagi. Perih rasanya.


"Masalah itu aku sudah memikirkannya dan aku akan segera membicarakannya dengan Lisa. Dan mengenai istriku... cepat atau lambat kalian akan mengetahui hasil akhirnya."


Itu adalah suara Arka, suara dari suaminya.

__ADS_1


Bohong, dia berbohong pikir Asri. Hanya Asri lah yang menganggap pernikahan ini serius tapi tidak dengan Arka ataupun keluarganya.


Bagi mereka ia tidak pantas.


Ia tidak pantas bersanding dengan Arka, laki-laki kaya dan memiliki pendidikan tinggi.


Asri tidak layak.


"Asri," Suara lemah Ai menarik Asri dari pikirannya.


Asri menoleh ke belakang, menatap wajah sendu sahabatnya dengan berbagai macam perasaan. Hatinya yang menahan rasa sakit kian membuat sesak dadanya, dia tidak tahan dan ingin menumpahkannya.


"Ai," Dia memeluk Ai erat, seolah-olah pelukan ini bisa mengobati sesak di dadanya,


Tapi itu rasanya sungguh sangat sulit karena yang merasakan luka di sini bukan hanya ia tapi Ai juga, mereka berada di posisi yang sama.

__ADS_1


"Tidakkah kamu sedang bersedih, Ai? Wajah mu telah mengatakan semuanya bila aku dan kamu berada di posisi yang sama."


__ADS_2