
Asri tersenyum. Memegang erat tangan Ibunya untuk memberikan kenyamanan.
"Percayalah, Bu. Mas Arka tidak pernah berpikir seperti itu. Dia selalu bilang untuk jangan terburu-buru dan serahkan saja semuanya kepada Allah. Kalau memang sudah waktunya, anak itu akan hadir dengan izin Allah, Bu." Ujarnya lembut.
Dia menjelaskan secara singkat kepada ibunya bahwa Arka tidak terburu-buru soal anak. Dan dia juga mengatakan bahwa suaminya itu adalah tipe suami yang sangat setia. Arka akan memiliki sikap yang sangat perhatian kepadanya, dan selalu bersikap lembut. Tapi ketika berhadapan dengan wanita lain, Arka akan memiliki sikap dingin dan acuh tak acuh. Kehangatannya hanya milik Asri seorang, hanya untuk dia. Namun kepada wanita lain, Arka sama sekali tidak memberikan wajah sedikitpun.
Tipe suami seperti ini adalah idaman para wanita di luar sana. Memangnya siapa yang tidak mau memiliki suami seperti Arka?
"Baiklah terserah kamu saja. Yang penting Ibu sudah mengatakannya. Ibu harap kalian berdua segera memiliki anak, menyusul kedua sahabat kamu yang sekarang sedang hamil besar." Ibu tidak punya apa-apa lagi dibicarakan dengan Asri.
Pasalnya Asri selalu punya kata untuk membantah kata-katanya. Selain itu dia sangat mempercayai apa yang dikatakan oleh putrinya mengenai ketulusan Arka kepada putrinya. Dia sering sekali melihat interaksi mereka berdua yang memang terlihat sangat harmonis. Ibu harap pernikahan mereka selalu seperti ini, kalau bisa jangan mundur tapi terus maju, membuat perubahan-perubahan positif yang dapat menguatkan hubungan suami istri.
__ADS_1
"Insya Allah, Bu. Kami berdua sepenuhnya menyerahkan harapan ini kepada Allah. Tanpa Ibu bilang juga Asri mau menyusul Ai dan Mega." Bicara Asri malu-malu.
Ibu ikut tersenyum melihatnya. Dia mencubit pipi pucat putrinya tidak berniat tinggal lebih lama di kamar ini. Saat dia akan keluar dari kamar, Asri tiba-tiba menghentikannya.
"Bu, jangan tinggalkan makanan ini di sini. Aku tidak akan memakannya." Mencium baunya saja hidungnya tidak nyaman apalagi bila dia melihat makanan itu, membayangkannya membuat perut Asri bergejolak lagi.
"Kamu seriusan enggak mau makan makanan ini?" Ibu bertanya heran.
"Iya, bawa saja pergi, Bu. Aku nggak makan."
"Terus kamu sarapan pakai apa? Masa makan roti doang?" Ibu dengan heran mengambil nampan itu.
__ADS_1
Asri tersenyum. Faktanya dia tidak berniat makan roti. Entahlah, pikirannya sekarang setelah dipenuhi oleh buah peach. Membayangkan daging renyah dan lembut itu masuk ke dalam mulutnya membuat Asri langsung ngiler. Dia berharap suaminya segera pulang agar dia bisa memenuhi keserakahan mulutnya.
"Aku akan menunggu mas Arka pulang. Dia pasti membawa banyak makanan untukku." Kata Asri dengan nada bangga.
Ibu juga tahu kalau Arka keluar untuk membelikan Asri makanan.
Menghela nafas panjang, dia tidak menyangka bila putri yang dia besarkan dengan sederhana dan tidak pilih-pilih makanan, beranjak dewasa menjadi pemilih makanan. Cek, untung saja dia menikah dengan Arka pikir Ibu. Kalau tidak bersama Arka, Ibu tidak bisa membayangkan kesulitan yang akan dilalui oleh putrinya nanti.
"Baiklah, tunggu saja suami kamu pulang. Tapi jika kamu tidak tahan, keluarlah mengambil makanan di dapur. Jangan menahan diri di sini." Pesan Ibu tidak mendesaknya lagi.
Asri tersenyum lembut,"Aku mengerti, Bu."
__ADS_1
Ibu lalu keluar sambil membawa makanan yang belum disentuh oleh Asri. Bapak heran melihatnya dan bertanya kepada Ibu. Setelah dijelaskan secara singkat oleh Ibu, Bapak terdiam dan tidak memberikan komentar apa pun.