Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 185


__ADS_3

Asri bingung.


"Ya udah, kita minum itu aja, mas, biar enggak usah nyusahin bawahan mas Arka." Jalannya penuh rintangan, Asri enggak tega membiarkannya mereka ke sini.


Lagian juga di sini masih ada air kemasan jadi enggak perlu beli diluar.


Arka secara alami menggelengkan kepalanya menolak. Seumpama istrinya baik-baik saja maka tidak masalah menggunakan air di sini, toh ini hanya air biasa. Tapi situasi Asri kurang baik. Dengan kondisiku sekarang minum air putih yang sudah terjamin kandungannya sangat membantu pemulihan Asri. Tentu Arka akan memilih minuman yang terbaik untuk istrinya sebab dia berharap istrinya cepat pulih dan kembali ceria seperti sebelumnya.


"Sayang, aku mau kamu minum minuman yang terbaik karena situasi kamu sekarang membuatku cemas. Aku ajak pulang kamu enggak mau, paham kalau kamu ingin menghormati keluargamu. Tapi di ajak ke rumah sakit juga kamu enggak mau, padahal kamu membutuhkan pemeriksaan. Aku bingung, kamu menolak dua saranku jadi mau enggak mau kamu harus mendengar ku kali ini. Kalau kamu enggak mau pulang, maka patuh lakukan apa yang suami kamu minta. Dan kalau kamu enggak mau ke rumah sakit maka diam di sini menunggu dokter pribadi kita datang. Aku melakukan semua ini karena mau kamu baik-baik saja dan jangan sakit-sakit lagi, paham?" Tegas Arka tidak mau memberikan keringanan lagi untuk Asri.


Mau tak mau dia harus melakukan ini karena istrinya sendiri enggan bekerja sama. Ini sudah mencapai batasnya menoleransi suara Asri.


Ekspresi datar suaminya yang serius membuat Asri merasa sangat bersalah. Dia menyadari bahwa beberapa hari ini dia memang sedikit keterlaluan kepada suaminya. Untung saja Arka masih bersabar menghadapinya yang sulit diatur.

__ADS_1


"Iya, mas. Aku akan mendengarkan mas Arka...tapi, mas Arka jangan marah lagi ya sama aku? Aku takut melihat mas Arka marah." Asri menggoyangkan lengan suaminya memohon.


Arka tersenyum lembut. Dia merasa gemas dengan perilaku centil istrinya yang manja. Tak bisa menahan diri lagi dia langsung membawa Asri ke dalam pelukannya dan memeluk Asri sayang. Tangan besarnya mengusap punggung Asri sayang untuk berbagi kehangatan.


"Aku tidak akan marah selama kamu menurut kali ini." Ucap Arka tanpa menggunakan nada suaranya yang serius.


Sekarang dia jauh lebih santai.


Asri tertawa kecil,"Oh, apa hanya kali ini doang, mas?"


"Ah, mas!" Asri memegang pipinya yang digigit, enggak sakit tapi sensasinya aneh.


Agak panas.

__ADS_1


"Jangan macam-macam. Kalau enggak kamu pasti tahu akibatnya." Ancam Arka tertawa.


Suara tawanya aneh, rambut Asri langsung berdiri kedinginan. Mana mungkin dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh suaminya?


Memikirkannya saja membuat Asri merinding. Apalagi Arka sudah berjanji, sangat sukar diingkari. Ini enggak main-main.


"Iya, iya, mas. Ngomong-ngomong mas Arka tadi kenapa? Saat masuk ke dalam kamar aku memperhatikan ada yang salah dengan ekspresi mas Arka. Apakah sesuatu terjadi di kota?" Asri jadi kepikiran.


Suaminya orang yang sibuk banget dan gila kerja. Setelah menikah dengan Asri kebiasaan ini mulai melemah dan tidak segila dulu. Satu sisi Asri merasa lega tapi di sisi lain dia merasa bersalah karena Arka sering menghabiskan waktu di rumah dengannya.


"Alhamdulillah kota baik-baik saja." Arka menggelengkan kepalanya membantah.


Tetapi saat dia mengingat perkataan sombong Fina tadi, wajahnya langsung suram. Dia merasa jijik sampai-sampai mau muntah. Bisa-bisanya dia bertemu dengan wanita seperti itu. Entah kemana perginya urat malu wanita itu, bertindak seolah-olah dunia selalu beredar hanya untuknya.

__ADS_1


"Baru saja aku melihat sampah busuk di luar. Baunya sangat menyengat jadi aku minta tolong ke ibu agar sampahnya segera disingkirkan biar baunya enggak kemana-mana." Kata Arka samar, jelas berbohong.


__ADS_2