Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 181


__ADS_3

Setelah sholat subuh, satu demi satu orang keluar dari kamar termasuk pasangan pengantin baru. Rata-rata pengantin baru memiliki wajah merah merona ataupun senyum malu-malu di wajah setelah bermalam. Tapi pasangan Fina dan Doni justru sebaliknya. Mereka berdua tampak sangat tidak bahagia. Terutama Fina yang memiliki ekspresi paling jelas di wajahnya. Wajahnya suram, tanpa senyum sumringah nan malu-malu khas seorang pengantin. Dia tidak memiliki senyum di wajahnya, tapi lebih terlihat cemberut. Aura kesuraman telah memenuhi semua titik di wajahnya, meresap hingga ke pori-pori dan mengendap di dalam hati.


"Bapak sudah bangun. Pagi sekali?" Doni mengabaikan Fina, kemudian menghampiri bapak.


Bapak duduk di depan rumah dengan secangkir kopi mengepul di depan. Rutinitas sehari-hari yang dilakukan orang-orang di kampung, mereka minum kopi dulu sebelum sarapan.


"Iya, Don. Kamu mau kopi?" Tawar bapak.


Doni melambaikan tangan menolak,"Tak usah. Aku tidak biasa minum kopi sepagi ini."


Sementara Doni dan Bapak mulai mengobrol, Fina di dalam rumah duduk malas di ruang tengah bersandar di kursi kayu sambil memperhatikan pintu kamar Asri.


"Di saat semua orang bangun pagi-pagi, kenapa mereka belum bangun? Kak Asri terlalu manja. Apa dia pikir hidup di kota sama dengan di desa?" Gumamnya mengeluh.


Arka sudah sampai dan menginap di rumah ini, namun Fina masih belum bertemu dengannya sampai dengan detik. Padahal dia sudah sangat penasaran ingin melihat reaksi Arka. Ini semua gara-gara Asri jatuh sakit. Sok rapuh pikir Fina. Dulu saat masih tinggal di desa Asri tidak serapuh ini. Namun kenapa dia tiba-tiba begini setelah tinggal di kota?

__ADS_1


Oh, apa mungkin kak Asri sengaja pingsan agar Arka tidak bertemu dengan ku? Batin Fina berperasangka buruk kepada kakaknya sendiri.


"Aku akan membangunkan mereka." Fina tidak mau diam saja.


Dia nekat pergi ke depan pintu kamar Asri. Saat akan mengetuk pintu, Ibu tiba-tiba menghentikannya.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Nak?" Tanya Ibu curiga.


Bagaimana dia tidak curiga kepada putrinya yang satu ini? Fina pernah memiliki catatan buruk terhadap pernikahan Asri dan Arka. Ibu tidak mau anaknya terus seperti ini karena akan berimbas pada hubungan persaudaraan di antara Asri dan Fina di masa depan nanti. Masih baik dia dan bapak masih hidup sekarang, tapi bagaimana jika mereka berdua sudah meninggalkan dunia ini?


"Bu, aku akan membangunkan mereka. Ini sudah pagi, tak sepatutnya mereka bangun siang." Kata Fina kepada Ibunya.


Ibu menggelengkan kepalanya tidak setuju.


"Kakak kamu sedang sakit. Biarkan saja dia beristirahat lebih lama. Kalau dia sudah merasa baikan, dia dan suaminya pasti keluar tanpa kamu panggil." Ibu menjelaskan dengan nada serius kepada putrinya.

__ADS_1


Fina tidak percaya Asri sakit. Dia pikir palingan Asri sengaja tidak keluar karena tidak mau berinteraksi dengan orang-orang desa. Lagian dia mengenal dengan baik kakaknya itu, dan dua tahu betul kalau kakaknya tidak lemah nan rapuh.


"Bu, aku yakin kakak sudah baik-baik saja. Dia tidak keluar karena tidak mau berbaur dengan kita, orang desa. Lagian ini bukan kota, Bu. Kakak tidak boleh bermanja-manja. Ini bukan kota, tapi desa. Kita punya aturan dan tidak sewenang-wenang seperti orang-orang di kota. Kalau kak Asri-"


Cklak


Pintu kamar tiba-tiba dibuka. Fina terkejut, dia bahkan lupa menutup mulutnya yang masih menganga.


"Mas... Arka.."


Arka menatapnya tak ramah,"Pergi, istriku sedang sakit. Suaramu membuatnya terganggu." Lalu melirik Ibu dengan senyum sopan di wajahnya,"Bu, istriku masih tidak enak badan. Dia akan keluar menemui Ibu setelah kondisinya membaik."


Ibu mengangguk dengan bodoh.


"Ya...ya, tentu saja. Jangan pedulikan kami. Biarkan saja Asri beristirahat di dalam."

__ADS_1


Arka tersenyum lembut,"Terima kasih, Bu. Kalau begitu aku akan menutup pintu."


__ADS_2