
Ia membawa tangannya melingkari pinggang ramping Ai, menarik Ai lebih dekat lagi dengannya. Ustad Vano sangat mencintai gadis ramping nan rapuh yang ada di dalam pelukannya ini. Jika bukan karena kewajibannya untuk mencari nafkah, ia mungkin sudah bermanja-manja pada istrinya ini setiap setiap hari. Atau kalau tidak, ia ingin sekali ada untuk istrinya di setiap waktu tanpa perlu takut berjauhan.
Karena baginya segala sesuatu yang berhubungan dengan Ai itu penting, sangat penting. Semuanya akan menjadi penting bila berhubungan dengan istrinya.
"Ini tidak sering terjadi, Mas." Jawab Ai seraya menghirup dada bidang suaminya.
Hem, suaminya memiliki wangi yang sangat menenangkan. Tidak mencolok namun juga tidak samar, intinya wangi ini pasti membuat Ai segera tenang begitu menciumnya.
"Tapi datangnya sudah berkali-kali'kan?" Ustad Vano memastikan dengan cemas.
Dia mengeratkan pelukannya di tubuh ramping istrinya, mencium puncak kepala Ai untuk menenangkan kekhawatirannya yang muncul kembali karena memikirkan kesehatan istrinya. Ia bertanya-tanya penyebab istrinya seperti ini, mungkinkah itu karena ia tidak lagi menahan diri saat di atas ranjang?
Karena Mama dan Papa sebelumnya sudah menegaskan untuk tidak memaksa istrinya karena tubuh istrinya cukup rentan.
"Hanya beberapa kali, Mas. Tapi gak serius kok, kalau Ai tiduran sebentar pusingnya akan hilang jadi Mas Vano tidak perlu khawatir, yah?"
__ADS_1
Ai tahu bahwa suaminya sangat khawatir sekarang jadi ia berusaha untuk membuat suaminya percaya bahwa ia baik-baik saja. Ini hanya masalah biasa dan tidak akan memiliki dampak buruk di dalam tubuhnya.
"Gak bisa, sayang." Bisik Ustad Vano menolak. Dia lalu berkata seraya membawa tatapannya menatap Ai,"Kita akan pergi ke rumah sakit yah, aku takut kamu kenapa-kenapa."
Ai tidak suka dengan rumah sakit, tapi tidak benci. Bila disuruh memilih lebih baik tidak datang ke sana. Karena rumah sakit selalu mengingatkannya pada hari dimana kedua orang tua kandungnya ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa di sebuah gudang karena disekap tanpa makan ataupun minum.
Itu adalah sebuah kenangan yang sangat menyakitkan.
"Jangan ke rumah sakit. Ai tidak suka tempat itu." Tolak Ai langsung.
"Kalau begitu ajak Papa sama Mama ke rumah?" Ustad Vano mencari jalan alternatif.
Ustad Vano juga setuju dengan pendapat istrinya,"Baiklah. Kita akan ke sana dua hari lagi setelah semua pekerjaan ku beres."
"Hem." Bisik Ai mulai menyamankan kembali posisinya di dalam pelukan sang suami. Begitu menghangatkan dan memiliki wangi yang harum, perlahan kelopak mata Ai mulai terasa berat, lalu beberapa detik kemudian dia jatuh tertidur di dalam pelukan sang suami.
__ADS_1
"Sayang, hari ini kamu masak apa?" Ustad Vano mengganti topik pembicaraan.
Namun, Ai sudah jatuh tertidur dan ia belum menyadarinya.
"Aishi?" Ustad Vano menunduk dan mendapati istrinya sudah masuk ke alam mimpi.
"Kamu selalu seperti ini," Bisik Ustad Vano tidak berdaya. Dia mengecup kening istrinya sayang sebelum membawanya naik ke kamar mereka di lantai dua.
...🍃🍃🍃...
Suara orang mengaji mulai terdengar dari pengeras suara masjid, itu artinya sudah hampir 4 jam berlalu sejak mereka masuk ke dalam kamar dan beberapa menit lagi azan magrib akan segera berkumandang.
Rasanya sungguh melelehkan. Badan Asri di beberapa tempat yang tidak bisa dikatakan terasa tidak terlalu nyaman untuk digerakkan sedikit saja. Seharusnya dengan kondisi seperti ini Asri lebih baik tidur saja tapi ia tidak bisa melakukan itu semua karena waktu sholat magrib sebentar lagi masuk.
Maka, mau tidak mau ia harus menegakkan dirinya untuk menjawab panggilan Sang Pencipta.
__ADS_1
Benar, salahkan saja suaminya yang tidak tahu malu dan waktu. Jika mereka setidaknya menunda sampai waktu malam masuk maka ia bisa beristirahat dan tidur.
"Capek, hem?" Tanya Arka di samping.