Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 69


__ADS_3

"Oh, benarkah?" Riani tersenyum puas, seperti yang ia duga Asri pasti akan terpancing cepat atau lambat.


Hah,


Gadis dungu ini sesungguh sangat tidak layak untuk Pamannya dan hampir semua orang di rumah setuju dengan pendapat ini.


Selain karena Asri masih belum dewasa, Asri juga terlahir dari keluarga miskin dan memiliki pendidikan yang rendah- ah, lebih tepatnya ia putus sekolah!


Cek...cek...


Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh gadis desa ini?


Ia tidak bisa memberikan kebanggaan untuk keluarga mereka dan malah, justru mempermalukan keluarga besar mereka. Asri juga tidak memiliki bakat seperti yang dimiliki oleh Lisa, tidak seperti Asri, wanita cantik dan berpendidikan tinggi itu berbakat dalam hal dapur maupun pekerjaan. Ia juga berasal dari keluarga terpandang sehingga Pamannya lebih cocok bersanding dengan Lisa.


"Bagaimana jika aku mengatakan bila Paman Arka telah berbohong kepadamu?"


Asri menggelengkan kepalanya mengenyahkan kemungkinan itu. Arka adalah pria yang jujur, dia tidak mungkin membohonginya.


"Mas Arka tidak mungkin berbohong." Asri yakin itu.


"Oh astaga... haha.." Riani tertawa, merasa lucu dengan keyakinan teguh Asri.

__ADS_1


"Lalu bisakah kamu menjelaskan ini kepadaku?" Riani menaruh ponselnya di atas meja dan mendorongnya ke hadapan Asri.


Di layar ponsel yang sedang menyala itu terdapat foto Arka yang sedang menarik koper di tangan kirinya, lalu tangan kanannya....


Di tangan kanannya ada tangan putih nan ramping yang melingkarinya dengan intim- ah, mungkin lebih tepatnya mereka berpegangan tangan bersama. Pemilik tangan ramping yang sedang digenggam oleh Arka adalah seorang gadis cantik- dia terlihat sangat cantik. Wanita itu memiliki penampilan yang sangat menarik. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai dengan makeup tipis di wajah yang sangat cocok dipadukan oleh dress merah muda selutut. Di dalam foto itu, ia tersenyum manis di samping Arka, tepat di samping suami yang tadi pagi beralasan pergi ke kantor dan bukan ke bandara.


Asri sepenuhnya bungkam, ia mengamati pakaian yang suaminya kenakan di dalam foto itu. Tidak ada yang salah, itu adalah kemeja biru muda dan jas hitam yang Arka gunakan tadi pagi untuk pergi ke kantor.


Tidak, itu hanyalah alasan suaminya saja karena faktanya dia tidak pernah pergi ke kantor. Dia telah membohonginya!


"Urusan kantor?" Ustad Azam mengernyit.


"Iya, Ustad Azam tidak tahu?" Tanya Asri bingung.


Pantas saja, pantas saja Ustad Vano dan Ustad Azam tampak sangat kebingungan tadi pagi. Ternyata inilah alasannya bahwa suaminya tidak pergi ke kantor melainkan pergi ke bandara untuk menjemput Lisa!


Lisa, wanita dari masa lalu suaminya. Wanita yang ingin dilupakan oleh suaminya tapi kenapa hari ini suaminya berbohong dan pergi menjemput wanita yang seharusnya dilupakan?


Mungkinkah mereka masih memiliki rasa untuk satu sama lain, atau yah... seperti yang Asri dengar hari itu bahwa suaminya berencana untuk kembali dengan Lisa.


"Nah lihat sekarang, apa kamu masih ingin membatah ku?" Tanya Riani merasa di atas angin.

__ADS_1


Ia puas sepenuhnya melihat wajah pucat Asri yang tidak bisa mengatakan apa-apa untuk membantah foto itu.


Asri menghela nafas panjang menahan kecewa juga sakit dihatinya. Kedua matanya memerah akan menangis- namun karena tidak ingin terlihat lemah di depan Riani, ia menanggung semuanya dalam diam.


"Mas Arka pasti memiliki alasan untuk melakukan ini." Asri merasa jawabannya ini cukup lucu.


Memangnya alasan apalagi yang dibutuhkan untuk semua ini?


Berbohong pergi ke kantor padahal faktanya pergi ke bandara untuk menjemput Lisa dan mereka... mereka juga berpegangan tangan bersama selayaknya sepasang kekasih yang saling mencintai-


Asri benar-benar tidak ingin memikirkannya, sungguh. Karena rasanya... rasanya sangat menyakitkan.


"Alasan apalagi? Tidakkah semua ini sudah cukup menjelaskan semuanya? Tidakkah semua sudah cukup membuat kamu mengerti?" Riani bertanya tidak habis pikir dan merasa agak gemas.


Dia tidak mengetahui apakah kepala Asri terbuat dari batu atau tidak karena bagaimana mungkin ia masih keras kepala setelah melihat semua ini?


"Dia pasti memiliki alasan lain." Asri masih memberikan jawaban yang sama, padahal hanya Allah yang tahu betapa hancur hatinya saat ini.


Ia telah dikecewakan oleh suami yang berjanji menjadikannya sebagai satu-satunya wanita di dalam hatinya.


"Oh, kamu masih keras kepala rupanya." Kata Riani sambil mengambil ponselnya yang ada di atas meja.

__ADS_1


Jari-jari tangan lentiknya yang memiliki kuku panjang dan telah dicat dengan kutek cantik bergerak cepat di atas layar ponsel untuk mencari sesuatu yang telah dipersiapkan untuk diberikan kepada Asri sebagai hadiah atau kejutan lainnya.


"Lalu bagaimana dengan ini?" Riani kembali meletakkan ponselnya di atas meja, mendorongnya ke hadapan Asri sebelum menekan tombol klik pada video pendek.


__ADS_2