
Baik Bapak maupun Ibu sudah menjelaskan situasi ini kepada Fina dengan serius. Mereka mengatakan untuk menghemat pengeluaran karena mungkin sebentar lagi mereka akan segera kembali ke desa, mereka tidak bisa tinggal di rumah ini selamanya meskipun secara hukum rumah dan tanah ini telah sah menjadi milik mereka.
Mereka pikir Fina akan mengerti dan tidak akan bersikeras pulang ke rumah setelah dijelaskan bagaimana situasi di sini, tapi yang mengherankan adalah Fina tidak hanya tidak nekat pulang namun ia juga tampak sangat bahagia. Ia pulang ke rumah dengan penampilan yang lebih asing lagi dari sebelumnya. Dia tidak hanya tidak pandai berdandan, namun juga menggunakan pakaian yang cukup ketat sehingga menampilkannya lekukan tubuhnya.
Bapak dan Ibu kaget sebenarnya, apalagi saat melihat perubahan ini. Walaupun mereka akui Fina kian cantik dengan penampilan ini namun mereka sebagai orang tua tidak bisa mendukung perubahan ini karena Fina menunjukkan sisi negatif. Berjilbab memang, tapi jilbab tiada gunanya bila lekukan tubuh yang lain dibiarkan terlihat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128).
Di antara maksud dari berpakaian namun telanjang adalah menyingkap aurat, berpakaian tipis, termasuk pula berpakaian ketat yang menampakkan bentuk lekuk tubuh.
Naudzubillah, mereka sebagai orang tua sungguh tidak ingin putri mereka jatuh ke jalan yang salah.
__ADS_1
"Benar, Pak, ini suara Asri. Kita lihat keluar yuk, Pak." Ibu dan Bapak lalu bangun dari duduk mereka yang juga disusul oleh Fina.
Dia ingin ikut keluar tapi segera dilarang oleh Bapak,"Kamu gak boleh keluar dengan pakaian seperti ini." Larang Bapak.
Fina tidak suka dilarang, ia sangat menyukai penampilannya hari ini.
"Kenapa sih, Pak? Pakaian Fina kan gak aneh." Katanya heran.
Bapak menggelengkan kepalanya tidak bermaksud seperti itu.
"Tidak aneh tapi tetap dosa jika dibiarkan. Cepat ganti atau jangan keluar bersama kami." Kata Bapak tegas tidak mau memberikan Fina jalan untuk bernegosiasi.
"Bapak terlalu agamis jadi orang, dikit-dikit bawa agama! Dikit-dikit bawa dosa! Kapan hidup bisa tenang kalau apa-apa selalu disangkutpautkan sama agama!" Kata Fina dongkol seraya masuk ke dalam kamarnya.
Karena kesal, ia sengaja menghentak-hentakkan kakinya sehingga menimbulkan suara. Niatnya ingin membuat Bapak menarik kata-katanya, tapi bukannya menarik kata-katanya, Bapak malah membiarkannya pergi begitu saja. Hah...dia benar-benar tidak habis pikir betapa kolot Bapak dan Ibu, padahal pakaian yang ia kenakan hari ini adalah pakaian yang sedang trend-trend nya di media sosial.
__ADS_1
Setiap buka media sosial, ia pasti akan menemukan pakaian fashionable dan kekinian dimana-mana.
"Astagfirullah, Fina kok lama-lama semakin berubah ya, Bu." Kata Bapak sedih.
Ibu juga tidak kalah sedihnya,"Ibu juga gak tahu, Pak. Fina tidak hanya berubah tapi juga semakin menjauh dari kita."
Bapak menghela nafas panjang lagi. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi suara teriakan Asri kembali mengingatkannya bahwa sang putri tertua sedang mengalami masalah. Khawatir terjadi sesuatu, Bapak dan Ibu langsung keluar dari rumah.
"Astagfirullah, Nak! Kamu kenapa nangis?" Ibu dan Bapak terkejut melihat putri mereka datang dengan keadaan berurai air mata.
Asri kian mempercepat langkahnya mendekati kedua orang tuanya, dia sungguh ingin mengadu kepada mereka. Akan tetapi semua rencananya segera menguap entah kemana ketika merasakan kakinya sudah tidak berpijak lagi di tanah dan pandangannya pun berputar 180 derajat.
Dia digendong- atau mungkin lebih tepatnya dia dipikul. Benar dia dipikul dan pelakunya tiada lain dan tiada bukan adalah Arka sendiri yang entah sudah sejak kapan berada di sini. Dia datang dengan cepat menyusul Asri ke rumah ini dan segera membawa Asri ke bahunya sebelum bisa melarikan diri lagi.
Bapak dan Ibu yang baru menyadari kedatangan Arka,"Tu-Tuan... apa yang sedang Tuan lakukan?" Nasib putri mereka sedang dipertaruhkan di sini.
__ADS_1
Arka di halaman menyunggingkan senyuman lebar,"Tolong maafkan keributan yang dibuat oleh istriku, Bu. Aku janji setelah hari ini dia tidak akan membuat ulah untuk kalian lagi."
Bapak dan Ibu membuka mulut mereka beberapa kali ingin mengatakan sesuatu, akan tetapi karena alasan yang tidak diketahui mereka agak ragu mengungkapkannya.