
"Hah, maksud kamu apa? Memangnya ada apa dengan istriku?!" Ustad Vano terdengar sangat cemas di seberang sana.
Bagaimana dia tidak merasa cemas. Istrinya sedang mengandung bayinya yang baru berumur dua bulan. Saat-saat ini adalah waktu yang sangat rentan untuk istri maupun bayinya. Bila terjadi sesuatu yang membahayakan untuk istrinya, maka resikonya akan berdampak pada bayinya yang masih dalam masa pertumbuhan. Jujur, Ustad Vano memang mencintai bayinya tapi bukan berarti dia mau mempertaruhkan kehidupan istrinya. Daripada membiarkan bayi itu ada, Ustad Vano lebih suka mempertahankan kehidupan istrinya. Hanya saja sang istri mungkin tidak akan sekuat dia. Dia pasti tidak akan bisa merelakan bayi itu pergi. Karena itulah Ustad Vano bertekad untuk menjaga kesehatan batin dan fisik istrinya selama mengandung.
Agar istri maupun bayinya selamat.
"Seorang gadis," Mega melirik gadis itu dengan tatapan mencemooh."Dia diam-diam menyebarkan fitnah bila Alsi dan Ai adalah seorang monster di sekitar perumahan kita. Dari tindakannya Ustad Vano harus dapat menafsirkan tujuan gadis itu melakukan ini. Ustad Vano tidak perlu ku jelaskan lagi." Sambung Mega tanpa emosi di suaranya.
Tubuh gadis itu langsung menegang. Di dalam matanya ada emosi yang sangat kompleks dalam dua sisi. Satu sisi dia ketakutan mendengar jawaban apa yang akan Ustad Vano katakan tapi satu sisi yang lain, hatinya berdegup kencang menantikan jawaban itu.
Bagaimana menjelaskannya...dia berharap bila Ustad Vano menanggapi perasaan yang telah tumbuh mengakar di dalam hatinya.
Tapi,
__ADS_1
Harapannya terlalu tinggi karena,
"Apakah putri dan istri ku benar-benar dilibatkan dalam masalah ini?" Suara Ustad Vano rendah.
Mega tersenyum senang,"Ya, Alsi sekarang sedang ditenangkan oleh Ai. Mereka berdiri cukup jauh dari kami." Artinya Ai tidak tahu Mega menghubungi Ustad Vano karena dia sangat fokus menenangkan sang putri.
"Lalu bagaimana keadaan mereka berdua?"
Tersenyum dingin,"Alsi sempat menangis dan Ai, apa aku masih perlu mengatakannya?"
Istrinya baru saja menghirup udara bahagia atas keberadaan bayi mereka tapi sudah dibuat sedih hari ini karena masalah ini, masalah yang sama.
"Baiklah, sekarang aku mengerti. Rasanya melelahkan menghadapi masalah ini. Monoton dan sangat mengganggu. Menggunakan lidah saja tidak cukup dan tidak berarti apa-apa. Maka aku tidak punya cara selain melibatkan hukum untuk menyelesaikannya. Mega, tolong sampaikan kepada gadis itu untuk mempersiapkan pengacaranya. Bila dia belum cukup umur, silakan beritahu kedua orang tuanya, tapi jika tidak, dia bisa maju untuk menyelesaikannya. Sebagai seorang suami dan seorang Ayah, aku tentu tidak berharap bahwa istri dan putriku diganggu kehidupannya oleh orang lain. Karena bahagia mereka adalah bahagia ku juga. Jika aku hanya menegur mereka dengan lidah saja, kesalahan ini tidak menutup kemungkinan bisa terjadi berulang-ulang karena tidak ada sanksi yang pasti. Tapi tidak, aku memutuskan untuk membawa masalah ini ke kantor polisi atas dasar pencemaran nama baik. Sisanya aku akan berkonsultasi dengan kuasa hukum keluargaku apakah memungkinkan bila gadis itu melanggar pasal yang lain." Suara barang-barang berderit di seberang sana, kemudian Ustad Vano berkata,"Nah, tolong bawa anak dan istriku pulang. Katakan kepada mereka bila aku akan pulang satu jam lagi." Kata Ustad Vano kepada Mega.
__ADS_1
Mega buru-buru bertanya,"Lalu bagaimana dengan suamiku, Ustad? Aku juga mengalami trauma bertemu dengan gadis aneh itu jadi bisakah suamiku segera pulang?"
Ngomong-ngomong dia tidak ingin menjadi bola lampu di rumah. Meskipun ada Asri juga di rumah tapi tetap saja rasanya tidak nyaman melihat orang lain bermesra-mesraan sedangkan dia sendiri kesepian.
Mulut Ustad Vano berkedut menolak untuk percaya, daripada Mega trauma, Ustad Vano lebih percaya jika gadis itu lah yang trauma berhadapan dengannya.
"Baiklah, aku akan menyampaikannya kepada Azam."
Mega tersenyum lebar,"Terima kasih Ustad."
Setelah mengucapkan salam, sambungan telepon pun terputus.
"Apa kamu mendengarnya?" Tanya Mega masih angkuh.
__ADS_1
Wajah wanita itu sangat pucat dan ketakutan. Telapak tangannya berkeringat dingin dan lidahnya terasa kelu tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
"Kamu sudah dewasa maka tolong siapkan pengacara mu untuk masalah ini. Dan yah, selamat berjumpa di pengadilan nanti."