Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 187


__ADS_3

Arka menahan nafas.


Di sini tidak ada toko buah, kalaupun ada itu cuma dagangan biasa dan tidak selengkap di supermarket. Masalahnya sekarang tempat ini tidak hanya tidak memiliki toko buah tapi juga tidak memiliki supermarket!


Kemana dia pergi mencari buah ini?


Tapi belum terlambat. Dia bisa minta anak buahnya untuk membawa buah ini saat mengirimkan pesanannya ke sini.


"Aku akan meminta anak buahku membawakan kamu buah ini nanti." Kata Arka akhirnya memiliki solusi.


Tapi Asri menolak gagasan ini. Dia menggelengkan kepalanya tak mau.


"Aku mau mas Arka sendiri yang beliin aku." Kata Asri ngotot.


Arka merasa pusing.


"Tapi di sini enggak ada toko buah atau supermarket, sayang. Kalau mau beli buah kita harus ke kota." Dan jaraknya enggak main-main, Asri sangat memahaminya.

__ADS_1


Tapi untuk suatu alasan yang tidak dia ketahui, dia merasa tidak perlu memahaminya. Dia hanya ingin makan buah yang suaminya belikan langsung.


"Tapi aku maunya mas Arka beliin aku. Tumben aku minta sesuatu sama mas Arka. Masa mas Arka enggak mau penuhi permintaan aku sekali aja?" Katanya protes.


Dia kesal karena baru kali ini dia meminta suaminya melakukan sesuatu untuknya. Itupun permintaannya enggak besar dan macam-macam, cuma mau makan buah kok tapi kenapa suaminya seperti orang yang enggan?


"Okay, kamu beneran mau makan sekarang? Enggak bisa ditunda besok waktu kita balik ke kota?" Arka merasa enggak enak menolak permintaan istrinya.


Sebenarnya Arka enggak mempermasalahkan jauh atau enggaknya, demi Asri apapun akan dia lakukan. Hal yang membuatnya enggan pergi adalah karena dia harus meninggalkan istrinya di sini. Nggak mungkin dia membawa istrinya pergi keluar kota, menempuh perjalanan jauh dengan situasi seperti ini. Maka mau enggak mau dia harus meninggalkan istrinya di rumah ini. Tapi dia tidak mau melakukan itu. Entah kenapa dia selalu merasa bila beberapa laki-laki di desa ini sepertinya agak tertarik dengan istrinya.


Soalnya kemarin waktu dia dan istrinya keluar dari mobil beberapa orang sering mencuri pandang ke arah istrinya. Arka merasa cemburu dan mulai khawatir, sampai-sampai tidak memperhatikan bila dirinya juga telah mendapatkan perhatian banyak gadis desa kemarin.


Ketika bangun tidur hal pertama yang dia cari adalah makanan.


Arka tersenyum lembut. Tangan besarnya mengusap puncak kepala istrinya sayang. Entahlah, dia mudah lemah melihat istrinya mulai bersikap manja seperti sekarang.


"Baiklah, aku akan memenuhi keinginan kamu dasar kucing serakah." Mencubit puncak hidung istrinya gemas.

__ADS_1


Asri tertawa senang. Bersandar nyaman di dada bidang suaminya yang kokoh, rasanya sungguh manis.


"Aku memang semanis kucing, tidak apa-apa rakus. Kucing makannya enggak banyak." Timpal Asri suka dengan panggilan barunya.


Kucing makhluk imut, memangnya siapa yang enggak mau dipanggil kucing?


"Iya...iya yang semanis kucing. Kamu mau apa lagi selain buah peach?"


Asri berpikir sejenak. Dia tidak menginginkan apa-apa selain buah ini. Untuk sekarang yang ada dipikirannya cuma buah ini.


"Cukup ini aja, mas."


"Beneran cukup?" Arka ragu.


Asri mengangguk yakin.


Mengusap puncak kepalanya sayang.

__ADS_1


"Oke, cukup ini aja. Tunggu aku balik. Sementara aku pergi kamu enggak boleh pergi kemana-mana ataupun keluar rumah. Kalau enggak kamu akan mendapatkan hukuman dariku setelah balik nanti. Dengar?" Arka mengambil kunci mobil sambil berbicara serius dengan istrinya.


Asri berulang kali menganggukkan kepalanya. Tanpa perintah dari suaminya pun dia juga tidak mau keluar dan malah lebih suka rebahan di dalam kamar. Dia mageran dan enggak mau kemana-mana.


__ADS_2