Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
45. Menunggu Istri


__ADS_3

Di tambah lagi pembicaraan Bibi Mei dan Ai yang masih menjadi misteri untuknya. Ustad Vano ingin bertanya tapi ia tahu jika ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakannya. Istrinya benar-benar terguncang, bahkan sampai memberikan penolakan berkali-kali dan menangis terisak- ya Allah, setiap kali memikirkannya, Ustad Vano akan lebih marah lagi kepada dirinya sendiri.


Dia tidak bisa mempercayainya bahwa wanita yang paling ia cintai dan sayangi dilukai oleh dirinya sendiri.


"Mempersulit?" Rani bertanya heran.


Dia tidak mempersulit Ustad Vano, tidak itu tidak terjadi sama sekali. Ia hanya duduk beberapa detik saja tapi sudah diberikan reaksi penolakan dan bahkan keningnya pun menjadi korban.


Jadi bagaimana mungkin ia mempersulit Ustad Vano disaat yang terluka adalah dirinya sendiri!


"Lagipula ini sudah malam, sudah saatnya kalian tidur. Tidak baik berada di sini karena kami semua telah memiliki istri. Takutnya, akan timbul fitnah yang tidak diinginkan bila kalian terus di sini." Artinya jelas, ia ingin mereka berdua segera masuk ke dalam kamar atau semuanya tidak akan merasa nyaman.


Pengusiran secara halus ini tentu saja disadari oleh Rani dan Riani. Seketika perasaan mereka berdua menjadi dingin. Apalagi tatapan dingin tak bersuhu tinggi Ustad Vano arahkan kepada mereka berdua, seolah-olah keberadaan mereka berdua di sini sangat mengganggu bidang penglihatannya.


Sementara itu, Rani mengepalkan kedua tangannya menahan luka, rasanya sakit sekali mendengar Ustad Vano menegaskan bila ia sudah menikah dan memiliki istri, artinya ia tidak mau terlibat apapun yang membuat Ai nantinya menjadi salah paham.


"Tapi... bukankah kalian berkumpul di sini untuk berbicara dengan kami?" Riani yang tidak mengetahui situasi masih saja bertanya.


Ustad Vano tidak lagi berminat melayani mereka berdua, ia merebahkan dirinya kembali di atas sofa, menarik selimut dengan kedua kaki tertekuk untuk melindungi kakinya. Ia agak trauma sebenarnya.


"Siapa bilang?" Ujar Ustad Vano malas mulai memejamkan matanya.


"Aku di sini tentu saja karena ingin menunggu istriku." Sambungnya membuat Rani dan Riani seketika tercengang.


Ustad Vano heran, ia bertanya-tanya apakah mereka berdua tidak menyadarinya?


Jelas-jelas ruang keluarga berhadapan langsung dengan kamar tamu yang Ai, Mega, dan Asri tempati. Jadi tanpa bertanya pun seharusnya Rani dan Riani menyadarinya'kan?


"A..aku.." Rani kesulitan mengatakan kata-katanya.


Malu bercampur panik, ia menatap sang adik yang juga memiliki ekspresi yang sama dengan dirinya.


Mereka pikir Ustad Vano, Ustad Azam, dan Arka di sini karena ingin mengobrol dengan mereka, pasalnya ini adalah ruang keluarga, tempat semua orang berkumpul bersama dan berbincang-bincang hangat sampai larut malam.

__ADS_1


Tapi siapa yang menyangka bila mereka hanya besar kepala saja karena faktanya, keberadaan mereka bertiga di sini hanya untuk menunggu istri masing-masing- oh, apakah Riani bisa berharap bila Ustad Azam di sini untuk mereka?


"Kalian..di sini?" Bodohnya, Rani ingin sekali membungkam mulut adiknya agar jangan bertanya lagi karena dari mulut Ustad Vano saja ia menyadari bila Ustad Azam dan Arka sama dengan Ustad Vano.


Mereka sedang menunggu istri masing-masing!


"Aku di sini untuk menunggu istriku." Ustad Azam menjawab tanpa mengangkat kepalanya.


"Yah, aku di sini juga menunggu istriku." Ujar Arka santai namun suasana hatinya benar-benar sedang buruk.


Ustad Vano, Ustad Azam, dan Arka memiliki tujuan yang sama di sini, berharap bila ada sebuah keajaiban. Keajaiban dimana istri mereka keluar dari kamar tamu dan mencari mereka untuk tidur bersama.


Hei, mereka bertiga adalah pasangan pengantin baru, okay!


Mereka harusnya tidak terpisahkan dan mengalami hari yang manis-manis!


"Oh..." Riani menjadi malu sendiri.


Padahal tadinya dia sudah berharap berbicara dengan Ustad Azam, ah!


"Kalau begitu, sambil menunggu mereka keluar bisakah aku menemani mu berbicara?"


Ustad Azam tertegun, setelah Ustad Vano sekarang giliran ia yang diganggu. Ustad Azam terperangah melihat keberanian Riani mendekatinya, ia bertanya-tanya apakah kepala Riani mengalami masalah atau pendengarannya yang mengalami masalah?


Menghela nafas panjang, Ustad Azam tiba-tiba mengerti apa yang dirasakan oleh sahabatnya tadi.


"Bukankah Kakak sepupu mu sebelumnya sudah mengatakannya?" Tanya Ustad Azam dengan wajah datar nan dinginnya.


Dia bertanya tanpa mengangkat kepalanya menatap Riani yang kini tengah memperhatikannya di samping.


"Ayo kita kembali ke kamar, dek." Rani mengambil tangan adiknya ingin pergi, tapi Riani masih keras kepala dan tidak mau beranjak dari tempatnya berdiri.


"Tapi kita hanya mengobrol-"

__ADS_1


"Aku takut fitnah, tidak bisakah kamu mengerti ini?" Potong Ustad Azam dingin.


Tapa meliriknya,"Tidurlah, jika kamu masih tidak mau mendengar, maka tidak akan terlambat mengirim kalian pulang sekarang." Ancamannya berhasil membuat Rani dan Riani ketakutan.


Mereka tentu saja tidak mau keluar dari rumah- tidak, setidaknya tidak untuk saat ini.


"Kak Azam jangan salah paham, adikku masih belum mengantuk jadi dia berinisiatif ingin mengobrol dengan Kakak agar kantuknya hilang. Dan kami tidak tahu jika ini membuat Kak Azam terganggu, tolong maafkan adikku." Rani buru-buru membuat alasan agar Ustad Azam mau memakluminya.


Sekalipun ia tahu alasan ini terdengar amat sangat klise, namun ia masih berharap bila Ustad Azam menerimanya.


Berbanding terbalik dengan harapan Rani di sini, Ustad Azam justru mendengus tidak perduli. Ia menyandarkan kepalanya di pegangan sofa, melakukan tindakan hal yang sama seperti Ustad Vano.


Sementara itu Arka, laki-laki yang tidak pernah ada bosan-bosannya mengamati sikap kedua keponakan malangnya ini akhirnya mengeluarkan suara.


"Tidurlah, besok pagi aku akan meminta supir mengantar kalian pulang." Kehadiran mereka telah membuat rumah menjadi kacau.


Rani memohon tidak ingin dipulangkan,"Paman Arka tolong jangan seperti ini. Aku dan Riani berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi asalkan-


"Patuh lah, Rani." Potong Arka dengan nada yang sangat tenang.


Rani terdiam, ia menggenggam erat tangan adiknya sebelum beranjak pergi.


"Kalau begitu kami akan tidur, Kak Vano, Kak Azam, dan Paman Arka, selamat malam. Besok aku akan bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan yang lezat untuk kalian semua." Ucap Rani sopan dan dengan nada lembut yang sama sebelum beranjak pergi ke kamar tamu yang telah disiapkan untuk mereka.


Rani dan Riani kembali ke dalam kamar dalam keadaan suasana hati yang buruk. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, setidaknya untuk saat ini. Dan yang lebih membuat panik lagi jika besok mereka harus segera keluar dari rumah ini.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Besok pagi kita akan dipulangkan padahal ini adalah kesempatan yang bagus bisa menginap di sini!" Pusing Riani.


Sebelumnya mereka pernah meminta untuk menginap tapi tidak ada yang menggubris, sekarang setelah mereka diizinkan menginap karena 'kebaikan' Mega, mereka mendapatkan sebuah masalah dan terancam dipulangkan.


"Apa lagi?"


"Dek, telpon Mama. Minta Mama membuat alasan apapun kepada Paman Arka agar kita bisa tinggal di sini lebih lama." Perintah Rani seraya memijat keningnya yang terasa pusing.

__ADS_1


Mereka hanya bisa mengandalkan Bibi Mei untuk saat ini.


Bersambung...


__ADS_2