
"Kamu semakin menggoda jika sedang marah." Bisik Arka dengan suara seraknya yang menggoda.
Kedua telinga Asri langsung terbakar mendengar suara husky suaminya yang seksi. Dia sangat malu dan tanpa sadar menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Asri dan Arka adalah pasangan yang sedang dimabuk cinta sehingga interaksi ataupun perhatian sekecil apapun pasti langsung berkesan dalam di dalam hati masing-masing. Terutama untuk Asri sendiri yang pada dasarnya memang pemalu.
Sikap pemalu nya selalu datang dari dalam dirinya sendiri dan tidak pernah dibuat-buat. Terlihat manis namun pada saat yang bersamaan sangat menggemaskan. Arka tidak bisa menahan diri untuk memeluk pinggang istrinya lebih erat lagi.
Namun, untuk Fina, sang adik yang telah bercita-cita tinggi menarik perhatian Arka menganggap bahwa sikap pemalu Asri terlalu palsu dan terkesan dibuat-buat. Dia sangat cemburu, hatinya terbakar karena rasa iri dan dengki yang tumbuh entah sejak kapan.
"Mas Arka, lama tidak bertemu." Seolah tidak melihat apa-apa, Fina menebalkan wajahnya untuk menyapa Arka.
"Mengapa kamu ada di sini?" Tanya Arka bahkan tanpa melihatnya.
Pertanyaannya membuat Asri sadar dan mengingat kembali bila Fina juga ada di sini.
__ADS_1
"Fina mengambil cuti dari kampusnya, Mas." Jawab Asri membuat Fina kesal.
Yang ditanya Arka adalah Fina tapi yang menjawab pertanyaan Asri, bagaimana coba Fina tidak kesal?
"Aku merindukan rumah, Mas. Jadi aku mengambil cuti beberapa hari dari kampus dan pulang ke sini." Kata Fina dengan nada sabar yang cukup langka.
Arka mengernyit. Tangan besarnya mengusap kening istrinya yang berkeringat tanpa rasa jijik sedikitpun. Dia pikir istrinya pasti lelah berdiri di sini melayani para tamu, dan sekarang harus berhadapan dengan adiknya yang tidak tahu malu.
"Apa kampus itu adalah milikmu?" Tanya Arka dengan nada sarkas.
Mengapa Arka tiba-tiba melontarkan pertanyaan aneh ini kepadanya?
Untuk sesaat otak 'pintar' Fina tidak bisa mencerna pertanyaan Arka dengan cepat.
__ADS_1
"Aku bertanya, apa kampus adalah milikmu sehingga bisa kamu datangi dan tinggalkan sesuka hati? Seolah-olah kamu adalah orang yang sangat sibuk." Terang Arka tanpa nada bersahabat.
Jika Fina pintar, dia pasti bisa melihat ketidaksenangan Arka kepadanya. Tapi jika dia terlalu 'pintar', maka sebanyak apapun Arka mengatakannya, dia mungkin tidak akan melihat ada yang salah dari Arka.
"Aku...aku hanya mengambil cuti beberapa kali..." Fina tiba-tiba merasa takut berhadapan dengan Arka.
Untungnya dia pintar, dia bisa melihat bila ada yang salah dari ucapan maupun nada bicara Arka. Tapi, mengapa Arka tiba-tiba memberikannya bahu dingin?
Apakah Asri pernah mengatakan sesuatu yang aneh-aneh kepada Arka mengenai dirinya? Memikirkan ini, Fina semakin tidak puas dengan Kakaknya.
"Apa Kak Asri mengatakan sesuatu yang aneh-aneh tentangku kepada Mas Arka-"
"Istriku bukanlah orang yang seperti itu." Potong Arka kian tidak senang.
__ADS_1
Sorot matanya yang dingin bahkan telah menunjukkan keterasingan yang membuat dingin punggung Fina. Tubuhnya menegang segera setelah dia melihat sorot keterasingan mata Arka. Nyalinya tiba-tiba menciut.
"Dia bukan kamu, yang masih saja mengganggu kehidupannya walaupun dia sudah resmi menjadi istriku. Saat itu, kamulah yang mendorong istriku untuk menikahi laki-laki kurang ajar itu demi biaya kuliah mu. Dan sekarang setelah aku menikahinya, kamu juga ingin mendorong istriku menjauh dariku dan mengabaikan kuliah yang telah diperjuangkan istriku untuk masa depanmu. Aku sungguh ingin tahu, dimana hatimu setelah melakukan semua itu kepada istriku? Bukankah kalian sedarah? Demi kamu dan kebahagiaan mu, dia rela mengorbankan masa depannya. Tapi kamu, kamu adalah orang yang diperjuangkan oleh istriku justru semakin mendorongnya pergi ke tempat kehancuran, melihat semua ini apakah kamu masih layak disebut sebagai saudaranya? Mengapa aku justru berpikir jika kamu sungguh tidak layak dan terlalu mengganggu?" Cecar Arka dingin untuk melindungi martabat istrinya.