
"Apakah kita harus ke rumah sakit?" Tanya Asri khawatir.
Tangannya sedari tadi sibuk memijat tengkuk Ai berharap dengan melakukan ini keadaan Ai bisa membaik.
"Aku pikir memanggil dokter ke sini adalah keputusan terbaik." Mega memberikan solusi lain.
Dengan keadaan seperti ini Ai tidak akan mungkin mau melakukan perjalanan sekalipun ke rumah sakit. Dia pasti tidak tahan di dalam perjalanan.
Maka dari itu daripada membawa Ai ke rumah sakit lebih baik dokter sendiri yang datang ke rumah ini untuk memeriksa Ai. Ini lebih baik daripada Ai tidak nyaman di dalam perjalanan.
"Tidak..." Ai tidak lagi merasakan gelombang mual yang sempat menyiksanya.
"Tidak perlu ke rumah sakit ataupun memanggil dokter. Aku tidak apa-apa..." Kata Ai lemah.
"Bawa aku keluar." Pintanya ingin beristirahat.
Dengan bantuan Mega dan Asri, ia dibawa duduk di sofa. Setelah duduk Mega dan Asri lantas beralih fungsi memijat tangan ataupun kaki Ai.
"Bagaimana mungkin kamu tidak membutuhkan perawatan? Keadaan kamu sudah seperti ini--"
"Jangan khawatir, ini hanyalah penyakit asam lambung ku." Ai menghibur sahabatnya.
"Kamu belum buka?" Tanya Asri terkejut.
Pasalnya saat ia berbuka tadi tidak ada Ai di dalam dapur.
"Aku sudah berbuka kok." Ai membantah.
"Minum air doang?" Tebak Mega tidak puas.
Ai tersenyum kecil,"Aku juga makan bubur." Dia berbohong.
Jangankan menyentuh makanan, melihat makanan saja rasanya sungguh sangat menyiksa.
__ADS_1
Dia tidak bisa menelan makanan karena itulah dia hanya minum air.
Mega merasa itu belum cukup,"Ai, aku pikir-"
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini- astagfirullah, kamu kenapa, Ai?" Ustad Vano buru-buru mendekati istrinya.
Ustad Vano segera masuk ke dalam rumah mencari keberadaan istrinya, namun ia tidak menemukannya di lantai pertama ataupun di lantai dua. Bahkan di dapur maupun di ruang santai tempat semua orang biasa berkumpul juga tidak ada siapapun.
Ustad Vano bingung, jika dia tidak mendengar suara seseorang berbicara di toilet belakang, maka mungkin Ustad Vano akan berpikir jika istri dan kedua sahabat istrinya pergi keluar rumah.
Melihat kedatangan suaminya, Ai memalingkan wajahnya tanpa sadar. Untuk saat ini hatinya seolah menolak dekat dengan Ustad Vano. Ada keinginan besar dari dalam dirinya untuk menjaga jarak dengan Ustad Vano saat ini.
"Aku baik-baik saja, Mas." Dengan dibantu kedua sahabatnya, dia lalu berdiri di hadapan suaminya.
Berusaha untuk tidak memperhatikan ekspresi keheranan yang tercetak jelas di wajah tampan suaminya.
"Sungguh kamu baik-baik saja?" Ustad Vano merasa jika sikap Ai semakin aneh.
Bukan hanya dia menjaga jarak, namun Ai juga tidak lagi menatap matamu ketika berbicara. Sadar, dia menyadarinya bila sang istri memalingkan wajahnya menghadap ke arah lain bila berbicara dengannya.
Untungnya asam lambung Ai bermasalah, karena dengan begitu ia tidak akan tersiksa melihat pertunjukan reuni suaminya dan Rani.
Ketika mereka berpelukan bersama tadi, Ai entah mengapa merasa jika mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Mereka tampak cocok untuk satu sama lain, entah itu dari segi tinggi badan ataupun tindakan intim alami yang mereka perlihatkan, Ai cemburu dan timbul perasaan sesak dihatinya.
Cemburu bukanlah sesuatu yang aneh, pasalnya perasaan Ai tulus kepada suaminya. Jika ia tidak cemburu maka ketulusan hatinya perlu dipertanyakan.
Ustad Vano kemudian berdiri, dia meraih tangan istrinya dan menggenggam lembut. Tidak mengejutkan, ia sudah memprediksi bila tangan istrinya akan memberikan reaksi penolakan ini. Hanya saja ia tidak membiarkan Ai melepaskan tangan mereka, ia menggenggamnya erat tanpa niat untuk menyakiti.
"Mereka sudah masuk bersama Paman Arka. Tidak apa-apa, Ai. Kamu tidak perlu merasa tidak enak hati kepada Rani dan Raini karena yang terpenting sekarang adalah bahwa kamu baik-baik saja."
Ai tersenyum tipis,"Mas Vano tidak boleh mengatakan itu..."
"Sudah, lebih baik kamu ikut aku saja ke meja makan." Dia lalu berkata kepada Mega dan Asri yang sedari tadi tidak pernah berbicara di samping Ai.
__ADS_1
"Kalian juga harus ke sana karena Ustad Azam dan Paman Arka mencari kalian."
Setelah mengatakan itu, ia lalu menarik Ai ikut bersamanya menuju ruang makan. Meninggalkan Mega dan Asri yang masih belum melangkah mengikuti jejaknya.
Mega dan Asri masih tidak mengatakan apa-apa akan tetapi kedua mata mereka tidak pernah berpaling dari sosok punggung Ustad Vano dan Ai. Di ujung sana sesekali Ustad Vano akan merendahkan kepalanya berbisik kepada Ai, memberikan perhatian lembut yang sarat akan kasih sayang.
"Sejujurnya, aku kasihan melihat Ustad Vano dan Ai. Karena kedatangan gadis lain, Ai terpaksa harus memendam cemburu, menjaga jarak dari Ustad Vano. Namun di sisi lain, Ustad Vano tampaknya tidak tahu dengan kecemburuan Ai. Namun dia merasakan bila Ai menjaga jarak darinya, dia merasakannya dan aku bisa melihatnya dari sorot mata kebingungan di wajah Ustad Vano. Mereka... seharusnya lebih terbuka untuk satu sama lain agar masalah ini tidak merusak rumah tangga mereka."
Seperti biasa, Asri adalah seorang pengamat yang baik. Ia selalu mengamati perilaku atau sikap orang-orang di sekeliling, bukan bermaksud sengaja namun ini adalah kebiasaan yang sudah ada sejak kecil. Dan percaya atau tidak, nalurinya sebagian besar selalu benar.
"Kamu masih saja memikirkan masalah Ai di saat kamu juga memiliki masalah sendiri. Bagaimana dengan ini, kenapa nasihat itu kamu berikan kepada dirimu sendiri. Ajak Paman Arka berbicara secara serius mengenai Lisa." Mega berucap sinis karena sahabatnya ini malah masih sempat memikirkan masalah orang lain daripada memikirkan masalah sendiri.
Bukankah dia terlalu naif?
Asri tersenyum tipis,"Cepat atau lambat kami akan membicarakannya."
Mega memutar bola matanya malas. Tidak seperti sebelumnya, kali ini ia tidak menahan diri untuk mencubit pipi sahabatnya itu.
"Hei, walaupun aku tahu kalian menikah tanpa didasari cinta tapi aku bisa melihat jika kalian berdua nyaman untuk satu sama lain. Jadi bersikaplah percaya diri wahai sahabatku, bawa Paman Arka ke dalam kamar kalian untuk membicarakan masalah ini. Tanya apa hubungannya dengan Lisa dan bagaimana kejelasannya sampai saat ini, jika dia tidak mau menjawab maka... maka ancam saja dia tidak akan mendapatkan 'jatah' sampai beberapa malam kemudian. Yakinlah, suami manapun tidak akan tahan dengan ancaman ini!" Katanya gemas.
Jika masalah ini ada di dalam rumah tangganya, Mega tidak akan berdiam diri saja menunggu masalah ini berlarut-larut sebelum bisa diselesaikan. Malahan jika suaminya tidak mau berbicara lebih dulu, maka Mega lah orang pertama yang akan mengambil inisiatif membicarakannya. Intinya, jangan sampai karena suatu masalah apalagi sebuah kesalahpahaman membuat rumah tangga mereka menjadi hancur.
Itu adalah sebuah mimpi buruk untuk pasangan suami-istri manapun.
"Sakit..." Asri menggosok kedua pipinya yang memerah karena cubitan Mega.
Menunduk sedih, kedua mata Asri menimbulkan riak-riak tipis seperti akan menangis.
Bersambung...
Selamat Hari Raya Mingguan Muslim 🍃
"Perbanyaklah sholawat kepadaku pada malam Jumat dan hari Jumat, barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali maka Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali," (HR Baihaqi).
__ADS_1
Masya Allah, hari yang penuh berkah, jangan lupa bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad Saw 🍃