Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 91


__ADS_3

Lalu berbicara mengenai kesibukan suaminya setiap malam, sejujurnya Ai tahu bila sang suami kerap kali meninggalkan ranjang mereka begitu ia pura-pura tertidur. Suaminya sering begadang untuk menyelesaikan pekerjaan sehingga waktu tidurnya jauh lebih singkat dari malam-malam sebelumnya.


Ai tidak tega melihatnya, ia ingin membantu tapi ia tidak bisa karena urusan bisnis bukanlah keahliannya. Dia tidak mengerti apa-apa dan kedua orang tuanya pun tidak pernah mengajarkannya untuk menekuni pekerjaan ini. Sebab, ini adalah tugas suami bukan istri, inilah yang Ayah katakan.


"Bukan masalah kantor," Bantah Ustad Vano seraya memegang tangan lembut Ai yang ada di wajahnya.


Dia mengambil tangan Ai dan menciumnya penuh kasih, mengecup jari-jari tangan lentik milik Ai seperti sedang memakan sebuah permen lollipop yang begitu manis.


Membuatnya candu.


"Tapi aku lagi memikirkan kamu." Ustad Vano mengakui tanpa malu-malu.


Wajah Ai rasanya kian panas.


"Mas Vano jangan bercanda," Dia sangat malu.


Ustad Vano tertawa rendah, puas mencium jari-jari istrinya, ia lalu membawa tangan itu untuk menyentuh dada bidangnya yang tertutupi pakaian.


"Apakah kamu merasakannya?" Tanya Ustad Vano pada istrinya.


Dug

__ADS_1


Dug


Dug


Ini adalah suara detak jantung Ustad Vano, berdebar kencang dan terasa begitu jelas menyentuh telapak tangan Ai. 


"Apakah kamu merasakannya?" Tanya Ustad Vano lagi.


Tangan Ai bergerak ringan menyentuh dada bidang Ustad Vano.


"Aku merasakannya, Mas. Ini sama seperti milikku." Bisik Ai mengakui.


Ah, rasanya begitu melegakan.


Memakannya sepuas hati seperti orang yang kehausan dan kelaparan, Ustad Vano tidak akan berhenti memakannya jika suara iqamah di luar sana tidak berkumandang.


Begitu ciuman mereka terputus, wajah mereka bergerak saling menjauh dengan kelembutan sari mata masing-masing yang tidak bisa disembunyikan. Benang tipis yang menjuntai tanpa malu-malu dari bibir masing-masing adalah bukti bahwa mereka berdua sangat menikmati kebersamaan itu.


"Panggilan Allah lebih penting, istriku." Bisik Ustad Vano seraya mengusap bibir ranum Ai yang terlihat agak bengkak karena ulahnya sendiri.


Nafas Ai masih belum stabil jadi dia hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Ayo sholat magrib dulu, setelah itu baru kita bisa melanjutkan kegiatan tadi." Kata Ustad Vano dengan nada menggoda yang ia buat-buat.


Kedua pipi Ai kian memerah,"Tapi...tapi Mas Vano belum makan malam." Ai harus menyiapkan makanan dulu di dapur untuk suaminya.


Ustad Vano sontak tertawa kencang. Ia mengecup bibir istrinya singkat sebelum bangun dari acara rebahan.


"Aku akan segera makan malam, bukankah kamu satu-satunya hidangan yang paling lezat untukku?" Goda Ustad Vano membuat Ai lagi-lagi merona malu.


"Mas Vano, ih!" Ai sungguh tidak bisa berkata-kata dibuatnya.


Suaminya terlalu manis!


...🍃🍃🍃...


Ustad Azam menatap bingung lantai dua dan tiga tempat pasangan yang lainnya tinggal. Sudah 10 menit berlalu semenjak azan magrib berkumandang tapi kenapa mereka masih belum turun juga. Padahal biasanya mereka akan turun ke bawah sebelum azan berkumandang dan berkumpul di dalam musholla bersiap melaksanakan sholat berjamaah bersama. Tapi kenapa kali ini baik Ustad Vano maupun Arka belum menunjukkan batang hidung mereka setelah azan magrib berlalu.


Jelas saja ini meninggalkan keheranan untuk Ustad Azam yang sudah berdiri di bawah menunggu mereka sejak beberapa menit yang lalu.


"Mereka belum turun, Mas?" Mega keluar dari musholla karena suaminya dan yang lain tidak kunjung-kunjung masuk.


"Sepertinya mereka kali ini akan sholat di kamar masing-masing jadi kita tidak perlu menunggu mereka lagi." Kata Ustad Azam menyerah, ia menarik istrinya masuk kembali ke dalam musholla untuk sholat berjamaah- berdua saja.

__ADS_1


Tapi Mega merasa ada yang aneh dari situasi ini. Karena jarang sekali dua pasangan sekaligus absen dari sholat berjamaah.


"Ustad Vano dan Paman Arka kok tumben gak turun sholat? Biasanya kan yang turun duluan pasti mereka." Kata Mega heran.


__ADS_2