Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
13. Arka Yang Jahil


__ADS_3

Sekarang di sinilah Asri. Duduk tertunduk di atas ranjang besar milik Arka dengan perasaan gugup luar biasa. Kedua tangannya saling meremat untuk sebuah pelampiasan rasa gugup. Bola matanya bergerak tidak tenang ketika melihat kelopak bunga mawar merah tersebar sembarangan di bawah telapak kakinya.


Wangi bunga mawar yang harum dan kaya memenuhi indera penciumannya. Menambahkan rasa gugup menjadi berkali-kali lipat. Membuat Asri menjadi tidak tenang. Ingin melarikan diri tapi ia tahu ini tidak mungkin sebab ia kini telah resmi menjadi seorang istri. Setiap langkah yang ia ambil akan dikutuk oleh para bidadari surga jika melangkah tanpa mendapatkan izin suami.


Benar, dia kini telah resmi menjadi seorang istri Arka, laki-laki asing yang ia jumpai kemarin siang dan kebetulan adalah Paman dari laki-laki yang ia sukai.


Jujur, Asri terkejut. Ini bukanlah sebuah kebetulan, jelas saja. Karena segala sesuatu di dunia ini tidak pernah terjadi karena sebuah kebetulan melainkan sebuah kesengajaan yang Allah garis kan untuk makhluk dan hamba-hamba-Nya.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


وَعِنْدَهٗ مَفَا تِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَاۤ اِلَّا هُوَ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ ۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَ رْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَا بِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ


Wa 'ingdahuu mafaatihul-ghoibi laa ya'lamuhaaa illaa huw, wa ya'lamu maa fil-barri wal-bahr, wa maa tasquthu miw waroqotin illaa ya'lamuhaa wa laa habbating fii zhulumaatil-ardhi wa laa rothbiw wa laa yaabisin illaa fii kitaabim mubiin


"Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Al-An'am 6: Ayat 59)


Asri percaya, ia dan Arka bertemu karena izin Allah. Sekalipun sebelumnya mereka tidak pernah saling mengenal atau mengetahui, tapi bila Allah sudah berkehendak maka tiada yang bisa menghentikan-Nya. Allah maha mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, sedangkan manusia yang lemah hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Allah SWT sembari meluaskan dada untuk menerima semua ketetapan-Nya.


Cklack


Asri berjenggit kaget di tempat. Kepalanya kian tertunduk dalam tidak berani menatap ke wajah Arka- laki-laki yang kini telah resmi menjadi suami dan pemimpinnya.


"Asri?" Panggil Arka entah sudah sejak kapan berada di depannya.


Arka menunduk sedikit di depan Asri, membuat menjadi kaku karena jarak mereka yang begitu dekat.

__ADS_1


"Mas...Mas Arka." Asri panik. Ia memalingkan wajahnya malu.


Arka tersenyum jail, dia sengaja mendudukkan dirinya di samping Asri. Menatapnya tanpa niat berpaling sehingga Asri menjadi salah tingkah dibuatnya.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah siap melihat junior ku malam ini apakah sudah disunat atau belum?"


Kedua pipi Asri memerah dan panas.


"Mas Arka, mesum!"


Arka tertawa kecil, senang sekali ia menjaili istrinya ini karena setiap reaksi yang ia berikan sangat lucu dan imut?


"Jadi..." Arka sudah berhenti tertawa.


"Haruskah kita mandi bersama-"


"Ahahah...aku berbohong." Arka segera meralat ucapannya.


Dia memegang perutnya yang agak kram karena terlalu banyak tertawa. Dia suka membuat Asri kesal seperti ini-- ah, tiba-tiba suasana menjadi sangat canggung ketika melihat wajah merah nan malu-malu Asri di depannya. Arka merasa jika malam ini Asri sangat cantik terlepas bagaimana penampilan kacaunya kemarin saat mereka pertama kali bertemu.


"Ekhem." Arka berdehem ringan.


"Jadi, siapa yang lebih dulu membersihkan diri?" Tanya Arka kepada Asri.


Asri menurunkan pandangannya menatap lantai,"Tolong izinkan aku, Mas." Pintanya dengan suara lembut yang tidak biasa.

__ADS_1


Asri pikir sudah saatnya ia membuka hati untuk cinta yang baru dan ia juga berharap bila cinta kali ini tidak bertepuk sebelah tangan atau sampai harus menyakiti hubungan orang.


Arka mengusap tengkuknya canggung,"Baiklah. Kamu bisa membersihkan diri terlebih dahulu." Katanya mempersilakan.


Asri telah mendapatkan izin. Ia lalu bangkit dari duduknya akan pergi ke kamar mandi tapi tangannya tiba-tiba di pegang oleh Arka.


"Hiasan di kepalamu belum dilepaskan." Beritahu Arka.


"Oh," Asri langsung menyentuh kepalanya.


Dia lupa belum membuka hiasan pengantin yang ada di atas kepalanya.


Arka tanpa mengatakan apapun menarik Asri duduk di samping, menyentuh puncak kepala Asri untuk menyingkirkan berbagai macam jenis jarum dan hiasan yang telah memperindah penampilan istrinya hari ini.


Tertunduk malu, wajah Asri kian merah saja warnanya. Dia berkali-kali meremat tangannya yang sudah dingin dan basah.


Arka saat ini begitu dekat dengannya. Saking dekatnya, Asri bahkan bisa menghirup wangi tubuh Arka yang maskulin. Ini adalah wangi yang menyegarkan, membuat Asri sedikit tenang dan dalam satu nafas langsung mengakui bahwa ia menyukainya.


Beberapa menit kemudian Arka telah selesai menyingkirkan jarum-jarum dan hiasan di kepala Asri. Lalu berlanjut pada melepaskan kain panjang di kepala Asri- mereka berdua membeku.


Arka sungguh tidak bermaksud melepaskan jilbab Asri, ini murni karena tangannya yang tidak bisa diam- ok, dia mengakui! Dia memang ingin membuka jilbab panjang Asri karena jujur, dia penasaran ingin melihat seperti apa istrinya tanpa menggunakan jilbab.


Karena menggunakan jilbab saja dia sudah cantik apalagi tanpa menggunakan jilbab.


"Tidak apa-apa, Mas. Lepaskan saja jilbabku." Kata Asri malu.

__ADS_1


"Oh... baiklah." Arka tanpa sadar menyunggingkan senyum dibibir nya.


__ADS_2