Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
24. Niat Buruk Fina (2)


__ADS_3

Sebagai seorang istri siaga, maka sudah seharusnya ia melindungi rumah tangganya dengan Mas Azam. Kekanak-kanakan memang, tapi ia tidak bisa berbohong bila naluri perempuannya mengatakan jika Fina bukanlah gadis yang baik.


Mega lalu beralih menatap Asri dengan tatapan permintaan maaf.


"Maafkan aku." Bisiknya pada sang sahabat.


Asri menggelengkan kepalanya, ia paham bila sahabatnya pasti terganggu dengan tindakan adiknya. Di samping itu Asri juga merasakan apa yang Mega rasakan. Perasaan krisis dimana Fina sewaktu-waktu mengguncang hubungan rumah tangganya dengan Arka.


Dia tidak mau berburuk sangka, tapi naluri dan tindakan Fina yang terlalu terang-terangan telah mengatakan semuanya.


"Tidak apa-apa." 


Dia lalu menarik tangan Fina menjauh,"Pulang, dek." Perintah Asri kepada adiknya.


Fina tidak mau,"Fina gak mau, Kak."


Asri menghela nafas panjang.


"Kamu sudah membuat mereka gak nyaman. Selain itu bukankah kamu harusnya ada di kota B sekarang untuk sekolah?"


Ia ingat kemarin Bapak dan Ibu mengatakan jika Fina akan kembali ke kota B untuk sekolah.


Fina menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"Aku...aku belum mau masuk, Kak. Aku mau cu-"

__ADS_1


"Astagfirullah, dek! Kamu gak ingat apa karena keinginan kamu sekolah di sana Bapak dan Ibu terpaksa harus mengutang. Mereka menjual banyak sawah kita untuk melunasi semua hutang-hutang itu. Dan sekarang setelah perjuangan mereka kamu ingin berhenti begitu saja?" Asri tidak bisa tidak marah dibuatnya.


Bagaimana mungkin adiknya ini menyia-nyiakan perjuangan orang tua mereka setelah semua pengorbanan?


"Aku gak akan lupa, Kak. Cuma sekarang kita sudah tidak miskin lagi dan aku pikir tidak apa-apa untuk-"


"Pulang sekarang." Potong Asri tidak mau berbicara lagi dengannya.


Fina kesal,"Kak Asri sekarang jadi sombong yah mentang-mentang nikah dengan Mas Arka." 


"Kalau saja yang menikah dengan Mas Arka adalah aku, Kakak pasti tidak akan memiliki wajah mempermalukan ku seperti ini."


Asri menggelengkan kepalanya tidak mau meladeni. Ia mendorong adiknya keluar dan menutupkannya pintu masuk.


Dia benar-benar tidak menyangka jika perubahan adiknya sampai pada titik ini dan ia yakin itu semua karena Arka dengan kekayaannya.


Dia dan Mega keluar dari persembunyian setelah sengaja menguping pembicaraan Asri dengan adiknya.


"Maaf aku mengatakannya tapi adikmu sepertinya tidak memiliki niat baik kepadamu." Dengan kata lain ia ingin memiliki semua yang Asri dapatkan hari ini.


Memang dia tidak mengatakannya secara langsung tapi sikap cemburunya menunjukkan itu semua, dan Asri tidak bodoh untuk tidak melihat itu semua.


Dia tahu bila adiknya menginginkan itu semua tapi ia tidak bisa melakukan sebab Fina adalah adik kandungnya sendiri. Meskipun takut karena Fina jauh lebih baik dan cantik darinya, namun Asri masih berharap bila Arka serius dengan keinginannya di malam itu.


Ia tidak berbohong bahwa ya, ia ingin memiliki rumah tangga yang harmonis dengan Arka terlepas bagaimana kisah cinta mereka di masa lalu.

__ADS_1


"Yah, kalian bisa melihatnya. Dia... adalah alasan kenapa aku bisa menikah dengan Mas Arka." Kata Asri dengan senyuman tipis di wajahnya.


"Sambil menunggu mereka selesai memasak, apa kamu mau bercerita?" Tawar Mega memanfaatkan kesempatan.


"Yah, tentu."


Setelah itu mereka pergi ke ruang santai yang ada di taman belakang. Tempat itu sangat nyaman digunakan untuk bersantai di waktu sore ataupun berkumpul membuat acara.


Di ruang itu Asri menceritakan semuanya kepada kedua sahabatnya, menceritakan alasan kenapa ia berhenti dari pondok dan pulang ke desa. Kemudian berlanjut pada acara pernikahan yang batal dan berujung pada pertemuannya dengan Arka. Setelah itu ia pergi ke kota ini, berbicara dengan Kevin mengenai perasaannya yang yah... pupus di tengah jalan. Daripada memilih bersama Kevin ia memutuskan untuk menikah dengan Arka, Paman Kevin sekaligus laki-laki yang telah berjasa besar menolongnya di desa.


"Jadi seperti ini..." Desah Mega merasa prihatin dengan sahabatnya.


"Mengapa kamu tidak menghubungi ku, Asri? Jika aku tahu maka semua ini tidak akan terjadi." Kata Ai juga prihatin kepada sahabatnya.


"Aku tidak memiliki nomor kontak kalian berdua makanya aku tidak pernah menghubungi kalian. Tapi aku pikir semua kejadian ini ada hikmahnya juga karena bila itu tidak terjadi maka kita semua mungkin tidak akan berkumpul bersama lagi. Yah, ini adalah skenario dari Allah agar kita bisa bertemu lagi. Bukankah begitu sahabatku?"


Ai tersenyum tidak berdaya,"Yah, aku bahagia karena kita bersama lagi."


Mega menghela nafas berat. Dia sejujurnya masih tidak suka dengan Fina. Setelah membuat Asri terpaksa menikah dengan putra juragan Romlah meskipun gagal, ia kini malah ingin mengambil posisi Asri menjadi pengantin untuk Arka. Hei, bukankah sikapnya sangat jelas?


"Aku tidak menyukai adikmu." Kata Mega masih diwarnai nada jengkel.


"Aku tahu dia pasti telah membuat kalian jengkel." Kata Asri pengertian.


"Tidak, bukan karena itu." Kata Ai membantah.

__ADS_1


"Aku tidak suka mendengar caranya memperlakukan kamu. Saat kamu akan menikah dengan putra juragan Romlah, ia datang memberikan selamat. Namun disaat kamu akan menikah dengan Paman Arka, dia datang ingin menggantikan mu sebagai pengantin. Aku pikir dia sudah sangat keterlaluan."


Bersambung...


__ADS_2