
Sebelum keluar dari dalam kamar, Arka membasuh wajah istrinya dengan air dingin dari kamar mandi, setelah mengelapnya sampai kering dia mengambil jilbab bersih dari dalam koper mereka dan membantu istrinya untuk memakai jilbab. Setelah beres dia memegang tangan istrinya keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju dapur atas arahan sang istri. Di luar gelap gulita karena semua lampu dimatikan. Tidak ingin mengganggu orang-orang yang sedang beristirahat di kamar masing-masing, Arka menyalakan senter ponsel dan berjalan seringan mungkin menuju dapur agar tidak menimbulkan suara. Sesampai di dapur dia mematikan senter dan menyalakan lampu. Kemudian dia membantu istrinya duduk di sebuah kursi plastik termakan usia tapi masih kuat.
"Okay, jangan kemana-mana dan tunggu aku masak. Tapi ngomong-ngomong kamu serius cuma mau makan telur ceplok aja? Ibu udah nyiapin banyak makanan buat kamu dan menurutku lumayan enak." Pastinya makanan yang Ibu siapin jauh lebih lezat daripada telur ceplok buatan Arka.
Detik-detik akan memasak dia masih menyempatkan diri membujuk Asri untuk makan makanan yang telah Ibu siapkan. Makanan yang Ibu buat lebih kaya rasa daripada makan telur ceplok. Telur ceplok rasanya monoton, datar dan tidak menarik bagi Arka.
Asri menatap suaminya keras kepala. Dia maunya makan telur ceplok ya jadi harus makan. Seenak apapun makanan yang disuguhkan kepadanya, selama itu bukan telur ceplok, Asri tidak tertarik.
"Aku lagi nggak mau makan makanan berat. Cukup telur ceplok buatan mas Arka aja." Kata Asri menekankan.
Mendengar jawaban tegas dari istrinya, Arka tidak bertanya lagi. Dia menggulung kedua lengan bajunya dan mengambil telur dari dalam kulkas. Awalnya dia ingin mengambil satu atau dua telur saja, tapi istrinya khusus meminta untuk menggoreng 3 telur. Arka tidak heran dengan permintaan istrinya karena itu wajar saja sebab istrinya sedang lapar. Malahan dia bersyukur melihat istrinya memiliki nafsu makan mengingat kondisinya kemarin yang sangat mengkhawatirkan.
__ADS_1
"Nah, sudah jadi." Arka menyajikan tiga telur ceplok beserta nasi hangat di atas piring dan menaruhnya di atas meja.
"Terima kasih atas kerja keras mas Arka. Uhm... wanginya sangat enak, masya Allah." Asri menyanjung.
Akan tersenyum lebar mendengar sanjungan istrinya. Ini hanya masakan biasa, dan dibandingkan sanjungan Asri, rasanya agak terlalu berlebihan. Tapi mengapa ekspresi istrinya begitu murni, seolah-olah dia sangat menikmati wangi yang menguap dari makanan di atas piring?
"Okay, kamu makan. Bilang sama aku kalau kamu mau nambah lagi." Ucap Arka lembut sembari mengusap puncak kepala istrinya sayang.
Asri mengganggu semangat. Dia langsung mengambil sopan besar setelah mencuci tangan.
Apakah istrinya sedang bersandiwara untuk menyenangkan hatinya?
__ADS_1
Tapi sepertinya tidak karena senyuman lebar di pipi gembil istrinya terlihat murni dan tidak dibuat-buat.
"Enak banget. Mas Arka mau?" Asri menjawab polos.
Arka menelan ludah. Dengan mentalitas mencoba, dia menganggukan kepalanya dan membuka mulut untuk menerima suapan dari istrinya.
Tapi setelah makanan masuk ke dalam mulutnya kening Arka langsung mengernyit.
Rasanya...
"Biasa saja."
__ADS_1
Asri merenggut tak senang,"Ini enak, mas. Lidah mas Arka pasti bermasalah karena biasa makan yang berat-berat. Makanya mas Arka sekali-kali makan makanan yang ringan dong biar lidahnya enggak eror kayak sekarang." Asri mulai menceramahi suaminya agar jangan makan-makanan yang berat untuk tubuh, sambil ceramah, tak lupa tangannya mengirim suapan demi suapan ke dalam mulut.
Sementara Arka yang langsung terdiam tak mampu berbicara menontonnya makan,"...." Bukankah semua makanan berat itu dimasak kamu?