Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 67


__ADS_3

Asri menatap ekspresi jengah di wajah suaminya, diam, ia lalu menganggukkan kepalanya ringan tidak mau membahas masalah ini lagi.


"Ayo turun sarapan, semua orang sudah menunggu kita di bawah." Kata Asri pada akhirnya.


"Hem," Arka beralih menatap ponselnya lagi, ia mengetik singkat sebelum turun dari ranjangnya.


Ia dan Asri lalu keluar dari kamar mereka, akan tetapi ini hanya beberapa langkah saja sebelum panggilan masuk dari seseorang menghentikan langkah Arka.


Arka melihat layar ponselnya dan buru-buru menjawabnya di depan Asri- ah, lebih tepatnya Arka mundur beberapa langkah ke belakang sebelum menjawabnya. Sementara itu Asri juga ikut berhenti, mengawasi suaminya berbicara dengan seseorang. Lalu, beberapa detik kemudian suaminya kembali- atau mungkin lebih tepatnya datang menghampiri.


"Itu siapa-"


"Aku harus segera pergi ke kantor." Potong Arka langsung membuat Asri terdiam.


Setelah mengatakan itu Arka kembali masuk ke dalam kamar mereka, membuka lemari dan memilih kemeja biru muda yang telah diseterika dengan rapi oleh Asri.


"Mas harus pergi ke kantor?" Tanya Asri seraya mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar.


Dia membantunya Arka memakai kemeja, mengambil jas hitam di lemari lainnya dan membantu Arka menggunakannya.

__ADS_1


"Hem, ada sesuatu yang harus aku lakukan." Jawab Arka singkat.


Asri tidak tahan melihat suaminya terus bekerja tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa menghentikan suaminya karena ia takut suaminya akan memberikan jawaban yang lebih pedas lagi dari sebelumnya.


Setelah berganti baju, Arka buru-buru turun dari lantai empat yang diikuti oleh Asri dari belakang. Kaki Arka sangat jenjang dan bisa bergerak cepat dengan mudah di atas tangga, sedangkan Asri di belakang menggunakan gamis yang cukup menghalangi langkahnya, di tambah lagi dia tidak terbiasa menggunakan tangga setinggi ini apalagi sampai melangkah cepat. Asri tidak mampu menyamai langkah suaminya.


Alhasil, Asri hanya bisa melihat punggung suaminya dari belakang dan menatap kepergian suaminya yang sudah ada di dalam mobil dengan mulut terbuka.


Mendesah panjang, Asri mengambil nafas beberapa kali untuk memasok udara ke dalam tubuhnya yang kelelahan berlari menyusul Arka dari lantai empat. Ia pikir masih sempat untuk mengantar suaminya ke halaman depan tapi ternyata ia masih tidak sempat karena langkah Arka terlalu cepat.


"Semoga Mas Arka selamat sampai tujuan dan menyelesaikan segala urusan kantor dengan mudah." Bisik Asri melambungkan doa.


"Maaf, apa kalian menunggu kami?" Tanya Asri malu seraya mendudukkan dirinya di samping Mega.


Mega menggelengkan kepalanya santai,"Bukan masalah, eh, kemana Paman Arka? Kenapa dia tidak turun bersamamu?"


Mega melihat ke arah pintu masuk tapi masih belum melihat bayangan ataupun batang hidung sosok Arka. Biasanya Arka adalah orang pertama yang masuk ke dalam ruang makan.


Asri tersenyum malu,"Mas Arka hari ini gak ikut sarapan karena ada urusan kantor yang mendesak. Jadi kita bisa mulai sarapan tanpanya."

__ADS_1


"Urusan kantor?" Ustad Azam mengernyit.


Ia adalah sekretaris pribadi Arka di kantor tapi ia tidak tahu bila hari ini Arka memiliki pekerjaan tambahan di kantor. Jika ada maka itu sudah tercatat di dalam jadwalnya.


"Iya, Ustad Azam tidak tahu?" Tanya Asri bingung.


"Aku dan Ustad Azam tidak tahu, memangnya Paman Arka sebelum pergi mengatakan apa kepadamu?" Sahut Ustad Vano juga ikut bingung.


Asri kemudian teringat dengan telepon yang Arka dapatkan tadi,"Oh, itu...tadi dia tiba-tiba mendapatkan telpon dari seseorang. Mas Arka bilang itu dari kantor jadi dia langsung buru-buru berganti baju dan pergi ke kantor."


Mungkin itu dalam keadaan darurat sehingga Arka buru-buru pergi, setidaknya ini adalah yang dipikirkan oleh Asri tapi tidak dengan Ustad Vano dan Ustad Azam.


Mereka saling melihat, sama-sama melemparkan tatapan keraguan. Pasalnya bila itu benar-benar urusan kantor maka orang pertama yang akan tahu adalah Ustad Azam baru kemudian Arka atau Ustad Vano. Alurnya tidak akan seperti ini, datang langsung menghubungi Arka meskipun dia adalah pemilik perusahaan. Tapi prosedur tetaplah prosedur kecuali sang penelpon adalah investor yang ingin berinvestasi ke dalam perusahaan dan dilakukan pertama kali.


"Kenapa, Mas?" Tanya Mega ketika memperhatikan ekspresi aneh suaminya.


Ustad Azam buru-buru menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin membuat istrinya khawatir tentang kehidupan rumah tangga Asri. Karena sekalipun Asri adalah sahabat baik Ai dan Mega, mereka berdua tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam rumah tangga Asri dan Arka.


"Bukan apa-apa, aku pikir Paman Arka pasti memiliki kesibukan di luar sana." Kesibukan karena apa, ia tidak mau memikirkannya karena lagi-lagi urusan rumah tangga Arka tidak ada hubungannya dengan dia.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo kita sarapan sebelum makanannya menjadi dingin." Ajak Ustad Vano menarik perhatian semua orang dari masalah ini.


__ADS_2