Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 134


__ADS_3

Betapa hina dirinya ditatap bagaikan badut jalanan. Seolah-olah dia adalah pengganggu yang membuat mereka jijik untuk mendekat. Sedangkan untuk Asri, mereka semua menatapnya dengan kebanggaan. Mendapatkan uang dan gelar kehormatan Arka, betapa luar biasanya itu. Mengingat ini rasa ketidaksenangan Fina kepada Asri kian memuncak saja. Dia sungguh tidak tahan!


"Aku pulang." Fina masuk ke dalam rumah tanpa perlu mengucapkan salam.


Di dalam rumah dia bertemu dengan Bapak dan Ibu. Wajah mereka terlihat sangat tidak sedap dipandang. Tapi sayangnya Fina ceroboh dan tidak menyadarinya sampai sebuah sengatan panas membakar pipinya.


Plak


Bapak menampar putrinya dengan perasaan kacau dihatinya yang bergemuruh. Ada marah, malu, dan kecewa. Semuanya bercampur di sana.


"Kenapa Bapak nampar, Fina?!" Teriak Fina marah.


Plak

__ADS_1


Sekali lagi Bapak menjatuhkan tamparan di pipi Fina yang lain. Fina shock, dia sejenak tidak bisa membalas lagi karena rasa sakitnya sangat luar biasa. Dipastikan kedua pipi Fina telah memerah terang.


"Apa kamu tahu kesalahan apa yang telah kamu perbuat?! Apa kamu tahu betapa memalukannya dirimu sekarang?!" Bentak Bapak murka.


Kemarahan Bapak membuat Fina tanpa sadar mundur ke belakang. Dia sangat takut. Tidak pernah dia melihat Bapak semarah ini di dalam hidupnya.


"Bapak kecewa, Bapak sangat kecewa kepadamu! Bapak kira kamu adalah anak yang cerdas dan dapat membanggakan keluarga. Kamu memiliki harapan yang sangat besar untuk kamu. Demi kamu, Bapak dan keluarga rela menjual satu-satu tanah kita, mengambil hutang di rentenir dengan resiko yang sangat besar. Tapi apa balasan kamu kepada kami semua?! Kamu menolak menikah dengan anak juragan Romlah dan mengajukan Kakakmu yang sedang menuntut ilmu di pondok pesantren. Demi cita-cita kamu dia rela melepaskan sekolahnya dan kembali untuk menikah dengan anak juragan Romlah. Tapi untungnya Allah menolong Kakakmu. Dia pertemukan Kakakmu dengan tuan Arka, laki-laki yang sangat baik dan bertanggungjawab. Namun kamu...kamu yang diperjuangkan kami justru berusaha menghancurkan rumah tangga Kakakmu! Fina, katakan?! Apakah kamu tidak memiliki hati nurani lagi di dalam dirimu?! Dia adalah Kakakmu, Nak! Orang yang telah banyak berkorban kepada kamu! Dia bahagia hidup bersama dengan suaminya karena tuan Arka sendiri yang pernah datang kepada Bapak dan mengatakannya secara langsung jika dia sangat mencintai Kakakmu. Dia tidak mau melepaskan Kakakmu apapun yang terjadi. Untuk membuat Kakakmu nyaman tinggal bersamanya, dia menahan kita semua di sini! Memberikan kita tanah dan rumah untuk menjalankan usaha. Dia telah melakukan banyak hal agar Asri bisa tetap bersamanya, tapi kamu malah berencana untuk menghancurkan kehidupan mereka?! Apa kamu masih ingin menjadi putri kami?!" Setiap kata yang Bapak ucapkan kepada Fina adalah bentuk kekecewaannya kepada sang putri.


Dia sungguh tidak pernah menyangka bila putri yang telah dibangga-banggakannya akan berhati hitam.


Dia tidak berani menanggung semua kemarahan Bapak kepadanya.


"Fina...kamu telah mengecewakan Bapak. Sekolah mu bahkan menjadi berantakan di kota B karena kamu terlalu sibuk keluar. Bapak pikir kamu lebih baik tidak sekolah dan menikah dengan sepupumu di kampung D." Kata Bapak menurunkan nada suaranya tapi masih marah.

__ADS_1


Demi kebaikan kedua putrinya, dia harus membuat keputusan besar. Dia tidak ingin pernikahan putri pertamanya hancur, di satu sisi dia juga ingin memperbaiki akhlak putri keduanya. Dan dengan menikahkannya dengan sepupunya di kampung D, Bapak yakin putrinya tidak akan bertindak kejam lagi.


"Apa...apa yang Bapak katakan?" Fina tidak mempercayai kata-kata Bapak.


"Kami sudah membuat keputusan akan menikahkan kamu dengan sepupumu di kota D. Dia adalah seorang guru ngaji dan memiliki kesabaran yang tinggi, Bapak yakin dia dapat merubah mu menjadi lebih baik." Jawab Bapak tanpa merubah wajahnya sedikitpun.


"Tidak... Fina tidak mau! Fina tidak mau, Bapak! Fina menyukai Mas Arka dan Fina jauh lebih baik dari Asri! Fina lebih pantas bersama dengan Mas Arka-"


"Kamu harus tahu jika tuan Arka lah yang meminta Bapak menikahkan kamu dengan laki-laki lain agar kamu tidak mengganggu kehidupan rumah tangganya. Dia bilang sudah terlalu muak dengan sikapmu." Potong Ibu menghentikan teriakan histeris putrinya.


Fina tercengang, untuk sesaat dia tidak mampu berbicara karena kepalanya seolah melambat saat mencerna information ini. Barulah dia sadar ketika Bapak meminta Ibu mengemasi barang-barang Fina untuk bersiap melakukan perjalanan jauh ke kampung D di kota H.


"Tidak mungkin... tidak mungkin!"

__ADS_1


Fina menolak dengan keras tapi Bapak dan Ibu berusaha menulikan pendengaran mereka sekalipun Fina berteriak histeris. Mereka juga sakit tapi ini adalah keputusan terbaik.


__ADS_2