Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 68


__ADS_3

Sore harinya, Asri diam merenung memperhatikan awan kelabu yang mulai menutupi hamparan langit di atas sana. Udara lembab nan menyegarkan membawa suasana berat melewati tubuh kurus Asri dengan mudah, menyapu kulit wajahnya, meninggalkan rasa melankolis yang tiba-tiba datang entah darimana.


Asri bingung, hatinya tiba-tiba terasa sesak untuk alasan yang sudah menggunung di dalam hatinya. Akan tetapi ia masih kuat, ia masih sangat kuat untuk menanggung semua itu. Karena ini bukanlah sebuah patah hati, ini bukan pula mengenai sebuah pengkhianatan. Ini hanyalah sebuah harapan yang melambung tinggi, bergerak terlalu tinggi di atas langit sana.


Gelisah dan takut, dua perasaan ini telah mendominasi hatinya sejak beberapa waktu yang lalu. Ada kecemasan harapannya pupus di atas sana, entah itu diterpa oleh hujan lebat ataupun badai, Asri tidak bisa menebak yang mana itu.


Namun, benang merah yang telah melingkari jari manisnya dengan sang suami seolah menjadi pengingat yang baik bahwa harapan itu masih ada dan masih bergerak tinggi mencoba menggapai mimpi itu.


Ini masih melambung tinggi, sangat tinggi.


"Ah, hujan?" Ia mengangkat telapak tangannya, membiarkan rintik-rintik hujan setetes demi setetes mengenai telapak tangannya, menampung cairan dingin nan bening itu di atas telapak tangannya.


"Syukurlah," Bisiknya sambil tersenyum tipis di wajahnya.


"Syukurlah, setidaknya sore ini kami tidak akan bersusah payah menyiram bunga." 


Dia mengatakan bersyukur tapi hatinya masih belum bisa bernafas lega. Ia menatap langit lagi, membiarkan sebagian dari wajahnya terkena gerimis kecil.


Terpejam, ia mencoba merasakan sentuhan rahmat Allah dari tetesan-tetesan air hujan itu, melayangkan 'semoga' yang lain bahwa kegundahan hatinya bisa tenang dengan air hujan ini.


Dalam hatinya yang 'polos' dan 'sedikit' berdosa, ia tidak pernah membayangkan bahwa nikah muda seusianya ini memang tidak mudah. Dia terlalu banyak menggunakan perasaan dalam melakukan apa-apa sehingga mudah tersinggung dan merasa kecewa.


Hah...

__ADS_1


Asri tiba-tiba rindu tinggal di pondok pesantren. Di sana, ia terikat banyak peraturan tapi anehnya cukup menyenangkan. Setidaknya, dia tidak akan mengalami banyak kegundahan hati seperti ini.


Apa ia menyesal?


Tidak, tidak, tidak!


Dia bersyukur menikah dengan Arka, apalagi Arka adalah laki-laki yang baik dan tidak sombong seperti yang Asri lihat di dalam sinetron, yah...dia adalah orang yang baik.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Suara centil Riani menarik Asri dari lamunannya.


Asri menghela nafas panjang, membuka kedua matanya sembari menyiapkan senyuman terbaik untuk menyambut kedatangan keponakannya itu.


Dia menoleh ke belakang, tersenyum manis kepada Riani, sebelum membawa pandangannya menatap langit kelabu yang mulai menyebarkan gerimis.


Asri sekali lagi menoleh belakang, menatap Riani datar sebelum pergi ke kursi santai untuk menikmati suara rintik-rintik hujan yang ada di luar.


Tidak marah dengan perlakuan abai Asri, ia lalu ikut masuk ke dalam mengikuti kemana Asri pergi. Melihat Asri duduk di kursi santai, Riani tanpa pikir panjang mendudukkan dirinya di samping Asri. Bersikap mereka berdua adalah dua orang akrab yang tidak pernah memiliki perselisihan.


Ah, tidak-


Orang yang selalu membuat perselisihan adalah Riani dan orang yang selalu mencari peluang untuk membuat perselisihan adalah Riani. Sedangkan Asri hanyalah pemain pasif di sini, dia akan diam apabila Riani hanya mengatakan kata-kata omong kosong dan dia bisa bersuara bila Riani telah menyentuh batasnya.


"Paman ku malam ini akan pulang sedikit terlambat." Kata Riani sambil mendekatkan duduknya dengan Asri.

__ADS_1


Asri tetap mengabaikannya, dia masih memiliki sikap yang sama, menatap ke arah luar untuk mengamati hujan mulai turun deras. Pemandangan ini memang terkesan monoton tapi ini jauh lebih baik daripada melihat dan mendengarkan Riani berbicara hal-hal yang tidak berbobot.


"Kau tidak percaya padaku?" Tanya Riani masih mencoba berbicara dengan Asri.


Namun, orang yang ia ajak bicara tidak menggubris sama sekali perkataanya.


Riani berdecak kesal, ia sebenarnya sudah tidak tahan menghadapi sikap sok sabar Asri tapi demi kebaikan Paman nya, ia berusaha untuk menahan dirinya.


Yah, jujur saja, dia tidak pernah mempunyai pengalaman berbicara dengannya orang sekelas Asri, terlahir di desa tertinggal dan tidak memiliki kasta sosial yang terpandang.


Hah, berbicara dengan Asri adalah ujian memuakkan untuknya.


"Apa kamu akan percaya kepadaku jika aku mengatakan bila Paman hari ini secara pribadi pergi menjemput Kak Lisa ke bandara?"


Deg


Jantung Asri langsung berpacu cepat setelah mendengarnya. Hati kecilnya mengingatkan Asri untuk tidak terpancing dengan apa yang Riani katakan karena bisa jadi itu adalah sebuah provokasi dan kebohongan. Akan tetapi ia sungguh tidak bisa menahannya karena, karena ini menyangkut Arka dan wanita dari masa lalunya.


"Mas Arka pergi ke kantor, dia mengatakannya sendiri kepadaku." Kata Asri membantah pernyataan Riani sekaligus menegaskan kepada dirinya sendiri bahwa sang suami tidak mungkin membohonginya.


Sang suami pasti sedang sibuk bekerja di kantor saat ini, yah, inilah yang hati kecilnya bisikkan untuk menghibur kegundahan hati Asri yang mulai bergejolak lagi.


"Oh, benarkah?" Riani tersenyum puas, seperti yang ia duga Asri pasti akan terpancing cepat atau lambat.

__ADS_1


__ADS_2