Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 180


__ADS_3

"Mas Arka cuci piringnya, yah?" Setelah menghabiskan 7 butir telur, Asri akhirnya merasa kenyang dan tidak meminta tambah lagi. Jika Asri minta di masakan telur ceplok lagi, Arka ragu bila istrinya mungkin tidak lapar tapi doyan makan telur.


Mengikuti perintah Asri tanpa ragu sedikitpun, Arka tidak merasa rendah mengerjakan pekerjaan sepele ini. Justru dia senang karena bisa membuat istrinya tersenyum. Selain itu dia tidak mungkin membiarkan istrinya bekerja karena dia masih belum yakin bagaimana kondisi istrinya sekarang.


"Okay, kamu balik dulu gih ke kamar untuk istirahat. Urusan dapur biar aku yang beresin." Ucap Arka membujuk istrinya pergi duluan ke kamar mereka sementara dia sendiri membersihkan alat-alat yang sudah digunakan untuk memasak.


Alat makan yang kotor tidak banyak, tidak lebih dari 3 biji, Arka bisa menyelesaikannya dalam waktu 5 menit.


"Aku akan menunggu mas selesai." Asri menolak pergi.

__ADS_1


Hati Arka melunak. Dia senang Asri menemaninya di sini. Selain itu sebagai seorang suami tentunya dia ingin terlihat keren di depan istrinya sendiri. Dia bisa saja menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan kepada Asri jika dia adalah suami yang hebat, pekerja keras, dan sayang istri. Sehingga Asri akan semakin terpesona kepadanya!


"Okay, perhatikan aku baik-baik." Ucap Arka dalam suasana hati yang baik.


Dia lalu mengumpulkan peralatan makanan yang kotor di wastafel dan langsung mencucinya. Beberapa menit kemudian dia menyelesaikan semua cucian.


Sambil mengelap tangan, dia berbicara dengan istrinya.


Hei, dia mencuci piring kurang lebih 5 menit dan mengelap tangan kurang dari 2 menit, secara total ini belum setengah jam- eh, jangankan setengah jam, 10 menit saja belum sampai tapi istrinya sudah jatuh tertidur memasuki alam mimpi.

__ADS_1


"Sayang?" Panggil Arka sembari menghampiri istrinya.


Asri tidak menyahut panggilan suaminya. Hanya suara nafas teratur Asri yang memasuki indra pendengaran Arka.


Melihat ini Arka menggeleng kepalanya tidak berdaya.


"Padahal aku tadi mau pamer loh sama kamu, tapi tahunya kamu udah tidur." Mengelus lembut puncak kepala istrinya.


Arka kemudian merendahkan tubuhnya memegang punggung istrinya dengan tangan kanan sementara memegang tekuk lutut istrinya dengan tangan kiri. Sedetik kemudian dia mengangkat Asri seperti gaya pengantin.

__ADS_1


"Beberapa menit yang lalu kamu makan banyak, bahkan berkali-kali minta dimasakin telur. Harusnya badan kamu berat, tapi kenapa aku merasa semua makanan yang masuk ke dalam perut kamu tidak berarti apa-apa? Sayang, inilah yang membuat aku bingung dengan kondisi kamu. Beberapa saat yang lalu kamu masih becanda sama aku, dan sekarang belum 10 menit kamu udah tidur aja. Sebenarnya kamu kenapa sih, sayang? Aku pikir setelah banyak tertidur kamu enggak akan ngantuk lagi, tapi akhirnya kamu tidur juga. Aku khawatir. Pokoknya besok mau enggak mau kamu harus dibawa ke dokter. Aku enggak bakal tenang kalau kamu gini terus." Dumel Arka khawatir. Dia mengecup puncak kepala Asri sayang dan membawanya kembali ke kamar untuk beristirahat.


__ADS_2