Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) -133


__ADS_3

Demi istrinya dia telah berusaha keras untuk tidak menampilkan sisi buruknya sebelum benar-benar mengenal Allah.


Fina sangat marah dan bercampur sedih. Sejak berbicara Arka tidak pernah mengangkat kepalanya untuk bertatapan langsung dengannya. Di mata Arka hanya ada Asri seorang yang sangat menyakiti hatinya. Namun dia sadar tidak bisa melakukan apa-apa karena Arka sendiri telah mempermalukannya saat ini. Tidak diizinkan masuk kembali ke rumah ini apalagi sampai memperlihatkan dirinya di depan Arka, yang benar saja?


Fina tidak mampu menerima perlakuan ini. Hatinya menolak untuk mengalah karena menurut dirinya sendiri, semua ini terjadi karena ulah Asri. Dia masih seegois ini.


"Aku minta maaf, Mas Arka." Katanya memohon dengan isak tangisnya.


Arka mendengus dingin. Melihat kelakuan Fina yang tidak tahu malu, Arka ragu apakah istrinya dan Fina lahir dari rahim yang sama atau apakah istrinya dan Fina memiliki darah yang sama di tubuh mereka. Dasarnya, Fina dan Asri memiliki sikap ataupun sifat yang sangat berbeda. Bila yang satu sangat percaya diri dan suka bertindak egois, maka yang satunya lagi penurut juga polos.


Hah, bila dipikir-pikir didikan pondok pesantren jauh memiliki dampak positif terhadap istriku. Aku bersyukur istriku dulu sempat bersekolah di pondok pesantren. Batin Arka sangat mensyukuri kelebihan ini.


Jika istrinya memiliki model yang sama dengan Fina, ck...ck... Arka pasti tidak akan betah di dalam pernikahan ini. Tapi untungnya tidak, syukurnya.


"Aku bilang, maaf mu tidak berguna. Enyah, menyingkir dari hadapan ku. Bila kamu masih keras kepala, maka percaya atau tidak bahwa kamu tidak hanya tidak bisa masuk ke rumah ini tapi kamu juga tidak diizinkan masuk ke kampus itu lagi. Aku sangat serius dengan apa yang aku katakan." Arka masih bersikap dingin dan acuh tak acuh kepada Fina, mendorongnya dengan berbagai macam ancaman yang serius dan tidak main-main.

__ADS_1


"Aku..." Fina melihat sekelilingnya, anggota keluarga Arka tampak sangat menikmati pertunjukan dan tidak ada yang mau menengahi.


Lagipula mereka tidak ingin berhubungan dengan wanita yang tidak tahu malu juga sangat norak.


Lalu, matanya beralih menatap wajah terkubur Asri di dalam pelukan sang pujaan hatinya. Cemburu dan marah, itulah yang bergejolak di dalam hatinya. Dadanya seolah terbakar, ingin rasanya dia meneriaki Asri tapi dia sungguh tidak berdaya di hadapan Arka.


"Enyah." Usir Arka lagi sembari menekan kepala istrinya agar jangan bergerak.


Istrinya terlalu lembut. Dia tidak tahan melihatnya dibodohi oleh Fina.


"Mas, izinkan aku berbicara." Pinta Asri tertekan karena suaminya terlalu ketat.


Asri kesal, tapi mengerti mengapa suaminya bisa mengatakan ini.


"Aku tidak akan dibodohi olehnya karena ada Mas Arka di sini." Kata Asri ada benarnya.

__ADS_1


Arka tersenyum puas tapi masih enggan melepaskan istrinya. Terpaksa, dia akhirnya membiarkan istrinya berbicara dengan Fina.


"Fina." Panggil Asri tanpa senyuman di wajah merahnya.


Fina menatapnya dengan wajah basah, terlihat sangat teraniaya.


"Dek, di sini posisiku sangat sulit. Kamu adalah keluargaku tapi memiliki tujuan buruk terhadap rumah tanggaku. Oleh sebab itu, aku terpaksa harus mengatakan ini kepadamu. Pulanglah, dek, kembali ke rumah. Kakak mohon, sudah cukup kamu membuat masalah untuk Kakak. Kakak tidak ingin berpisah dengan Mas Arka, dan begitupun sebaliknya. Mas Arka tidak mau berpisah dari Kakak. Hidup kami sudah sangat nyaman dan bahagia, jadi tolong... tolong berhenti bersikap seolah-olah Mas Arka akan memperhatikan kamu. Dia sudah punya aku dan baginya aku sudah lebih dari cukup." Ketika mendengar apa yang istrinya katakan, Arka praktis tercengang.


Istrinya... ternyata bisa bertindak kejam. Ugh, ini adalah sebuah kabar baik.


Fina ingin mengatakan sesuatu untuk membalas Asri. Tapi semua kata-katanya langsung tertelan saat melihat ekspresi bangga Arka ketika menatap ke arah Asri.


Dia benar-benar telah kalah.


"Aku pergi!" Kata Fina melarikan diri.

__ADS_1


Dia berlari keluar dari rumah tanpa menoleh sedikitpun ke arah belakang. Dia sangat marah tapi juga malu karena Asri telah mempermalukannya di hadapan banyak orang.


Betapa hina dirinya ditatap bagaikan badut jalanan. Seolah-olah dia adalah pengganggu yang membuat mereka jijik untuk mendekat. Sedangkan untuk Asri, mereka semua menatapnya dengan kebanggaan. Mendapatkan uang dan gelar kehormatan Arka, betapa luar biasanya itu. Mengingat ini rasa ketidaksenangan Fina kepada Asri kian memuncak saja. Dia sungguh tidak tahan!


__ADS_2