
Saat ini mereka baru saja turun dari mobil dengan beberapa koper dan barang-barang yang dirasa cukup penting untuk dibawa. Mereka tidak perlu susah-susah mengangkut semua barang-barang itu karena begitu turun tadi sudah ada beberapa orang yang mengambil alih dan membawanya masuk ke dalam.
"Tapi Mas, rumah ini terlalu besar untuk kita berdua." Kata Ai tidak nyaman.
Suaminya akan bekerja di kantor dan otomatis waktunya akan lebih banyak di habiskan di dalam kantor. Sementara Ai akan sendirian di rumah ini menunggu kepulangan sang suami. Ah, bisa dibayangkan betapa membosankan nya hari-hari yang akan Ai lalui.
Ustad Vano memeluk pinggang Ai sambil membimbingnya berjalan ke arah pintu masuk.
"Siapa bilang kita akan tinggal berdua saja?" Ustad Vano menyembunyikan sesuatu dari Ai.
"Eh, maksud Mas di rumah ini tidak hanya kita saja? Kalau begitu siapa lagi yang akan tinggal di sini selain kita berdua?" Tanya Ai penasaran bercampur perasaan cemas.
Dia bukanlah orang yang pandai bergaul, takutnya penghuni yang lain merasa terganggu dengan kepribadiannya ini.
"Em, Ai mau tahu?" Ustad Vano masih enggan memberitahu.
Ai mengangguk cepat.
"Iya, Mas. Takutnya orang itu nanti tidak-"
"Lho, ini Ustad Vano dan Ai...ya Allah, Ai!" Sebuah suara histeris yang sangat tidak asing menarik perhatian Ai.
Ai langsung menoleh ke belakang, menatap penuh kejutan pada sosok gadis cantik bergamis putih yang kini tengah berdiri bersama seorang laki-laki tinggi.
"Mega dan Ustad Azam! Ini...ini benar-benar mereka!" Ai dilanda keterkejutan, tapi lebih di dominasi oleh perasaan bahagia.
"Mas..." Ai meremat kuat lengan suaminya meminta izin.
Ustad Vano tertawa, dia mengecup pipi Ai sebelum mengizinkannya pergi.
__ADS_1
Melihat Ai berlari kecil mendekatinya, Mega pun tidak tinggal diam. Ia segera berlari mengejar Ai setelah mendapatkan izin dari suaminya.
"Ya Allah, Ai! Aku sangat merindukanmu!" Mega memeluk Ai erat, menumpahkan kerinduannya kepada sang sahabat.
Ai pun sama bahagianya bisa bertemu kembali. Ia balas pelukan Mega erat untuk berbagi kerinduan.
"Mashaa Allah, aku juga merindukan mu, wahai sahabatku. Aku sangat senang kita berdua bisa dipertemukan lagi." Ujar Ai tidak kalah rindu.
"Bagaimana kabarmu, sekarang?" Tanya Mega setelah melepaskan pelukan Ai, namun kedua tangan mereka masih terjalin.
"Alhamdulillah, kabarku baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan kamu, Ga?"
Mega mengembang senyuman lebar.
"Alhamdulillah, kabarku juga baik-baik saja, Ai. Pernikahan ku dengan Mas Azam sangat lancar. Tapi...aku minta maaf karena tidak bisa menghadiri hari akad mu, Ai."
"Tidak apa-apa, Ga. Mas Vano sudah memberitahuku sebelumnya jika hari akad kita dilaksanakan di waktu yang bersamaan sehingga kita tidak bisa menghadiri acara satu sama lain."
"Benar, Ai. Mas Azam juga mengatakan hal yang sama. Lalu..." Mega ragu untuk mengatakannya.
Ai mengerti apa yang Mega pikirkan.
"Aku sangat merindukan Asri." Kata Ai sangat merindukannya.
Mega mengangguk lemah,"Aku juga sangat merindukannya, Ai. Aku rindu dengan tingkah konyolnya di pondok dulu."
Karena Asri mereka beberapa kali mendapatkan sebuah hukuman, akan tetapi karena Asri pula setiap hukuman yang dijalani terasa ringan dan menyenangkan. Mereka menjadi mudah akrab karena keceriaan Asri yang mudah menular kepada orang-orang disekelilingnya.
Jadi, bagaimana mungkin Mega dan Ai tidak merindukannya?
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Ustad Azam berpura-pura tidak pernah mendengarkan apapun sebelumnya.
"Benar, apa yang kalian bicarakan sehingga melupakan keberadaan kami berdua?" Ustad Vano juga berada di garis yang sama dengan Ustad Azam.
Mereka masih kompak entah itu di pondok pesantren ataupun di sini.
Ai dan Mega saling tatap, diam-diam mereka saling melemparkan persetujuan untuk tidak memberitahu para suami.
"Kami sedang membicarakan mengenai rumah ini. Ai bilang dia dan Ustad Vano juga akan tinggal di sini." Ai tidak pernah mengatakannya.
Dan yah, Mega hanya asal menebak saja dan hasilnya ternyata memang benar.
"Benar istriku, Ustad Vano dan istrinya juga akan tinggal di sini sehingga kamu tidak akan kesepian di rumah ini bila kami tinggal bekerja." Ustad Azam dengan mudah menjelaskan.
Ai dan Mega kompak terkejut,"Sungguh?"
"Sungguh, kita akan tinggal di sini bersama-sama." Ustad Azam menegaskan.
Ai dan Mega sangat senang, senyuman lebar nan manis di wajah mereka berdua benar-benar menyilaukan mata.
"Tapi di rumah ini bukan hanya kita berempat saja karena ada satu pasangan lagi yang harus kalian tahu. Pasangan itu adalah pemilik sah rumah ini dan kini sedang menunggu kedatangan kita." Ini adalah berita besar lainnya.
Ai kembali dilanda perasaan gugup,"Siapa pasangan yang Mas, maksud-"
Cklack
Suara pintu terbuka kemudian disusul oleh pertanyaan shock dari suara yang sudah sangat tidak asing untuk Ai dan Mega.
"Ai, Mega... bagaimana mungkin aku masih terjebak di dalam mimpi yang sama?"
__ADS_1