
Sudah 3 jam berlalu, namun pasangan suami-istri itu masih belum menampakkan batang hidung mereka di sini. Ai khawatir, ia jadi tidak tenang memikirkan sahabatnya tersebut. Mungkinkah di dalam mereka sedang bertengkar hebat dan Arka meminta Asri untuk angkat kaki dari rumah ini.
Pasalnya sudah berjam-jam tapi sahabatnya itu belum juga keluar. Dalam waktu sepanjang itu, mungkin saja sahabatnya sedang mengemasi semua barang-barangnya ke dalam koper, iya'kan?
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
"Ai, jangan berdiri di sini, lagi." Mega menarik tangan sahabatnya menjauh dari depan tangga.
"Wajah kamu pucat banget, Ai. Apa ini karena sebentar lagi kamu akan datang bulan?" Tanya Mega khawatir.
Pasalnya di pondok pesantren dulu Ai akan seperti ini sebelum datang bulan. Wajahnya akan menjadi pucat pasi seperti orang yang kekurangan darah, tubuhnya melemah tidak bisa beraktivitas banyak dan terakhir yang paling parah adalah Ai harus diinfus karena jatuh pingsan.
Dan ini tidak terjadi sekali dua kali, tapi sudah terjadi semenjak Ai beranjak remaja dan mendapatkan haid pertamanya.
__ADS_1
"Benarkah?" Ai hitung-hitung sudah hampir dua bulan ia tidak datang bulan.
Dua bulan, seharusnya ini adalah waktu yang cukup normal untuk Ai. Namun saat sekolah di pondok Ai juga sempat mengalami datang bulan yang normal seperti wanita pada umumnya, 1 bulan sekali.
Itu adalah kemajuan yang baik dan Ai pikir dia bisa mengalami fase normal secara perlahan-lahan, tapi kenapa sampai dengan bulan ini ia masih belum mendapatkan jadwalnya?
Apa mungkin ini karena- astagfirullah, dia melupakan sesuatu yang sangat penting. Karena kondisinya ini haid datang tidak beraturan jadi wajar saja ia tidak mengalami haid 2 atau 3 bulan lamanya.
"Aku pikir bulan ini aku tidak akan kedatangan tamu karena tubuhku juga tidak lemas seperti sebelum-sebelumnya." Kata Ai memberi perkiraan.
"Sebenarnya aku baik-baik saja, hanya saja akhir-akhir ini aku suka merasa pusing." Akui Ai seraya menyentuh keningnya.
Dia seringkali merasakan pusing dan nafsu makannya pun mulai menghilang. Ini tidak aneh karena sebelum masuk pondok pesantren, Ai memang tipe orang yang tidak terlalu tertarik pada makanan. Saking kurang nafsu makannya, Ai sering berpuasa dan membuat Bunda khawatir. Bunda dulu membeli banyak suplemen makanan agar Ai bisa makan banyak.
__ADS_1
Dan sekarang, Ai merasakan perasaan itu lagi. Tapi anehnya, nafsu makannya akan segera terpacu ketika bersama Ustad Vano. Dia dengan sendirinya makan bila sang suami ada di sampingnya.
"Pusing?" Suara berat Ustad Vano mengejutkan Ai dan Mega.
Mereka kompak menoleh ke belakang dan mendapati jika suami masing-masing sudah masuk ke dalam rumah entah sejak kapan.
"Kamu kok gak bilang-bilang sama aku kalau akhir-akhir ini suka pusing?" Mega buru-buru bangun dari duduknya, membiarkan Ustad Vano berbicara dengan Ai.
Sedangkan ia sendiri pergi menyambut suaminya, mengambil tas kerja Ustad Azam dengan sopan sembari mencium punggung tangannya.
Ustad Azam dan Mega lalu pergi ke lantai 3, lantai khusus tempat mereka tinggal. Membiarkan Ai dan Ustad Vano waktu untuk berbicara.
"Ini cuma pusing biasa, Mas. Inshaa Allah, ini tidak akan serius." Kata Ai mulai menyamankan dirimu di dalam pelukan sang suami.
__ADS_1
Dia suka sekali menghirup bau keringat suaminya setelah pulang bekerja. Ia tidak tahu mengapa tapi Ai merasa kecanduan ingin terus mencium wangi suaminya. Saking sukanya, terkadang ia akan menahan suaminya untuk tidak mandi sampai ia benar-benar puas menghirupnya.
"Tapi ini sudah sering terjadi'kan?" Bisik Ustad Vano bertanya.