
Dia benar-benar tidak mengerti, ia sungguh tidak mengerti mengapa Ai semarah ini kepadanya. Sikap ini persis seperti yang Ai tujukan kepadanya di malam itu-
"Astagfirullah...ini tidak ada hubungannya dengan fisik Ai lagi'kan? Memangnya siapa yang akan merendahkan kondisi istriku di sini- apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan keluarga ku yang ada di rumah Kakek?" Ustad Vano mengusak-usak kepalanya berpikir.
Ia berpikir keras, terkadang kakinya akan berjalan mondar-mandir di sekitar kamar sembari mencoba mencari jalan keluar dari masalah ini. Pasalnya Ai juga seperti ini saat ada rumor buruk yang menyebar di pondok pesantren. Beberapa orang mempermasalahkan kondisinya, mengecapnya sebagai gadis cacat yang tidak akan pernah menghasilkan keturunan. Ai sangat down waktu itu, ia bahkan secara terang-terangan menolak pemberian Ustad Vano karena ia tidak percaya diri dengan dirinya sendiri.
"Sebelumnya Shia mengatakan bila Ai dan Bibi Mei sedang mengobrol di taman belakang- astagfirullah... bagaimana itu mungkin? Bibi Mei adalah orang yang sangat baik. Ia tidak mungkin berbicara kasar kepada istriku. Tidak, ini tidak-"
Terd
Terd
__ADS_1
Terd
Ada telepon masuk. Ustad Vano langsung mengangkatnya ketika melihat id penelpon. Kebetulan sekali pikirnya, ia sangat membutuhkan beberapa kata dari Mama untuk menenangkan saraf tegangnya.
"Hallo, assalamualaikum-"
"Waalaikumussalam, Vano." Jawab Mama tanpa perlu menunggu Vano menyelesaikan salamnya.
Mama lalu berkata dengan nada marah,"Apa yang kamu lakukan, Vano? Kenapa kamu membiarkan Rani dan Riani menginap di sana?"
"Nak, tentu saja mereka bisa menginap di sana sesuka hati tapi itu berlaku jika Rani tidak menyukai kamu!" Potong Mama tidak sabar di ujung sana.
__ADS_1
Ustad Vano terkejut, ia tiba-tiba meragukan ******** otaknya untuk berpikir,"Maksud Mama?"
"Ya Allah, Vano! Kamu seharusnya sadar jika Rani menyukai kamu, Nak! Dia suka kepada kamu bukan sebagai saudara namun sebagai gadis yang jatuh cinta kepada seorang laki-laki!" Mama gemas ingin mencubit lambung putranya.
Mengapa sulit sekali berbicara dengan putranya?
Ustad Vano tidak percaya,"Ini gak mungkin, Ma, ini hanya perasaan Mama saja." Ustad Vano membuang jauh-jauh pikiran gila ini.
"Jika kamu tidak percaya maka tanya saja Papa kamu. Karena saat Bibi Mei datang mengajukan pernikahan di antara kamu dan Rani, Papa juga ada di sana menemani Mama. Saat itu Rani bahkan memohon kepada kami berdua agar bisa dinikahkan dengan dirimu. Akan tetapi Papa dan Mama menolaknya dengan tegas karena kami tahu kamu sudah memiliki Ai di hati. Setelah kejadian itu, Mama pikir Rani sudah bisa melupakan kamu tapi siapa yang akan mengira jika dia dan Bibi Mei memutuskan untuk kembali ke Indonesia! Tidak hanya kembali, tapi dia juga berani menginap di rumah kalian! Katakan, Nak, motif apa yang direncanakan oleh Rani jika tidak bermaksud untuk mengganggu pernikahan mu dengan Ai?"
Informasi ini datang begitu tiba-tiba, membuat Ustad Vano terdiam sepenuhnya ketika memikirkan perubahan demi perubahan Ai semenjak pulang dari rumah Kakek.
__ADS_1
Pembicaraan Bibi Mei dengan istrinya di taman belakang mengubah sikap istrinya menjadi lebih murung, lalu sekarang kedatangan Rani yang semakin menjauhkan jarak di antara mereka.
Ustad Vano tersadar, ia terduduk lemas di lantai merasa sangat bersalah. Tangisan penolakan dari istrinya, permohonan istrinya untuk menyendiri, dan setiap kontak fisik yang telah membuat istrinya tidak nyaman. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari sejak awal?