Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 138


__ADS_3

"Angga, pulang! Jangan bermain dengan monster ini!" Suara ketus seorang gadis remaja segera membuat tubuh Alsi mematung.


Teriakan itu sangat nyaring sehingga menarik perhatian semua anak-anak yang sedang berkumpul di lapangan. Mereka kompak mengalihkan perhatian ke Ai, melihat dengan rasa ingin tahu yang tinggi siapakah monster yang gadis itu bicarakan.


Mereka masih anak-anak, tidak terlalu jelas dalam hal benar dan salah. Bagi mereka, apa yang dikatakan orang yang lebih tua adalah kebenaran yang harus di patuhi atau kesalahan yang harus dijauhi. Maka, begitu remaja itu mengatakan dan menyebarkan sebuah rumor bila Alsi adalah anak monster mereka langsung mempercayainya tanpa syarat dengan polosnya.


"Ih, monster itu datang lagi." Kata Angga, adik dari gadis itu.


Gadis itu melangkah sombong mendekati perkumpulan anak-anak, berdiri di hadapan Alsi untuk menjauhkan anak-anak dari jangkauan Alsi.

__ADS_1


Sedangkan Alsi sendiri yang dianggap monster tidak bergerak atau melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan mereka. Dia hanya berdiri di tempat dengan kedua bahu gemetar ketakutan setelah mendapatkan penolakan dari teman-teman sebayanya.


"Kamu kenapa keluar lagi? Kamu lebih baik diam di rumah saja bersama Ibumu yang sok alim dan cantik itu!" Kata gadis itu dengan nada cemburu!


Saat memikirkan Ai, ada kilatan kecemburuan di dalam matanya. Entah apa yang ada di dalam hatinya, tapi yang pasti gadis itu sepertinya tidak terlalu menyukai Ai. Padahal Ai jarang keluar dari rumah kalau tidak sedang membutuhkan sesuatu. Ai lebih banyak tinggal di dalam rumah untuk melayani suami dan anaknya. Bila suaminya pergi bekerja, dia akan berkumpul dengan kedua sahabatnya yang lain. Menghabiskan waktu untuk membicarakan banyak hal atau bereksperimen membuat sesuatu di dapur.


"Aku...aku ingin bermain dengan teman-teman..." Kata Alsi lembut sarat akan ketakutan.


"Apakah Kak Vano pergi bekerja?" Tanya gadis itu kepada Alsi.

__ADS_1


Alsi sangat gugup. Wajahnya langsung memucat ketika gadis itu menanyakan tentang Abi. Bertanya-tanya apa yang ingin dilakukan gadis ini dan apa hubungannya dengan Abi.


"Abi... Abi pergi bekerja." Kata Alsi sambil menahan ketakutannya.


Gadis itu mendengus tidak senang. Alsi memang cantik sama seperti Ai, gadis ini mengakui dengan jujur bila Alsi maupun Ai memiliki wajah yang sangat menawan. Namun semua itu sama sekali tidak berguna dengan kondisi tubuh mereka yang dilahirkan terkutuk. Hah, siapapun akan merasa tidak adil bila laki-laki sebaik Ustad Vano berakhir menikahi seorang gadis yang cacat.


"Abi? Jangan panggil dia Abi karena kamu bukan siapa-siapa apalagi anaknya. Kamu adalah seorang monster sama seperti Ibumu. Kalian berdua tidak seharusnya berada di sekeliling Kak Vano-"


"Umi bukan monster!" Bantah Alsi mengagetkan gadis itu.

__ADS_1


Kedua mata Alsi mulai berair, lalu tidak lama kemudian air matanya meluap mulai membasahi sisi wajah cantiknya yang pucat pasi. Bila dia, Alsi, seorang anak terlantarkan dicap sebagai seorang monster, Alsi masih bisa menerima semuanya dengan berlapang dada sambil menekan kesedihannya. Tapi tidak dengan kedua orang tuanya, terutama untuk gadis lembut nan cantik yang telah dia anggap sebagai Umi. Alsi tidak akan tahan mendengar siapapun merendahkan Umi di depannya sendiri.


"Oh wow, ini mengejutkan. Kamu dan Ibumu ternyata sama-sama tidak tahu diri. Kalian ini aneh, terlahir cacat tapi masih berkilah kalian adalah manusia normal sama seperti kami. Apalagi Ibumu. Dia adalah monster sok alim-"


__ADS_2