Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 97


__ADS_3

Sebab diantara mereka bertiga tidak perlu ada yang disembunyikan, mereka adalah keluarga, ingat? Entah di dunia dan di akhirat nanti, inshaa Allah mereka bertiga tidak akan pernah terpisahkan.


"Ada apa, Asri- astagfirullah!" Ai sontak beristighfar ketika melihat pergelangan tangan Asri terlihat merah-merah seperti digigit oleh manusia- tentu saja pelakunya adalah Arka.


Tapi apa motif Arka menggigit pergelangan tangan Asri cukup mengundang tanya- jangan bilang jika mereka baru saja...


Tidak turun sholat magrib - cara berjalan yang aneh - dan jejak gigitan di pergelangan tangan- bukankah ini menunjukkan jejak ambigu!


Kepala Ai bergerak cepat menganalisis setiap keanehan yang Mega sebutkan sehingga ia sampai pada satu kesimpulan yang cukup gila, tapi bukankah itu tidak menutup kemungkinan karena mereka adalah pasangan suami-istri!


"Kamu kenapa Ai?" Tanya Mega heran.


Pasalnya wajah Ai juga memerah!


"Itu...aku tidak berani mengatakannya!" Kata Ai tersipu.


Ia menatap Asri beberapa kali, dengan pemahaman masing-masing mereka berdua kompak tersipu.


Mega bingung melihat perubahan wajah kedua sahabatnya,"Apa yang sedang terjadi? Kenapa kalian tidak mau memberitahuku?" Dia lalu beralih menatap Asri yang yang sedang tersenyum malu-malu menatap sayuran mentah di tangannya, jujur penampilan tersipu Asri agak aneh baginya karena Asri selalu mempunyai kesan gadis yang ceria dan agak konyol.


"Asri katakan kepadaku apa yang terjadi?" Desak Mega tidak sabar.

__ADS_1


Ia sudah geregetan ingin mencubit pipi merah Asri.


Asri tersenyum malu,"Aku...dan Mas Arka hari ini...kami hari ini akhirnya membuat bayi."


Mega,"....." Tidak heran kalian tidak turun selama apapun kami menunggu!


...🍃🍃🍃...


Saat bangun dini hari untuk melaksanakan sholat malam, aku berusaha untuk tidak mengeluarkan air urine ku sampai waktu subuh masuk. Aku melakukan ini karena takut mungkin hasilnya akan mempengaruhi tespek nanti meskipun sebenarnya aku tidak tahu kekhawatiran ku ini benar atau tidak. Tapi untuk berjaga-jaga tidak ada salahnya untuk melakukan tindakan ini.


Suara rekaman orang mengaji mulai terdengar dari speaker masjid menandakan bahwa Mas Vano dan yang lainnya harus segera pergi ke masjid. Sebagai seorang istri yang baik, aku buru-buru menyiapkan sajadah Mas Vano dan merapikan kerah pakaiannya agar tampil dengan baik di hadapan Allah nanti.


Sebuah usapan lembut aku rasakan di atas puncak kepalaku. Aku mendongak menatap wajah Mas Vano yang kini tengah tersenyum lembut padaku.


Hatiku menghangat dan wajahku terasa mulai panas, entah seperti apa wajahku sekarang di depan Mas Vano tapi yang pasti aku tidak berani berlama-lama menatap wajahnya. Aku segera menundukkan kepalaku bersembunyi dari tatapan Mas Vano.


"Sudah rapi, Mas." Kataku sambil menurunkan tangan ku yang sebelumnya sibuk mengancingkan kerah Mas Vano.


Tapi Mas Vano segera menahan kedua tanganku, dia menggenggam tangan ku lembut dan menariknya ke atas melingkari leher Mas Vano. Aku malu, ingin menarik kedua tanganku tapi Mas Vano tidak membiarkan ku pergi. Tidak hanya tidak membiarkan kedua tanganku lepas tapi ia juga menarik pinggangku lebih dekat dengannya. Aku bisa merasakannya, otot-otot kuat tangan Mas kini tengah mengunci pinggangku dengan sangat mudah.


Aku tidak bisa melawan dan aku juga tidak bisa melepaskan diri. Perasaan ini sangat luar biasa mendebarkan. Aku tidak tahu apa maksud Mas Vano melakukan ini akan tetapi perasaan gelisah di dalam hatiku perlahan mulai terlupakan. Kepalaku dibuat terfokus hanya memikirkan Mas Vano seorang, menerka-nerka apa maksud tindakannya saat ini.

__ADS_1


"Istriku, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Bisik Mas Vano terdengar agak serak.


Aku tidak berani menatapnya dan bertanya,"Apa yang ingin Mas Vano katakan." Tanyaku dengan suara detak jantung berdebar yang tidak bisa disamarkan.


Di dalam dada datar ku ini ada debaran kuat dari jantung yang tidak pernah berhenti memompa darah ke seluruh tubuh ku. Jantung ku berpacu cepat, memompa darah dengan kekuatan penuh ke seluruh ku, membuat kulitku merasakan panas yang tidak biasa tapi anehnya tidak menyakitkan sama sekali.


"Maafkan aku, tapi sebelum jatuh cinta kepadamu, hatiku sudah lama menjadi wanita lain."


Deg


Aku spontan mengangkat kepalaku menatapnya tidak percaya. Aku pikir Mas Vano hanya sedang bercanda tapi sorot mata tajamnya mematahkan harapan ku, Mas Vano terlihat sangat serius dengan apa yang ia ucapkan dan aku tahu Mas Vano bukanlah orang yang suka membuat lelucon.


Tapi...apa maksud Mas Vano mengatakan ini?


Mereka sudah menikah dan semalam semuanya masih baik-baik saja tapi kenapa dia tiba-tiba membuat pengakuan ada wanita lain yang pernah tinggal di dalam hatinya.


Aku memberanikan diri bertanya,"Tapi...Mas Vano sudah melupakannya?"


Untuk semua pengakuan yang selalu Mas Vano lambung kan setiap malam, aku harap itu semua bukanlah omong kosong belaka. Aku harap selama ini apa yang Mas Vano berikan kepadaku, perhatian yang Mas Vano berikan kepadaku, semuanya adalah sebuah kejujuran dan ketulusan.


"Maafkan aku, Aishi, tapi wanita itu tidak pernah bisa terhapus kan dari dalam hatiku selama hidup ini."

__ADS_1


Ah,


__ADS_2