Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 71


__ADS_3

1 bulan, setelah 1 bulan pernikahannya apakah ia akan benar-benar menjadi janda?


"Hei, apa kamu mendengar ku? Apa kamu mendengar semua yang aku katakan tadi?" Riani bertanya tidak sabar karena sedari tadi Asri hanya melihat ke arah luar dan tidak memberikan reaksi apapun.


Ia pikir Asri akan sangat marah, berteriak-teriak atau menangis histeris seperti yang ada di dalam bayangannya. Tapi lihatlah yang ia dapatkan sekarang, Asri tidak hanya tidak menangis tapi ia juga tidak marah. Ia tidak menunjukkan reaksi yang Riani inginkan. Malah anehnya, Asri tampak sangat tenang dan bersikap abai menatap ke luar. Seolah-olah hujan lebih menarik daripada apapun.


Asri menoleh menatapnya,"Kamu...apa kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Asri linglung.


Riani menjadi sangat kesal sepenuhnya, dia berdiri menunjuk-nunjuk Asri dengan ujung ponselnya.


"Kamu...kamu-" Ia ingin mengatakan sesuatu untuk melampiaskan kekesalannya tapi Asri lebih dulu memotongnya.


"Mumpung kamu ada di sini, apakah aku boleh bertanya mengenai satu hal?" 


Riani pikir ini mengenai masalah Arka dan Lisa sehingga ia melupakan kemarahannya begitu saja,"Ya, bertanyalah."


Asri tidak langsung bertanya, ia menatap wajah cantik Riani dengan tak pasti, menimbang apakah ia bisa menanyakan masalah ini atau tidak- ah, toh pada akhirnya Arka tidak akan pernah mengetahui masalah ini jadi tidak ada salahnya ia bertanya kepada Riani.


"Ini...aku ingin membeli buah Durex tapi aku tidak menemukannya dimana-mana, maukah kamu memberitahuku kemana aku harus pergi untuk membeli buah ini?" Tanya Asri dengan ekspresi polos di wajahnya.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan frontal Asri, wajah Riani langsung memerah terang antara malu juga kemarahan.


"Dasar gadis norak, kampungan! Cepat kemasi barang-barang kamu hari ini sebelum Paman Arka mengusir mu dari rumah ini." Sungut Riani kesal sebelum pergi dalam keadaan jengkel.


Bagaimana mungkin ia tidak jengkel? Disaat ia telah berbicara serius panjang lebar, Asri malah memikirkan barang terlarang itu dan bahkan berani bertanya kepadanya!


Riani sungguh tidak habis pikir dengan pola pikir kampungan Asri.


Ia berjalan cepat masuk ke dalam rumah, meninggalkan Asri di tempat yang masih belum memalingkan wajahnya dari sosok punggung Riani.


"Dia juga tidak mau memberitahu ku." Bisiknya linglung.


Tak lama kemudian, cairan bening nan hangat yang sempat ia tahan tadi akhirnya jatuh meluap dari sudut matanya. Dia menangis dalam diam, tidak bersuara ataupun mengatakan apa-apa untuk menumpahkan betapa kecewa hatinya saat ini.


Ah, hujan deras diluar sana tampaknya sengaja Allah turunkan untuk menghibur hatinya yang terluka. Hujan deras yang mengalir tanpa henti menimbulkan suara mencolok bagaikan senandung lembut menghangatkan hatinya.


Dia kemudian berdiri dari duduknya, berjalan ringan ke arah luar. Berdiri di luar, ia membawa pandangannya menatap langit, menatap langit kelabu yang menyesakkan hati. Tidak ada cahaya matahari sore yang menghangatkan, tidak ada sapuan angin sore yang menyejukkan, tidak ada..


Asri tidak menemukannya.

__ADS_1


Ia hanya menemukan langit kelabu, sapuan udara dingin yang membuat tubuh menggigil, dan air hujan yang turun begitu deras menyebarkan rahmat Allah.


"Astagfirullah, Asri! Kamu kenapa mandi hujan sore-sore begini?" Teriakan Mega menarik Asri dari lamunannya.


Ia terkejut ketika menyadari bahwa ia sudah basah oleh guyuran air hujan, mengapa ia tidak menyadarinya tadi?


"Asri masuklah, di sini dingin." Panggil Ai kedinginan.


Asri menoleh ke belakang,"Ayo mandi hujan bersamaku, airnya tidak dingin, kok." Ajak Asri tidak berbohong.


Syukurlah pikirnya, mungkin ini adalah pertolongan Allah untuknya agar Ai dan Mega tidak melihat wajah menyedihkannya tadi. Asri tidak bisa menjelaskan kepada mereka kenapa ia tiba-tiba menangis, ia tidak mungkin mengatakan bila Arka telah berbohong dan berselingkuh dengan Lisa. Sungguh, ia tidak bisa mengatakannya.


"Sungguh?" Ai terpancing.


Asri menganggukkan kepalanya dengan semangat,"Sungguh, ini tidak dingin sama sekali."


"Ah.." Ai menyentuh air hujan yang turun, rasanya tidak dingin.


"Ai jangan- ya Allah, Ai!" Mega belum selesai berbicara tapi Ai sudah ditarik oleh Asri untuk main hujan-hujanan.

__ADS_1


Tinggallah Mega sendirian di dalam menatap cemburu kedua sahabatnya bisa bermain hujan bersama-sama, sedangkan ia di dalam hanya bisa melihat.


"Padahal aku kan juga mau." Bisiknya ingin seperti mereka.


__ADS_2