
Suaminya telah merencanakan masa depan mereka berdua, suaminya telah memikirkan semua kemungkinan yang terjadi dan Ai seharusnya tidak perlu takut.
"Allah adalah jaminan kami, Bibi. Bila Allah ridho maka mudah bagi-Nya menghadirkan seorang anak diantara kami. Bila Allah ridho terhadap hubungan kami, maka mudah bagi-Nya untuk menjaga keharmonisan rumah tangga kami. Dan bila Allah tidak ridho terhadap hubungan kami, maka mudah bagi-Nya untuk memutuskan hubungan pernikahan kami. Semuanya ada di tangan Allah, Bibi. Kami hamba-hamba-Nya hanya bisa berserah diri kepada-Nya sembari berusaha menjaga hubungan rumah tangga kami." Meskipun sakit, Ai akhirnya bisa menjernihkan pikirannya.
Tidak perduli apa, orang yang menikahinya adalah Ustad Vano dan Bibi Mei ataupun siapapun itu tidak memiliki hak menghakimi kehidupan rumah tangganya.
Adapun mengenai masa depan, bila Allah ridho terhadap hubungan rumah tangga mereka maka pernikahan ini tidak akan pernah terputus namun bila Allah tidak ridho maka sekuat apapun Ai mempertahankannya, ia tidak akan pernah bisa melawan kehendak Allah.
"Yah, pada akhirnya kamu hanya bisa mengandalkan Tuhan untuk menjawabnya. Tidak apa-apa, aku tahu kamu sangat mengerti dirimu sendiri dan aku juga tahu kamu pasti tidak ingin membuat suamimu kecewa, maka dari itu aku ingin menikahkan putriku dengan Vano. Bila Vano menikah dengan putriku, setidaknya ia bisa mendapatkan keturunan, hal penting yang tidak bisa kamu berikan sebagai seorang istri."
Jadi pada akhirnya karena masalah ini,
"Bibi Mei ingin menikahkan Mas Vano dengan sepupunya?"
Bibi Mei langsung menjawab,"Ya, oleh karena itu kamu harus mengizinkan Vano menikah lagi. Menikahi putriku sehingga masa depan Vano di masa depan kelak bisa terjamin."
Ia mengatakan berbagai macam kata untuk membuat Ai lemah, meragukan dirinya sendiri sehingga terciptalah sebuah peluang orang ketiga hadir di antara Ai dan Ustad Vano.
Sekarang ia mengerti mengapa Bunda mengatakan kepadanya untuk mengeraskan hati setelah berumah tangga nanti, ia pikir karena apa tapi ternyata untuk menghadapi ujian ini.
Ah, Ai ingat bila Bunda dulu pernah diperlakukan seperti ini oleh orang lain, mereka menghakimi Bunda karena usianya yang jauh lebih tua daripada Ayah. Namun apa yang terjadi, setelah semua kata-kata merendahkan itu terlempar Allah menghadirkan Qais, Rumaisha, dan Ahza di dalam rahim Bunda.
__ADS_1
Kembar tiga sekaligus!
Seolah-olah Allah ingin menunjukkan kepada mereka semua bahwa bila Allah berkehendak, tidak akan ada yang bisa menghentikan-Nya. Tua, buruk, baik, cacat, ataupun tidak cacat, semua itu tidak bisa menghentikan-Nya.
Ini adalah sebuah tamparan yang sangat menyakitkan untuk mereka yang telah berani-beraninya menghakimi ciptaan Allah, menghakimi para hamba Allah, ini adalah sebuah tamparan keras untuk orang yang berani-beraninya mendahului Allah dalam menghakimi hamba-Nya.
"Bibi Mei, tidak patut bagi seorang istri memberikan ridho nya kepada suami karena suami tidak membutuhkan ridho istri. Suami hanya membutuhkan ridho dari kedua orang tuanya karena ridho mereka adalah ridho Allah pula, Bibi. Jadi, jika Bibi ingin menikahkan Mas Vano dengan putri Bibi maka langsung temui Mas Vano dan bukannya diriku. Dialah yang memutuskan karena dia adalah seorang laki-laki. Dan bila Bibi menginginkan jawaban yang lebih jelas dan cepat, maka temui lah Mama dan Papa. Ridho mereka adalah ridho Allah pula, Mas Vano tidak akan menolak jika Mama dan Papa mengizinkan pernikahan ini terjadi." Sakit memang rasanya, tapi apa yang ia katakan semuanya benar.
Mungkin suaminya tidak mau menikah lagi tapi bagaimana dengan kedua mertuanya?
Mungkin... mungkin mereka menginginkan seorang cucu untuk menghibur hari-hari tua mereka, di tambah lagi calon istri kedua suaminya adalah kerabat dekat mereka sehingga besar kemungkinan mereka mengizinkan Ustad Vano menikah lagi.
Menikah lagi, jika Ustad Vano menikah lagi maka talak akan jatuh diantara mereka.
Bibi Mei kehilangan senyum diwajahnya,"Kamu benar-benar pandai berbicara."
Dia sudah pernah mengajukan pernikahan kepada kedua orang tua Ustad Vano, tapi langsung ditolak tanpa perlu pikir panjang oleh mereka dengan alasan Ustad Vano sudah menetapkan hati kepada seorang gadis. Dan sekarang, setelah ia tahu siapa gadis itu dan latarbelakang keluarganya, Bibi memberanikan diri untuk menjalankan rencananya.
Jadi, satu-satunya jalan untuk membahagiakan putrinya adalah berbicara secara pribadi dengan Ai. Ia berharap dengan pembicaraan ini Ai mau mengizinkan Ustad Vano menikah- atau mungkin lebih tepatnya meminta Ustad Vano menikah lagi dengan alasan ini demi kebaikan Ustad Vano.
Namun, siapa yang menyangka bila Ai sangat pandai berbicara? Dia sepenuhnya tertipu oleh sikap lemah dan lembut Ai.
__ADS_1
Dia kira Ai mudah diajak berbicara tapi ternyata perkiraannya salah besar.
"Bibi Mei, apa ada lagi yang ingin dibicarakan denganku?" Tanya Ai memberikan sinyal bahwa dia tidak ingin lebih lama lagi di sini.
Bibi Mei melambaikan tangannya tidak perduli,"Hem pergilah."
Meskipun sikapnya tidak seramah pertama, tapi Ai masih bersikap sopan kepadanya. Dia mengucapkan salam kepada Bibi Mei, lalu pergi masuk ke dalam rumah.
Setelah masuk ke dalam rumah, Ai tidak langsung pergi ke dapur untuk menemui sahabatnya atau pergi ke ruang tengah untuk mengadu kepada suaminya, dia tidak melakukan itu.
Ia malah pergi ke kamar mandi, mengunci pintu kamar mandi serapat mungkin baru setelah itu tubuhnya yang tadinya berdiri tegar dengan keras kepala jatuh merosot ke lantai.
Ia menyandarkan tubuhnya di sisi pintu, menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya di lutut. Dia sangat lelah, sungguh.
Dia lelah berkali-kali diingatkan tentang seberapa lemah dirinya dan seberapa banyak kekurangan yang ia miliki. Mulai dari Almaira, rumor di pondok, dan sekarang Bibi Mei... mereka semua mengatakan bahwa ia memiliki kekurangan fatal.
Ustad Vano tidak akan puas, Ustad Vano tidak bahagia hidup bersamanya!
Ai..
Ai menolak untuk percaya namun dia juga ikut merasakannya karena selama berhubungan suami-istri sejak satu minggu yang lalu, selalu Ai lah yang menawarkan diri sedangkan suaminya tidak pernah mengatakan apa-apa bahkan memintanya!
__ADS_1
Ai tahu begitu besar amal yang akan ia terima bila mengambil inisiatif untuk membujuk sang suami melakukan ibadah, namun setelah diingatkan hari ini dia mulai berpikir bahwa apakah Ustad Vano sebenarnya tidak puas hidup bersamanya?