Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
33. Posisi Yang Sulit


__ADS_3

Di dalam perjalanan pulang dari mansion keluarga Ustad Vano dan Arka, suasana mobil tidak seceria tadi pagi. Ai dan Asri duduk di kursi belakang saling bersandar dengan kedua tangan berpegangan. Mereka diam membisu dalam luka basah di hati masing-masing, berbagi setitik rasa hangat dengan saling berdekatan. Padahal kedua mata mereka sudah beberapa kali berair, terlihat merah seperti seorang yang mengantuk tapi nyatanya mereka tidak mengantuk.


Mereka menahannya dalam diam, terkadang mata-mata mereka akan menoleh menatap ke luar jendela mobil. Menyaksikan langit sore perlahan berganti menjadi langit malam.


Dan namun mereka lebih banyak memejamkan kedua mata, menikmati rasa sunyi dan kesepian yang tercipta di hati-hati masing-masing.


"Apa kalian berdua ingin mampir sebentar di restoran untuk makan malam?" Ustad Vano menoleh ke belakang, bertanya kepada Ai dan Asri yang tidak pernah mengeluarkan suara sekalipun di dalam mobil.


Tidak ada yang aneh sebenarnya. Ia dan Arka pikir diamnya mereka adalah karena mereka kelelahan setelah sibuk beraktivitas di rumah Kakek.


"Tidak perlu, Mas. Kita langsung saja pulang ke rumah." Ai menolak secara langsung.


Aneh,


Kemarin-kemarin Ai akan bertanya dulu bagaimana pendapatnya sebelum membuat keputusan. Tapi kenapa kali ini langsung menolak tanpa meminta pendapatnya sebagai suami seperti sebelum-sebelumnya?


"Kamu dan Asri sepertinya sangat lelah," Ujarnya seraya menghela nafas panjang namun tidak digubris oleh Ai.


Ini sangat disayangkan.


"Kita pulang saja Paman karena mereka seperti sangat kelelahan." Katanya kepada Arka yang kini tengah sibuk menyetir.


Arka melirik kaca spion, melihat wajah terpejam Asri sebelum kembali fokus menatap jalanan di depannya.


"Hem."


Arka lalu menurunkan kecepatan mobil agar tidur istrinya dan istri keponakannya tidak terganggu. Untuk kenyamanan mereka sesekali ia akan melihat kaca spion untuk memastikan apakah mereka terganggu atau tidak.


Hal ini juga tidak jauh berbeda dengan situasi Ustad Vano. Kedua kakinya sedari tadi gatal ingin pindah posisi duduk ke kursi belakang untuk menemani istrinya. Bahkan, dalam waktu singkat ia berkali-kali membayangkan kedua tangannya membawa tubuh Ai ke dalam pelukannya, mendekap Ai hangat agar tidak merasakan dinginnya malam.


Mereka ingin duduk bersama istri masing-masing namun naas, keinginan ini tidak bisa mereka wujudkan karena sejak masuk ke dalam mobil tadi, Ai dan Asri langsung memposisikan diri mereka di kursi belakang.


Mereka tidak pernah berbicara atau bahkan mengajak suami masing-masing untuk mengobrol, mereka tidak melakukan itu semua.


Ini dosa, jauh di dalam hati mereka menyadari betul jika ini adalah sebuah perbuatan dosa. Sengaja mengabaikan suami sudah tentu bukanlah perbuatan yang baik.


Namun apa yang harus mereka lakukan?


Suasana hati mereka benar-benar kacau saat ini, mereka tidak di dalam kondisi bisa berpikiran jernih seperti biasanya karena setiap kali mengingat kejadian hari ini dan setiap kali mengingat kata-kata mereka, hati mereka kesakitan.

__ADS_1


Ingin menangis tapi juga tidak bisa.


Posisi mereka benar-benar sulit.


🍃🍃🍃


Perjalanan singkat menjadi lama karena karena kecepatan mobil sengaja di turunkan. Di samping itu jalanan juga mengalami macet karena ada perbaikan jalan, alhasil banyak waktu yang harus terbuang banyak di jalan.


Namun, setengah jam kemudian mereka berhasil sampai ke rumah dengan selamat. Sesampai rumah, Ai dan Asri langsung bangun tanpa perlu menunggu dibangunkan.


Mereka hanya mengucapkan beberapa patah kata kepada suami masing-masing dan masuk lebih dulu ke dalam rumah. Di dalam rumah Mega telah lama menunggu kepulangan mereka dan segera menarik kedua sahabatnya ini ke ruangan santai untuk berbicara.


Dia sangat penasaran apa yang kedua sahabatnya lakukan selama di rumah keluarga Ustad Vano dan Arka.


"Kemari lah, ceritakan kepadaku apa saja yang kalian berdua lakukan di sana?"


Ai dan Asri saling menatap, tersenyum kecil Ai lalu menjawab,"Ini sangat menyenangkan. Kami bertemu dengan anggota keluarga besar, berkenalan dengan mereka, makan siang bersama, dan kami juga...bermain dengan anak-anak." Ini adalah cerita yang menyenangkan, seharusnya terdengar seperti itu.


Tapi Ai mengatakannya dengan senyuman paksaan sehingga memberikan kesan bila hari ini tidak berjalan baik.


"Benarkah?" Mega meragukannya.


"Itu benar, Ga. Hari ini sangat menyenangkan." Asri meyakinkan.


"Memangnya kenapa dengan wajah kami...hoam..." Ai menutup mulutnya karena tiba-tiba menguap.


Tampaknya ia sangat mengantuk.


Mega menghela nafas panjang, dia tidak lagi membahas topik pembicaraan ini dan memutuskan untuk membiarkan kedua sahabatnya beristirahat.


Ai dan Asri mengucapkan selamat malam kepada Mega sebelum berpisah kembali ke kamar masing-masing.


Setelah berpisah di tangga dengan Asri, ia segera masuk ke dalam kamar dan tidak menemukan keberadaan Ustad Vano di dalam. Suaminya pasti masih di bawah mengobrol dengan Ustad Azam dan Arka, jujur ia bersyukur tidak bertemu dengannya.


"Aku harus membersihkan diriku dulu dan kemudian tidur." Gumamnya seraya membawa baju ganti ke kamar mandi.


Setelah menyelesaikan acara mandi dan telah berganti baju, Ai lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Menarik kain selimut hangat hingga menutupi sebagian besar tubuhnya.


Dia mengatakan ingin tidur tapi kedua matanya enggan terpejam. Ia belum mengantuk dan tidak ada tanda-tanda mengantuk.

__ADS_1


Padahal dari fisik maupun hatinya hari cukup lelah.


Cklack


Pintu kamar dibuka oleh suaminya. Ai buru-buru memejamkan kedua matanya pura-pura sudah tidur.


"Aishi?" Panggil suaminya lembut tapi tak digubris.


Suaminya lalu menutup pintu kamar, lalu dengan langkah ringan ia berjalan mendekati sisi kanan ranjang tempat Ai tertidur.


"Sayang?" Panggilnya lagi tapi masih tidak mendapatkan jawaban dari Ai.


Ustad Vano menghela nafas panjang, ia menundukkan kepalanya mengusap puncak kepala Ai dengan sayang.


"Kamu kayaknya capek banget ya, sayang?" Bisik Ustad Vano di depan wajah Ai.


Mengelus puncak kepala istrinya penuh kasih sebelum menunduk untuk mengecup kening Ai lama.


"Mimpi indah, sayang." Bisiknya dengan suara rendah yang sarat akan perhatian lembut.


Ustad Vano lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum pergi menyusul istrinya ke dalam dunia mimpi.


Sedangkan sang istri yang ingin ia susul kini sudah bangun- ah, lebih tepatnya dia tidak berpura-pura lagi.


"Maafkan aku, Mas." Bisiknya merasa sangat bersalah.


Tapi apa yang harus ia lakukan?


Suasana hatinya saat ini benar-benar kacau dan tidak ingin diganggu.


Suasana ini juga dialami oleh Arka. Biasanya Asri pasti akan menunggunya masuk untuk tidur bersama sengantuk apapun ia. Ini sudah menjadi kebiasaan sejak awal pernikahan mereka. Namun malam ini mengejutkannya karena saat masuk ke dalam kamar Arka menemukan jika Asri sudah tertidur.


Dia tidur lebih dulu tanpa menunggu kedatangannya.


"Mungkin dia kecapean." Gumam Arka membuat alasan untuk dirinya sendiri.


Padahal ada sesuatu yang ingin Arka bicarakan dengan Asri tadi. Ini menyangkut pembicaraannya dengan keluarga di mansion tadi siang. Dia harus segera membicarakannya dengan Asri untuk membuat keputusan. Karena tidak adil rasanya membuat keputusan sepihak tanpa mendengarkan terlebih dahulu pendapat Asri, istrinya.


Dan Arka pikir pun seharusnya malam ini mereka bisa menyelesaikan pembicaraan, namun siapa yang tahu jika istrinya sudah terbang ke alam mimpi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa," Gumamnya seraya merenggangkan otot-ototnya yang agak kaku.


"Masih ada banyak kesempatan untuk membicarakannya besok."


__ADS_2