Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 103


__ADS_3

"Hamil?" 


Seketika aku mematung di tempat. Kedua tanganku yang sempat mengudara akan menyentuh punggung tegap suamiku membeku di udara. Aku mengerjap menolak percaya- tidak, lebih tepatnya aku masih meragukan apa yang baru saja aku dengar dari mulut suamiku langsung. 


Rasanya bagaikan mimpi, pikir ku.


"Benar sayang," Tangan besar Mas Vano menangkup wajahku, memaksaku mendongak menatap wajah tampan tanpa cela yang sudah lebih dari dua bulan ini ku lihat sebelum tidur dan setelah bangun tidur.


"Mas," Aku tahu bila suaraku terdengar bergetar saat ini.


Ini memalukan bukan?


Namun, aku tidak kuasa menahannya karena ini adalah reaksi alami tubuhku. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang, ada bahagia juga ada rasa melankolis takut bila harapanku hanyalah sekedar harapan.


Karena rasanya akan sangat sakit bila sampai terjatuh.


"Kamu hamil istriku, kamu hamil." Kata Mas Vano menegaskan sekali lagi bahwa dari sejak awal aku tidak pernah salah mendengar.


Dia memang mengatakan bila aku hamil, aku hamil ya Allah...aku hamil.


"Mas Vano..." Pandanganku menjadi buram, kedua tanganku yang tadinya membeku di udara kini perlahan turun. Tidak lagi menyentuh punggung suamiku tapi beralih menyentuh kain baju suamiku. Aku memegangnya erat, mencoba mengontrol perasaan bahagia yang kini tengah mengamuk di dalam hatiku.


Allahu Rabbi, nyata kah semua ini ya Rabb..


Nyata kah semua yang aku dengar hari ini. Baru saja suamiku mengatakan lebih dari dua kali bahwa aku hamil, aku kini sedang mengandung darah daging Mas Vano. 

__ADS_1


Ya Allah, di dalam rahimku kini ada benih dari Mas Vano, apakah semua ini bukanlah mimpi, ya Allah?


"Jangan menangis." Katanya memohon.


Ibu jari Mas Vano bergerak ringan menyentuh kulit wajahku, dia mengusap lelehan air mata yang tidak bisa ku bendung lagi dengan ibu jarinya. Gerakannya begitu lembut dan ringan, seakan-akan tangan besarnya bisa saja membuat kulit wajahku tergores.


"Mas Vano juga jangan menangis." Tangan bergetar ku berusaha terangkat menyentuh wajah tampannya, tapi tidak, tanganku rasanya sangat lemas dan sulit ku kendalikan. Aku tidak bisa menjangkau wajah suamiku padahal hatiku sangat ingin mengusap wajah suamiku, membantunya menghapus cairan hangat yang telah begitu lancang meluap dari sudut mata almond nya.


Tangan Mas Vano lalu menjangkau tangan bergetar ku, mengecupnya ringan sebelum membawa tanganku untuk menyentuh wajahnya.  Dia membantuku menahan tanganku dengan sorot mata lembutnya yang tidak pernah gagal membuat jantung ku berpacu cepat.


Ya Allah, Mas Vano memintaku untuk jangan menangis tapi kini ia sendiri menangis di hadapan ku. Dia menangis dengan senyuman lebar terbentuk apik di wajah tampannya. 


"Jangan menangis, Mas." Kataku memohon.


Jujur, aku tidak kuasa melihat suamiku yang selama ini selalu berdiri gagah melindungi ku kini tengah menatapku dengan wajah berurai air mata.


Nama lengkap ku telah berulangkali Mas Vano panggil entah itu ketika sedang marah ataupun sedang bahagia seperti ini, dia selalu suka memanggil nama lengkap ku dan jujur, aku juga menyukai kebiasaan Mas Vano ini. Sensasinya jauh lebih mendebarkan di dalam hatiku.


"Bagaimana aku tidak menangis istriku? Lagi-lagi Allah menepati janji-Nya kepada kita berdua. Dia mengirimkan makhluk mungil itu ke dalam rahim mu, memberikan kita sebuah amanah yang awalnya tidak pernah terbayangkan akan hadir di tengah-tengah kita, maka bagaimana mungkin aku tidak menangis untuk semua nikmat yang telah Allah berikan kepada keluarga kecil kita? Aku bahagia istriku, aku sungguh sangat bahagia!"


Ia menarik ku ke dalam pelukannya, memelukku sangat erat dengan isak tangis terendam. Meskipun pelukan Mas Vano sangat erat tapi aku masih bisa merasakan kehati-hatian Mas Vano terhadap perutku. Dia tidak menekannya agar menempel erat di tubuhnya seperti biasa, kali ini ada sedikit ruang untuk perutku bernafas.


"Mas Vano, apa aku benar-benar hamil?" Tanyaku masih sulit mempercayainya.


Mas Vano perlahan melepaskan pelukan kami namun salah satu tangannya tidak pernah meninggalkan pinggangku. Tangan kiri Mas Vano melingkari pinggang ku erat sementara tangan kanannya mengambil sesuatu dari saku bajunya. Hanya dalam beberapa detik kemudian Mas Vano mengeluarkan sesuatu dari dalam saku baju, lalu ia menunjukkannya di depan ku dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.

__ADS_1


"Tespek... yang tadi subuh ku gunakan?" Tanyaku dengan suara yang lagi-lagi bergetar.


Mas Vano tanpa ragu menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan ku, tangan besarnya masih terulur menunjukkan 7 batang tespek dari merek berbeda-beda yang kini telah dinodai dua garis merah terang, sangat mencolok dan tampak jelas tanpa sedikitpun keraguan.


"Mas... aku.." Aku kesulitan mengatakan apa yang ingin aku katakan.


Pelupuk mataku mulai dibanjiri lagi oleh air mata hangat yang tidak bisa ku bendung, lalu sedetik kemudian air mataku tumpah kembali membasahi pipiku.


Aku terisak bahagia di depan suamiku sendiri, malu rasanya, aku ingi berpaling membelakanginya tapi Mas Vano tidak mengizinkan aku melakukan itu. Dia menarik ku masuk ke dalam pelukannya kembali. Tidak ada yang berbicara diantara kami berdua namun aku tahu bahwa air mata dan suara detak jantung kami adalah sebuah bukti bahwa kami berdua sangat berbahagia.


Ya Allah, aku sungguh bahagia. Aku sungguh sangat bahagia.


"Ini nyata, Mas?" Tanyaku dengan isak tangis tertahan.


Ku rasakan tangan besar Mas Vano menyentuh puncak kepalaku sayang,"Ini nyata istriku, nikmat Allah ini nyata dan janji Allah ini nyata. Harapan dan doa kita selama ini telah di dengar oleh Allah, dan Dia tidak mengecewakan kita, Dia hadirkan buah hati ke dalam rahim mu, wahai Aishi Humaira."


Aku meremas kuat pakaian suamiku menahan perasaan bahagia yang terus saja meluap-luap di dalam hatiku.


"Allah tidak pernah meninggalkan kita, Mas."


Dia mengangguk ringan,"Inshaa Allah, Dia tidak pernah meninggalkan kita."


Selama menikah dengan Mas Vano, dia selalu menekankan kepadaku bahwa ada Allah, janji Allah pasti jadi kami harus menyerahkan semuanya dan tetap berdoa kepada Allah karena Dia tidak akan mengecewakan hamba-Nya.


Kata-kata penguat ini telah berulangkali aku dengar dari Mas Vano, entah itu pagi, siang ataupun malam ketika kami hanya berdua saja di dalam kamar. Dia selalu mengingatkan aku bahwa kami seharusnya tidak perlu putus asa, tidak perlu bersedih, dan tidak perlu merasa rendah karena Allah senantiasa bersama kami. 

__ADS_1


Allah tidak pernah meninggalkan kami dan hari inipun tiba, semua kepercayaan Mas Vano terbukti bahwa selama ada Allah apapun di dunia tidak akan pernah menjadi mustahil.


__ADS_2