
"Capek, hem?" Tanya Arka di samping.
Ia menarik Asri ke dalam pelukannya, memeluk tubuh ramping itu untuk memberikan kehangatan. Sedangkan tangan kanannya bergerak menggenggam tangan kanan Asri, jari-jari panjangnya yang halus karena tidak pernah digunakan melakukan pekerjaan kasar mengelus ringan telapak tangan Asri. Ia merasakan telapak tangan Asri agak kasar dibandingkan dengan tangan perempuan-perempuan di luar sana.
"Capek, Mas!" Keluh Asri cemberut.
Padahal dia sudah mengatakan ingin berhenti akan tetapi suaminya tidak mau mendengarkan permintaannya sampai akhirnya ia tidak berani melakukan gerakan besar karena beberapa bagian di tubuhnya akan terasa sakit.
"Aku minta maaf, sayang. Aku tidak bermaksud membuat kamu tidak nyaman, hanya saja ini adalah hukuman untukmu karena telah berani meminta cerai kepadaku." Katanya seraya mengecup pundak lembut istrinya.
Sebagai seorang laki-laki tentu saja dia ingin bersikap seperti lelaki sejati di depan istrinya. Dia tidak akan mungkin memaksa istrinya untuk pengalaman pertama ini. Akan tetapi sebagai seorang laki-laki yang berkomitmen dia juga tidak ingin membiarkan istrinya bertindak sesuka hati mengenai masalah hubungan mereka, apalagi sampai berani meminta cerai, masalah ini jelas sangat serius.
Oleh karena itu dia menggunakan pengalaman pertama mereka sebagai hukuman untuknya, agar Asri mengerti bahwa pernikahan mereka bukanlah sebuah lelucon yang bisa diselesaikan dengan masalah kekanak-kanakan.
__ADS_1
Ada rona merah di wajah Asri, namun meskipun begitu ia masih saja cemberut.
"Ini karena Mas Arka yang telah membohongiku! Mas Arka bilang akan pergi bekerja ke kantor tapi tau taunya Mas Arka malah pergi ke bandara untuk menjemput kekasih lama. Apa Mas Arka gak mikir gimana perasaan aku saat mengetahui semua itu?" Ada nada kecewa di dalam suaranya.
Istri mana yang tidak akan kecewa melihat suaminya pergi bertemu dengan kekasih lama?
Setiap wanita yang mengharapkan pernikahan serius pasti akan kecewa. Dan ini juga berlaku untuk Asri. Dia kecewa bahkan amat sangat kecewa ketika mengetahuinya. Melihat foto sang suami sedang bergandengan tangan dengan kekasih lama, sungguh, betapa hancur hatinya saat itu.
"Pergi ke bandara?" Arka mengernyit tidak mengerti.
"Ya, tidak hanya pergi ke bandara untuk menjemput kekasih lama, tapi Mas Arka juga membawanya pergi berkencan seharian. Kalian pergi bersama menonton di bioskop dan entahlah, aku tidak tahu lagi apa yang kalian lakukan sebelum dan sesudah itu."
Arka kian bingung. Bagaimana mungkin ia pergi ke bandara untuk menjemput... siapa, ah.. kekasih lama entah siapa yang dimaksud. Padahal jelas-jelas ia saat itu ada di kantor sedang berdiskusi dengan Ayah dan beberapa pejabat senior penting perusahaan lainnya.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih, Asri? Siapa yang pergi ke bandara? Jelas-jelas aku ada di perusahaan bersama Ayah hari itu. Apalagi berkencan, bagaimana mungkin aku bisa memiliki waktu untuk berkencan disaat perusahaan kita sedang dalam situasi yang sangat sibuk?" Kata Arka tidak mengerti.
Istrinya jelas-jelas mengatakan tuduhan yang tidak mendasar. Dia tidak mungkin berbohong kepada istrinya, untuk apa coba?
"Mas Arka berbohong lagi- astagfirullah, sakit!" Keluh Asri seraya memegang pinggangnya.
Karena kesal dia tanpa sadar membalik tubuhnya berhadapan langsung dengan sang suami- dan tentu saja ia lupa jika situasi saat ini sedang tidak baik sehingga ketika melakukan gerakan besar seperti tadi, tubuhnya akan terasa nyeri.
"Sakitnya dimana?" Arka bertanya perhatian.
"Di sini?" Tanya Arka sembari menyentuh pinggang Asri.
Asri tidak menjawab karena masih marah kepada Arka, dia merasa cukup sulit berbicara dengan suaminya yang mencoba membohonginya lagi. Dia tidak bisa menerima kesalahan yang sama.
__ADS_1
"Makanya kamu jangan banyak gerak dulu, jadi sakit'kan sekarang?" Kata Arka perhatian dengan nada suaranya yang lembut.